
"Sekali-kali pamer hutanglah jangan cuma pamer harta doang, ingat harta gak di bawa mati tapi kalau hutang sudah jelas di bawa mati."
Fitri melihat seorang yang terus berjalan mendekati ke arahnya. Saat seorang itu sudah berada di hadapan nya.
"Kamu." Fitri menatap wajah seorang yang berdiri di hadapan nya.
"Ibuk." Si orang tersebut juga melakukan hal sama seperti Fitri, yaitu dia berbicara sambip menatap wajah Fitri lalu dia berpindah memandangi mata Fitri.
"Kamu kenapa bisa aja di sini?" Fitri juga memandangi mata si orang tersebut sehingga manik mata mereka bertemu.
"Ibuk juga kenapa bisa berada di sini dengan pakaian seperti itu?" Si orang tersebut bertanya balik kepada Fitri sambil melihat ke arah pakaian Fitri, si orang tersebut melihat pakaian yang di kenakan Fitri begitu minim sehingga mempertontonkan lekukan tubuhnya.
"Memangnya kenapa kalau aku berada di sini dengan menggunakan pakaian seperti ini?"
"Astagfirullah, kenapa ibuk masih bertanya?" Si orang tersebut membuang wajahnya agar tidak melihat ke arah Fitri.
"Saya itu bukan ibuk kamu, jadi kamu jangan panggil aku ibuk."Fitri merasa tidak suka mendengar panggilan ibuk yang di berikan si orang tersebut.
"Lagian umur ibuk di atas saya, selain itu ibuk merupakan atasan tempat saya bekerja di hotel S." Si orang tersebut berbicara tanpa menoleh ke arah Fitri tersebut.
"Kalau di tempat kerja kamu boleh memanggil saya dengan sebutan ibuk sedangkan kalau kita berada di luar seperti saat ini kamu bisa memanggi nama saya."
"Saya tidak bisa buk."
"Kenapa tidak bisa?"
"Saya merasa sungkan kalau memanggil nama, terkesan tidak sopan." Si orang tersebut memberitahukan alasannya dia tidak bisa memanggil nama Fitri.
"Ini perintah, kalau kamu tidak mau memanggil nama saya saat kita bertemu di luar. Maka saya potong gaji kamu." Fitri mengancam si orang tersebut kalau tidak mau memanggil namanya saat bertemu di luar.
"Baiklah buk, eh salah maksud saya Fitri. " Si orang tersebut merasa ketakutan dengan ancam dari Fitri sehingga dia akan menuruti permintaan Fitri, saat dia sudah setuju dia malah menyebut ibuk. Sehingga si orang tersebut segera menganti dengan sebutan nama Fitri.
"Nah gitu dong, kamu mau kemana?" Fitri tersenyum mendengar si orang tersebut memanggil nama nya."
"Pulang." Si orang tersebut berjalan melewati Fitri dengan menundukkan kepalanya.
"Rumah kamu dimana?" Fitri membalikkan badan lalu dia melihat ke arah si orang tersebut terus saja berjalan tanpa menoleh kebelakang sehingga Fitri hanya bisa melihat punggung si orang tersebut yang lebar.
Fitri terus saja melihat ke arah punggung si orang tersebut, hingga punggung si orang tersebut sudah tidak terlihat lagi barulah Fitri mulai melangkah kakinya ke arah jalan yang tadi dia lewati. Fitri sedang berjalan melintasi jalan yang tadi dia lewatinya, saat dia tiba di depan pepohonan di berhenti berjalan lalu dia mengangkat wajahnya melihat ke atas langi
Fitri memandangi bulan purnama sambil tersenyum, dia merasa bahagia bisa bertemu dengan seorang yang tadi siang dia ajak makan siang di restauran hotel S.
Hari-hari terus saja berlau sehingga tidak terasa sudah seminggu berlalu, selama seminggu itu Fitri terus saja mendekati Zainel. Berbagai macam cara telah di lakukan Fitri agar bisa mendekati Zainel tetapi semua usaha yang Fitri lakukan gagal. Usaha Fitri belum berhasil mendekati Zainel.
Malam harinya terdengar suara deringan yang berasal dari ponsel Zainel, sang pemilik ponsel sudah masuk sudah tertidur dengan baby Jane di atas tempat tidur. Akhirnya suara deringan ponsel tersebut berhenti lalu kembali berbunyi lagi hingga sampai beberapa kali tetapi pemilik ponsel tidak terbangun.
