
"Ada seseorang yang tidak bisa menjadi milik Ry tetap dia abadi didalam cerita Ry."
Di dalam kamar hanya tinggal Zainel seorang diri, dia melihat arah jam dinding.Jarum jam yang pendek menujukan tepat angka tiga sedangkan jarum jam yang panjang menujuk angka dia belas.
"Sudah jam tiga dini hari."
Tary melangkah masuk ke dalam kamar Zainel sambil membawa segelas teh hangat di tangannya.
"Ini teh hangat nya."Tary memberikan segelas teh hangat kepada Zainel.
"Terimakasih Ry."Zainel mengambil gelas yang berisi teh hangat dari tangan Tary.
"Sama-sama, diminum dulu tehnya Zaza."
"Gak di minum dulu tapi di minum sekarang teh nya."Zainel meniup teh yang berada di gelas yang berada di tangannya setelah itu Tary meminum air teh dari gelas.
"Gimana rasa tehnya?"
"Kurang manis."
"Padahal tadi Ry masukan dua sendok gula di dalam air teh itu, apa Zaza mau Ry tambahkan lagi gulanya?"
"Gak usah di tambahin gulanya." Zainel menolak untuk di tambahin gula pada air tehnya.
"Memang Zaza mau menghabiskan teh kurang manis itu?"
"Maka nya kamu senyum dulu."
"Buat apa Ry senyum?"
"Udah gak usah banyak nanya Ry senyum dulu."
"Nih udah senyum."Dengan terpaksa Tary tersenyum.
"Senyum yang tulus jangan terpaksa gitu Ry."Zainel bisa melihat bahwa Tary tersenyum terpaksa kepada dirinya.
"Iya."
"Ingat kata tukang foto Satu Dua Tiga Senyum." Setelah berbicara Zainel melengkung sebuah garis di bibir nya membetuk senyuman.
Tary pun mengikuti Zainel dia juga tersenyum dengan tulus.
"Nah ini baru pas manis."Zainel meminum teh sambil melihat senyuman Tary
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena aku minumnya sambil melihat senyum Ry yang manis."
"Ckckckck dasar kang gombal, berarti kamu udah sehat nih bisa gombalin Ry."
"Kan aku memang gak sakit Ry."
"Sini Ry periksa." Tary meletakkan punggung tangan di kening Zainel.
"Masih hangat gini di bilang gak sakit."
__ADS_1
"Cepatan habiskan minuman terus baringan lagi biar Ry kompres."
"Iya Ry."Zainel kembali meminum air teh secara berlahan-lahan.
Zainel meletakkan gelas di atas nakas di samping mangkok. Setelah itu Zainel membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tary meletakkan sapu tangan di atas kening Zainel.
Ini namanya sakit membawa berkah
Kalau begini aku mau sering-sering sakit
Biar di urus dan di rawat oleh Ry
Walaupun sebenarnya sakit itu gak ada enaknya
Tapi karena di urus sama Ry aku kan jadi mau sakit terus
"Ry sini duduk." Zainel menepuk pinggir tempat tidurnya.
"Iya, sekarang apa yang Zaza rasakan?" Tary duduk di pinggir tempat tidur.
"Kepala aku pusing, badan terasa lemas."
"Apa Zaza punya obat demam?"
"Tidak ada, Ry baby Jane mana?"
"Baby Jane di kamar Ry."
"Kenapa kamu tinggalkan baby Jane sendirian di sana?"Raut wajah Zainel terlihat khawatir.
"Syukur lah kalau ada nenek yang nemanin baby Jane, sebaiknya kamu sana kamu pulang."Zainel bernafas legah.
"Apa kamu ngusir aku?"
"Aku bukan ngusir kamu tapi nantik kalau baby Jane bangun dia pasti akan nyariin kamu.Kalau kamu gak ada di sana pasti dia nangis jadi sebaiknya kamu pulang."
"Kalau baby Jane bangun dan nangis pasti di antarin nenek kesini, kamu gak usah mikirin itu.Sekarang biarkan aku ngerawat kamu sampai suhu tubuh kamu turun."
Esok Paginya.........
Terdengar suara ayam berkokok, berlahan-lahan Zainel membuka kedua matanya.
