
"Hidup pasti banyak rintangan, kalo banyak rantangan berarti kateringan."
"Hah, kamu sudah bangun."Tary terkejut saat tangan Zainel menyetuh tangannya.
"Sudah, sebaiknya kamu pulang.Kasihan baby Jane kalau bangun tidur kamu tidak berada di samping nya."
"Baiklah aku pulang, lagian suhu hangat di tubuh kamu sudah turun."Tary menarik tangannya dari kening Zainel.
Setibanya Tary di dalam kamarnya, dia hanya melihat baby Jane seorang diri masih tertidur dengan nyenyak di atas tempat tidur.
Nenek kemana?
Kenapa tidak ada di dalam kamar?
"Tar."Nenek memegang pundak Tary.
"Eh, iya nenek."Tary merasa ada sebuah tangan yang memegang pundaknya lalu dia menoleh kebelakang.Dia mendapati nenek berdiri di belakang nya.
"Zai kenapa tadi malam?" Raut wajah nenek terlihat khawatir mengingat tadi malam Zai menyebut nama Tary.
"Demam nenek."
"Terus sekarang bagaimana keadaan Zai?"
"Alhamdulillah hangat tubuhnya sudah turun, nek apa aku boleh minta tolong?"
"Mau minta tolong apa?"
"Aku mau beli sarapan dan obat buat Zai, nenek tolong jaga baby Jane sebentar."
"Baiklah, nenek aku pamit dulu cari sarapan dan obat Zai." Tary berpamitan kepada nenek hendak pergi.
"Tar sebaiknya cuci muka dan gosok gigi dulu sebelum pergi, ganti juga pakaian masak mau pergi pakai baju piayama."
"Hehehe, iya juga nenek.Terimakasih udah ngingatin aku." Tary tersenyum cengengesan.
Setelah cuci muka dan gosok gigi, Tary berganti pakaian memakai baju kaos oblong dan celana training panjang nya di bawah lutut.Tary berpamitan kepada nenek lalu dia memakai jaket berwarna navy. Tary mengendari motor sport berwarna biru.
Bruuumm Bruuumm Bruuumm
Tary menarik gas motornya sehingga motor yang dia kendarai melaju kencang saat melewati jalan komplek perumahan.Dia tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang tidak menyukai dirinya.
Nah kalian lihat kan
Si Tar anak pak Dikin dan buk Eli
Tidak punya sopan santun bawa motor ngebut
Kayak jalan komplek perumahan ini milik bapaknya saja
Mana tadi itu Dia melihat kita tetapi dia tidak menyapa kita
Sombong benar tuh anak
__ADS_1
Mentang-mentang anak pak Dikin dan Ibuk Eli
Kalau bukan anak mereka tuh anak pasti sudah di datangin pak Rt
Motor yang Tary kendarai sudah berada di jalan raya, Tary melajukan motor sport dengan kecepatan tinggi di jalan rays.Motor yang Tary kendarai sudah tiba di depan sebuah Apotik. Tary memikirkan motornya di depan apotik, lalu dia turun dari apotik.
Tary sudah berada di dalam apotik dia berdiri di depan etalase kaca.
"Mau cari apa kak?" Tanya apoteker.
"Obat demam."
"Buat siapa?"
"Ya buat orang lah, masak buat kucing."Ketus Tary.
"Maksud saya itu buat anak -anak atau dewasa kak?"
"Maka ngomong yang jelas, buat dewasa."
"Apa ada gejala lain selain demam?"
"Tidak ada."
"Tunggu sebetar saya buatkan dulu resepnya."Setelah mengatakan itu si apoteker meninggalkan Tary seorang diri.
Lima menit kemudian si apotek sudah datang sambil membawa obat-obat dalam bentuk tablet.
"Iya."
"Jangan lupa suruh dia banyak minum air putih dan istirahat."
"Iya."
Tary keluar dari apotik dengan menenteng kantong plastik yang berisikan obat untuk Zainel.Tary kembali melajukan motor sport milik nya dengan kecepetan tinggi.Tary menyalip semua kendaraan yang berada di depan nya.
