PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Bertemu Bibik


__ADS_3

"Kenapa sapi qurban harus jantan? karena kalau yang betina jangankan berkorban, ngaku salah saja susah."


Tary merasa familiar mendengar suara seorang yang memanggil namanya, Tary membalikkan badanya untuk melihat orang yang memangigil namanya.


"Bibik." Tary terkejut saat melihat si wanita yang berdiri di hadapan dengan memakai seragam berwarna putih.


"Hah kamu sudah punya, apa kamu hamil di luar nikah?" Si wanita itu merupakan bibik dari Tary, dia berprofesi sebagai bidan. Bibik melihat Jane yang berada di dalam gendongan Tary.


"Tidak, ini bukan anak aku bibik." Tary berbicara sambil mengelengkan kepalanya.


"Lah, kalau bukan anak kamu. Kenapa itu bayi berada dalam gendongan kamu?" Bibik tidak mempercayai ucapan Tary.


"Aku di suruh ngurusin nih bayi bibik."


"Memangnya kemana orang tua bayi ini?"


"Aku gak tahu bibik.


" Lah, kenapa kamu bisa gak tahu?"


"Bukan aku yang nemuin bayi ini."


"Memangya siapa yang menemukan bayi ini?"


"Saya menemukan bayi ini." Zainel angkat berbicara.

__ADS_1


"Apa kamu pacar Tar?" Bibik berbicara sambil melihat dari ujung kaki Zainel sampai ujung rambutnya.


"Dia bukan aku bibik."


"Bibik tanya dia kenapa malah kamu yang jawab?"Bibik berbicara dengan nada yang tidak kepada Tary.


"Aku tidak ingin bibik penasaran maka nya aku langsung jawab."


"Apa hubungan kamu dengan Tar keponakan aku?" Bibik berbicara sambil menatap ke arah Zainel.


"Kami hanya berteman bibik."


"Yakin kalau kalian hanya berteman, nama kami siapa?" Bibik tidak mempercayai ucapan Zainel.


"Perkenakan nama saya Zainel bibik."Zainel menyalim punggung tangan Zainel.


"Tidak ada yang mau mengurus bayi ini, makanya kami mengurus nya."


"Apa dia bisa mengurus bayi ini? sedangkan untuk mengurus dirinya sendiri tidak bisa." Bibik meragukan Tary bisa mengurus bayi, Tary merupakan putri bungsu dari kedua orang tuanya sehingga Tary begitu di manja oleh kedua orang tuanya.Semua kebutuhan Tary dari kecil hingga dewasa di urus oleh mamanya.


"Bisa bibik." Zainel dan Tary serentak berbicara.


"Buk bidan semenjak ada baby Jane, Tar sudah berubah tidak manja lagi. Bahkan mereka sudah terlihat seperti pasangan suami istri yang kompak dalam mengurus baby Jane."Seorang ibu yang berada di depan balai warga yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka pun angkat bicara.


"Kenapa kalian tidak nikah saja?" Bibik melihat ke arah Zainel dan Tary bergantian.

__ADS_1


"Aku belum mau menikah bibik."


"Kenapa kamu belum mau nikah?"


"Aku mau menikmati masa mudaku dulu."


"Buk bidan sebaiknya kita mulai posyandu." Buk Rt yang baru tiba di sana, mengingatkan bibik untuk memulai posyandu.


"Mari kita masuk ke balai warga buk Rt." Bibik mengajak buk Rt untuk masuk ke balai warga.


Mereka sudah berada di dalam balai warga, bibik dan buk Rt duduk di bangku yang berada di. hadapan semua orang. Mereka sudah memulai posyandu dengan memangigil satu persatu bayi atau balita di sana.


"Bibik, baby Jane duluan ya." Tary menghampiri bibik, dia sudah berdiri di depan meja bibik nya.


"Tar harus antri." Bibik menolak Tary yang ingin menyerobot antrian.


"Bibik plis dong baby Jane duluan." Tary dengan wajah memelas meminta kepada bibiknya agar baby Jane menjadi pertama di beri imunisasi.


"Ooo, tidak bisa seperti itu Tar. Masak kamu yang baru datang dapat giliran pertama." Si ibuk yang terlebih dahulu datang tidak terima karena Tary meminta baby Jane mendapatkan imunisasi pertama.


"Dimana-mana kamu harus antri." Si ibuk yang lain mengatakan kepada Tary untuk antri.


"Sudah sudah sudah, sebaiknya kita ikut antrian saja." Zainel menghampiri Tary, dia meminta Tary untuk mengikuti antrian.


Mereka kembali duduk di bangku yang kosong. Mereka duduk di bangku yang berdekatan sambil menunggu nama Jane di panggil. Tary melihat bayi yang di imunisasi menangis karena di suntik, membuat Tary merasakan kan gelisah.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Zainel melihat gestur tubuh Tary terlihat gelisah.


... ~ Bersambung ~...


__ADS_2