"Apa ini?"Zainel memegang sesuatu yang berada di atas keningnya.
"Sapu tangan." Zainel menurut benda yang berada di atas keningnya ternyata sapu tangan.
Setelah itu barulah Zainel teringat bahwa Tary tadi malam mengompres keningnya. dengan menggunakan sapu tangan. Zaniel menoleh ke arah samping dia melihat helain rambut berada di pinggir tempat tidur.
Zainel bangun dari tempat tidur lalu dia duduk di atas tempat tidur sambil melihat Tary yang tertidur dengan posisiduduk di atas lantai dengan kepalanya bersadar di pinggir tempat tidur Zainel sehingga terlihat helain rambutnya menempel pada pinggir tempat tidur Zainel.
"Terimakasih sudah merawat aku Ry." Lirih Zainel sambil mengelus rambut yang berada di pucuk kepala Tary.
Setelah itu Zainel turun dari tempat tidur, Zainel berjongkok dengan posisi berhadapan dengan Tary yang masih tertidur sambil duduk di atas lantai.
Mumpung Dia masih tidur
__ADS_1
Kalau sudah bangun mana boleh aku menyetuh pipi chubby
Maaf ya Ry a
Aku ambil kesempatan dalam kesempitan
Zainel mendekatkan tangan kanannya ke arah pipi chubby Tary dengan berlahan-lahan Zainel menyentuh pipi chubby Tary.
Pipi Tary mirip pipi baby Jane gembul
Setelah berhasil menyentuh pipi Tary, Zainel menatap wajah Tary yang tampak masih tertidur dengan pulas sehingga dia berani mengelus pipi.
Ah jadi pengen nyium nih pipi
"Ry, apa aku boleh cium pipi kamu?"Zainel berhenti mengelus pipi chubby Tary lalu dia berbicara kepada Tary yang masih terlelap tidur.
Tiba-tiba saja kepala Tary bergoyang yaitu tertunduk ke bawah.
"Aku anggap itu sebagai jawab kamu setuju."Zainel yang melihat hal itu menanggap sebagai jawaban Tary memberikan izin Zainel mencium pipi chubby Ry.
Zainel mencondongkan wajahnya kedepan, sekarang wajah mereka begitu dekat hanya berjarak kira-kira tiga senti. Zainel mendekatkan bibir ke arah pipi chubby Tary sebelah kanan.Saat bibir Zainel hendaklah menempel di pipi chubby Tary.
"Uhuk uhuk uhuk." Kakek yang sedang berdiri di depan pintu kamar Zainel sengaja batuk.
Zainel menoleh ke arah sumber suara seorang yang batuk.
"Kakek."Zainel terkejut saat mendapati Kakek berdiri di depan pintu kamarnya.
"Zai, tadi sedang apa?"Kakek pura-pura bertanya kepada Zainel padahal dia tahu bahwa Zai mau mencium Tary.
"Mau membangunkan Ry." Zainel memegang tengkuk kepalanya.
"Tadi Kakek kira Zai mau mencium Tar."
Zainel tersenyum kikuk mendengar ucapan Kakek.
Bagaimana Kakek bisa tahu?
Ah Akukan jadi malu
Melihat hal itu Kakek menjadi tahu bahwa yang dia ucapkan itu benar.
"Zai, kalau mau cium Tar halalkan dulu."
Mendengar ucapan Kakek maka Zainel mengganggukan kepalanya sebagai tanda Iya. Zainel kembali menoleh ke arah Tary, dia melihat tubuh Tary bergerak lalu dia segera kembali ke atas tempat tidur.
Zainel sudah berbaring kembali di atas tempat tidur sedangkan Kakek melangkah pergi meninggalkan mereka berdua di dalam kamar. Tary membuka kedua mata nya berlahan-lahan setelah itu Tary melakukan gerakan merengangkan tubuhnya.
Tary berdiri dari tempat duduknya, Tary sudah berdiri di pinggir tempat tidur.Dia melihat Zainel masih terlelap tidur di atas tempat tidur. Tary meletakan punggung tangannya di atas kening Zainel.
Sudah turun suhu hangat di tubuhnya
Tiba-tiba saja tangan Zainel memegang tangan Tary yang berada di keningnya.
~ Bersambung ~
__ADS_1