
"Semoga kelak Ry di takdirkan hidup dengan seseorang yang menyayangi Ry dengan tulus, tutur kata lembut, membimbing Ry dengan kesabaran dan mensyukuri kehadiran Ry."
"Nah benar tuh yang Sayang ku katakan, lagian ibuk gak usah khawatir aku bakal ngurus Sayang ku.Jadi mendingan ibuk pergi berangkat kerja."Tary pun ikut mengusir Fitri secara halus.
Huwus huwus huwus huwus
Sana pergi yang jauh, sekalian aja kelaut
Aku udah gedek lihat dia
"Aku bakal pergi tapi dia juga pergi dari sini, kalau dia gak pergi dari sini aku juga gak akan pergi dari sini." Fitri berbicara sambil menujukan jari telunjuknya ke arah Tary.
"Sebaiknya kalian berdua pergi dari sini, aku mau istirahat."Zainel menyuruh mereka berdua pergi.
"Ayo kita pergi dari sini!" Tary memegang lengan Fitri lalu dia menarik lengan Fitri.
"Lepaskan, gak usah di tarik-tarik.Aku bisa sendiri." Fitri turun dari tempat tidur lalu dia menepis tangan Tary dengan kasar.
"Aw aw aw sakit."Tary meringis kesakitan.
"Gak usah lebay deh, masak segitu aja sakit.Jangan jangan ini alasan kamu biar tetap tinggal di sini."Cibir Fitri.
"Aku gak sepicik kamu."Tary berjalan keluar dari kamar Zainel dengan tangannya mengepal.
"Zai aku berangkat kerja dulu."Fitri berpamitan sambil tersenyum kepada Zainel.
"Iya, hati-hati bawa mobilnya."
"Iya, entar kalau aku udah sampai hotel aku chat kamu." Fitri berjalan keluar kamar Zainel dengan perasaan berbunga karena Zainel ngasih perhatian kepada dirinya.
Sesampainya Fitri di lobby hotel, Fitri mengeluarkan ponsel dari tas ori merek Blueberry. Ponsel sudah berada di tangannya, Fitri mengirimkan chat kepada Zainel.
💌"Hai, Zai."
💌"Zai, aku sudah sampai di hotel."
💌"Nantik siang aku ke sana lagi."
💌"Kamu mau makan apa?"
💌"Chat aja kesini, nantik aku belikan."
💌"Met istirahat, gws ya."
💌"Aku mau kerja dulu."
Fitri terus saja mengirim chat kepada kepada Zainel tetapi tidak dibaca.
Mungkin dia sudah istirahat
Fitri memasukkan ponsel nya ke dalam tas ori bermerek blueberry. Fitri berjalan ke arah meja resepsionis, setibanya Fitri di depan meja resepsionis.
"Selamat pagi buk."Sapaan resepsionis.
"Selamat pagi juga."Fitri membalas sapaan mereka sambil tersenyum lalu Fitri melanjutkan langkah kaki nya menuju ruangan kerja.
Kedua resepsionis hotel yang berdiri di depan meja resepsionis begog melihat Fitri membalas sapaan mereka sambil tersenyum.
__ADS_1
"Apa aku sedang bermimpi?" Tanya si resepsionis yang satu lagi kepada temannya.
"Tidak."
"Coba kamu cubit aku."Dia meminta temannya mencubit dirinya.
Si temannya pun mencubit tangan si resepsionis itu.
"Aw aw aw, sakit."Si resepsionis meringis ke sakitan.
"Nah kalau sakit itu berarti tandanya kamu sedang tidak bermimpi."
"Aku merasa heran saja buk Fitri tidak seperti biasanya, biasanya kalau kita nyapa dia tidak pernah membalas dan langsung melegos pergi."
"Benar yang kamu katakan, pak Zai yang akan membalas sapaan Kita.Tapi pagi ini kenapa buk Fitri sendirian? biasanya dia datang bersama pak Zai."
"Iya juga, pak Zai kemana? dia juga belum datang dari tadi."
Fitri sudah berada di dalam ruangan, dia duduk di atas kursi kerja sambil melihat dokumen yang sudah tergeletak di atas meja kerja. Fitri pun mengambil sebuah dokumen yang berada di. atas meja kerjanya.
Siang harinya terdengar suara adzan yang berasal dari mesjid yang berada di dekat rumahnya. Zainel pun terbangun mendengarkan suara adzan tersebut, Zainel beranjak turun dari tempat tidurnya.Zainel berjalan ke arah kamar mandi.