__ADS_1
Tek......... Tek
Suara yang berasal dari sendok yang di pukul ke dalam mangko sehingga menimbulkan bunyi seperti. Tary yang sedang berada di teras rumahnya melihat ke arah sumber suara tersebut, dia melihat sebuah gerobak yang berhenti di depan rumah kontrakkan milik mama nya.
Tary yang penasaran dengan gerobak tersebut menghampiri gerobak tersebut.
"Pakde jualan apa?" Tary sudah berada di depan gerobak tersebut.
"Bakso dan mie ayam, adek mau pesan apa?"
"Bakso urat satu ya pakde."
"Mau makan sini atau di bungkus?"
"Makan di sini aja pakde."
"Apa kamu bawak mangkok?"
"Tidak pakde."
"Coba kamu pinjam mangkok penghuni rumah kontrakan." Pakde menyuruh Tary untuk meminjam mangkok penghuni rumah kontrakan nya.
"Tunggu sebentar pakde."
Tary berjalan ke arah rumah nenek, saat Tary sudah tiba di depan pintu rumah nenek dia melihat pintu rumah nenek sudah terpasang gembok. Setelah itu Tary mengetuk pintu rumah Zainel tetapi tidak ada respon dari Zainel sehingga akhirnya Tary berpindah mengetuk pintu rumah kak Era.
"Kak Era."
"Maaf aku udah ganggu kak Era, apa aku boleh pinjam mangkok sama kak Era?"
"Boleh mau pinjam berapa?"
"Satu aja kak Era."
"Mangkok nya mau buat apa?"
"Bakso, apa kak Era mau makan bakso?" Tary menawari Era.
"Siapa yang bayar?" Era menanya terlebih dahulu orang yang akan membayar makanan mereka.
"Aku yang bayar, kak Era pesan aja mau makan apa?"
"Pakde aku pesan mie ayam bakso." Era memesan mie ayam bakso kepada pakde tersebut.
"Mau bakso apa?"
"Urat pakde."
__ADS_1
Mereka duduk di atas bangku yang berada di teras rumah kontrakan mama Tary. Mereka mulai menyantap makanan yang mereka pesan.
"Tar." Era berbicara setelah menyuapi makanan kedalam mulutnya sendiri.
"Iya kaka Era."
"Kamu tahu gak?"
"Gak tahu."
"Kan aku belum cerita."
"Maka nya kak Era cerita dulu biar aku tahu tempe. "Tary meminta Era untuk bercerita.
"Di hotel S ada manager baru, dia seorang perempuan cantik, seksi, sombong dan angkuh." Era menceritakan tentang manager baru hotel S kepada Tary.
"Lah terus apa hubungannya kak Era menceritakan tentang manager baru itu kepada aku?"
"Ini ada hubungan dengan kamu."
"Lah kenapa ada hubungannya dengan aku?" Kening Tary berkerut karena belum mengerti dengan maksud ucapan dari Era.
"Manager baru itu menyukai Zainel."
"Uhuk uhuk uhuk." Mendengar manager baru itu menyukai Zainel, Tary yang sedang memakan bakso pun jadi tersedak.
Melihat Tary tersedak Era segera berlari ke dalam rumah nya, Era mengambil teko dan juga gelas lalu dia membawa kedua nya ke teras rumah.
"Nih minum dulu." Era menuangkan air kedalam gelas tersebut baru lah dia memberikan gelas tersebut kepada Tary.
"Glug glug glug." Tary meminum air dari dalam gelas tersebut hingga tandas.
"Apa kamu baik-baik saja?"Mata Era menatap Tary dengan tatapan penuh khawatir.
" Iya aku sudah baik-baik saja." Tary sudah tidak tersedak lagi.
"Maka nya kalau makan itu pelan-pelan jangan terburu-buru."
"Iya aku pelan-pelan makannya."
"Kamu pasti keselek gara-gara mendengar manager baru menyukai Zainel."
"Tidak, kebetulan saja tadi keselek."
"Selama seminggu ini aku melihat manager baru itu terus saja mendekati Zainel."
"Lah terus apa hubungan manager baru itu mendekati Zainel?"
__ADS_1
"Apa kamu tidak merasa cemburu? kalau sampai manager baru itu menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih?" Era berbicara sambil menatap ke arah Tary.
...~Bersambung ~...