Hanya butuh waktu lima menit Tary sudah berada di simpang komplek perumahan nya. Tary memberhentikan motornya di dekan gerobak tukang bubur. Tary memikirkan motornya lalu dia turun dari motor sambil memegang kantong plastik.
"Selamat pagi Ibuk-ibuk." Tary sudah berada di belakang Ibuk-ibuk yang sedang mengantri membeli bubur.
Mereka menoleh kebelakang mendapati Tary yang sedang berdiri sambil tersenyum kepada mereka.Ibuk-ibuk malah membuang. muka ketika mengetahui orang menyapa mereka itu Tary.
Sebenarnya apa sih salah ku?
Kenapa Ibuk-ibuk komplek menatap muka ki seperti jijik?
Padahal aku tidak pernah melakukan hal-hal yang memalukan sehingga membuat mereka jijik kepada ku
Ah sudah lah gak usah di pikirkan, yang penting sekarang aku pesan bubur buat makan kami
Ibuk-ibuk yang tadi berdesakan di depan abang tukang bubur mulai beranjak pergi meninggalkan Tary dan abang tukang bubur.
Kenapa mereka pergi?
__ADS_1
Ah sudah gak usah di pikirkan
Kan malah bagus kalau mereka pergi
Aku gak perlu ngantri
"Abang ada bubur apa saja?"
"Bubur kacang hijau, bubur ketan hitam dan bubur sumsum.Mau beli bubur apa?"
"Bungkus ketiganya abang."
"Iya."
Saat Tary mengendarai motornya mendekati rumah kontrak Zainel, dia melihat mobil honda jazz berwarna putih sudah terpakir di halaman rumah kontrakan tersebut.Tary terus melajukan motor melewati rumah kontrak.
Tary sudah tiba di depan rumahnya, dia memakirkan motornya lalu dia turun dari motornya.Pintu rumah Tary terbuka nenek berjalan keluar sambil mengendong baby Jane yang sedang menangis.
Hoek
Hoek
Hoek
Nenek sambil mengendong baby Jane sudah berada di teras rumah Tary.
"Sudah sudah baby Jane gak boleh nangis." Tary meletakkan kantong plastik di atas meja lalu dia mengendong tubuh baby Jane.
Seketika baby Jane berada di gendongan Tary maka baby Jane pun berhenti menangis.
"Tar, ini apa?" Nenek melihat ke arah kantong plastik yang berada di atas meja.
"Itu obat buat Zaza, serta bubur buat sarapan. Nenek pasti belum sarapan, maka nya aku belikan buat nenek, kakek dan Zaza.Ambil aja nenek."
"Tar tahu aja nenek dan kakek belum sarapan, ya udah nenek ambil."
"Nenek dan kakek sarapan saja duluan aku mau kerumah Zaza dulu. " Tary mengendong baby Jane sambil membawa kantong plastik yang berisi obat dan bubur untuk sarapan Zainel.
Tary dan baby Jane sudah tiba di depan pintu rumah Zainel yang terbuka.
"Assalamu'alaikum."Setelah mengucapakan salam Tary berjalan sambil mengendong baby Jane ke dalam rumah Zainel.
Saat Tary sudah berada di dekat kamar Zainel Tary mendengar suara seorang perempuan yang sudah pernah terdengar di telinga Tary. Tary dan baby Jane sudah tiba di depan pintu kamar Zainel yang terbuka.
Tary melihat pemandangan yang membuat hatinya begitu panas seperti terbakar. Nah aneh kan pacaran bukan tapi hati Ry panas ketika melihat Zainel berduaan di dalam kamar dengan seorang yang wajahnya tidak kelihatan.
Tetapi dari postur tubuh si perempuan Tary yakin seratus persen bahwa perempuan itu Fitri.
"Huft." Tary menarik nafas dulu sebelum masuk, setelah itu baru lah dia melangkah masuk.
"Pagi sayang."
~ Bersambung ~
__ADS_1