Tary sudah berdiri di depan pintu rumah Zainel sambil mengendong baby Jane.
"Assalamu'alaikum."
"Assalamu'alaikum."
"Assalamu'alaikum."
Sudah tiga kali Tary mengucapkan salam tetapi tidak di jawab oleh Zainel.
Tary memegang knalpot pintu rumah Tary, ternyata pintu rumah Zainel tidak terkunci sehingga Tary bisa membuka pintu rumah Zainel. Setibanya Tary di depan pintu kamar Zainel dia melihat Zainel sedang melaksanakannya shalat dzuhur.
Setelah selesai Zainel melaksanakan shalat dzuhur, dia hendak menggantung kan kain sarung, sajad dan peci di belakang pintu kamarnya.
"Kalian sejak kapan di situ?" Zainel membalikan badan lalu dia terkejut mendapati mereka berdiri di depan pintu kamarnya.
"Sejak tadi."Tary berjalan masuk ke dalam kamar.
Setelah Zainel mengantung kain sarung, sajadah dan peci. Zainel berdiri menghampiri mereka.
"Baby Jane sini sama papa." Zainel hendak mengendong baby Jane.
"Jangan kamu masih sakit." Tary melarang Zainel mengendong baby Jane.
"Aku udah sembuh Ry kamu cek aja nih."Zainel membungkukkan kepalanya.
"Sudah tidak hangat lagi." Tary meletakkan punggung tangan di kening Zainel.
Zainel mengendong baby Jane setelah itu Zainel mencium pipi baby Jane. Baby Jane terlihat bahagia di cium oleh Zainel.
"Apa anak papa sudah makan?"Zainel berbicara sambil menatap pipi gembul baby Jane.
"Sudah, Zaza mau makan apa?"
"Memang nya kamu masak?"
__ADS_1
"Gak."
"Terus kok nawarin aku mau makan apa?"
"Biar aku belikan kamu jaga baby Jane dulu."
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam masuk saja."Ucapan Zainel.
"Ternyata ada Tary dan baby Jane." Setiba di depan pintu kamar Zainel, melihat Zainel sedang mengendong baby Jane sementara itu Tary berdiri di hadapan Zainel.
"Nenek bawak apa?"Tary melihat nenek memegang mangkok di tangannya.
"Sup ayam."Nenek berjalan masuk menghampiri mereka.
"Sup ayam buat siapa nenek?" tanya Tary.
"Zai" Nenek sudah berdiri di hadapan mereka.
"Wah, nenek tahu aja kalau aku lapar."
"Ini sup ayamnya." Nenek memberikan mangkok. kepada Tary sebab Zainel sedang mengendong baby Jane.
"Iya nenek." Tary mengambil mangkok yang berisi sup ayam dari tangan nenek.
"Terimakasih nenek."Ucapan Zainel.
"Sama-sama, kalau begitu nenek pulang dulu."Setelah itu nenek melangkah pergi meninggalkan mereka yang masih berada di dalam kamar.
Mereka susah pindah ke ruangan tamu,Baby Jane sudah berada di atas lantai dengan posisi merangkak maju mendekati Zainel yang sedang memakan sup ayam yang di berikan nenek. Tary berdiri dari tempat duduk nya.
"Mau kemana?"
"Memang kamu makan saja tanpa minum."Tary meninggalkan Zainel dan baby Jane.
Tary sudah tiba di ruangan tamu sambil membawa segelas air putih.
"Ini minum."Tary memberikan segelas air putih kepada Zainel.
"Terimakasih, glug glug glug."Zainel mengambil gelas yang berada di tangan Tary lalu dia meminum air dari dalam gelas.
"Kenapa sup ayam tidak di habiskan?" Tary melihat piring yang tergeletak di samping Zainel.
"Mulutku pahit Ry."
Tary duduk hadapan Zainel, Tary mengambil piring itu.Piring sudah berada di tangan Tary.
"Bukak mulut."Tary menyuruh Zainel membuka mulut.
Zainel menuruti Tary dengan membuka mulutnya.
"Aaakk aaakk aaakk." Tary menyuapi nasi berserta daging ayam dengan kuah mengunakan sendok ke arah mulut Zainel.
Bruk
Bruk
__ADS_1
Bruk
...~ Bersambung ~...