
"Setinggi apapun ilmu yang kamu miliki, bila sikap dan kelakuanmu menyakiti orang lain, itu tidak ada gunanya."
"Ah kalian seenaknya saja buat keputusan tanpa memikirkan perasaan aku." Tary tidak terima dengan keputusan mereka, lalu Tary hendak berjalan pergi meninggalkan balai warga.
Oeak
Oeak
Oeak
"Cup cup cup, jangan nangis." Zainel mencoba menghentikan tangisan bayi tersebut tetapi si bayi malah semakin nangis.
"Sini biar aku saja yang mengendong bayinya." Seorang ibu menghampiri Zainel, si ibuk mengambil si bayi dari gendong Zainel.
Si bayi tersebut sudah berada di dalam gendong si ibuk tersebut, si ibuk mencoba menghentikan tangis si bayi dengan mengendong sambil menimang si bayi tersebut tetapi suara tangis bayi semakin kencang. Ibu yang lain mencoba mengendong si bayi tersebut bermaksud agar bayi tersebut tetapi tangisan bayi tersebut makin kencang.
"Sini buk biar saya saja." Zainel mengambil bayi tersebut dari gendong si ibuk.
"Mungkin dia haus coba kasih susu."
"Nih minum susu dulu." Zainel mengambil botol dodot yang berukuran kecil di saku depan celana lalu dia menyodorkan botol dodot di mulut si bayi.
"Kenapa dia masih nangis?"
"Dia tidak mau minum susu." Zainel melihat si bayi tersebut melepaskan botol dodot dari mulut nya.
"Tar coba gendong bayi itu." Pak ustadz menyuruh Tary mengendong si bayi tersebut.
"Siniin bayinya." Tary meminta bayi tersebut kepada Zainel. Zainel memberikan si bayi yang berada di gendong nya kepada Tary. Saat bayi sudah berada dalam gendong Tary si bayi tersebut berhenti menangis.
"Nah bayi diam."
"Nah berarti bayi itu hanya mau di gendong oleh kalian berdua."
"Bayi itu memilih kalian buat mengurusnya jadi tidak ada alasan buat kalian berdua mengurus nya." Pak ustadz menatap ke arah Tary dan Zainel secara bergantian.
"Aku akan membantu Zainel mengurus bayi ini saat Zainel bekerja."
"Alhamdulillah akhirnya kamu mau juga, coba dari tadi kamu mau jadi gak perlu ada drama aku menagis." Cibir Zainel.
"Berarti sudah deal kalau kalian yang akan mengurus bayi ini. Kalian akan memberi nama apa untuk bayi ini?"
"Janeta abang."
"Ya elah kayak nama penyanyi dangdut aja." Cibir Tary.
"Terus apa?"
__ADS_1
"Jelita."
"Itu juga penyanyi dangdut."
"Bukak sitik Jos."
"Jadi apa nama bayi ini?"
"Janeta abang."
"Baby Jane." Tary memanggil namanya sambil menatap si bayi tersebut.
"Lihat dia tersenyum." Zainel melihat ke bayi tersebut tersenyum dalam gendongan Tary.
Mereka sudah berada di depan toko perlengkapan bayi, Tary berdiri sambil mengendong baby Jane.
"Kenapa kalian belum masuk?" Zainel berjalan menghampiri Tary dan Jane, Zainel sudah berdiri di hadapan mereka.
"Nih gantian kamu gendong bayi Jane." Tary melepaskan kain gendong lalu dia memberikan baby Jane kepada Zainel.
"Baiklah sini sama Papa." Zainel mengendong baby Jane.
"Cepatan sini." Tary sudah tiba terlebih dahulu didepan pintu toko perlengkapan bayi, Tary membuka pintu toko perlengkapan bayi.Dia menyuruh Zainel untuk segera mendekat ke arahnya.
Zaine berjalan melewati pintu toko perlengkapan bayi sambil mengendong bayi Jane. Zainel dan bayi Jane sudah berada di dalam toko perlengkapan bayi. Tary berjalan masuk melewati pintu toko. Mereka sudah berada di dalam toko sambil melihat isi toko perlengkapan bayi tersebut.
"Ah kok masih nanya sih yang jelas perlengkapan bayi lah seperti celana, baju, kaos kaki, jaket, selimut, dan lain-lain."
"Mau cari apa kak abang?" Seorang pelayan toko menghampiri mereka.
"Perlengkapan bayi."
"Halo dekbay ganteng." Si pelayanan itu sudah berdiri di hadapan Zainel yang sedang mengendong bayi Jane.
"Anak aku itu cantik bukan ganteng." Wajah Zainel berubah menjadi kesal saat mendengar ucapan si pelayanan toko yang mengatakan baby Jane ganteng.
"Hahahaha." Tary tertawa mendengar ucapan si pelayanan perempuan tersebut.
"Apanya yang lucu?sehingga kamu tertawa." Zainel menatap tajam ke arah Tary.
"Ups, mungkin maksud kak ini kamu yang ganteng." Tary berhenti tertawa dia menutup mulut nya.
"Maaf kak dan abang, saya tidak tahu kalau dekbay ini perempuan." Si pelayanan tersebut berbicara sambil menundukkan kepalanya, dia merasa takut terhadap tindakan nya.
"Maka nya lain kali di perhatikan baik-baik kalau melihat bayi." Zainel berbicara dengan ketua kepada si pelayan itu.
Tary berjalan terlebih dahulu meninggalkan mereka. Tary mengambil keranjang lalu dia berjalan ke arah pakaian bayi. Tary sudah berdiri di depan rak-rak pakaian bayi.Tary mengambil pakaian bayi perempuan.
__ADS_1
"Unyu unyu nih baju." Mata Tary berbinar menatap baju bayi perempuan yang berwarna biru di tangannya.
"Ini lebih cantik."Zainel memegang baju bayi perempuan berwarna pink.
"Iya modelnya cantik tapi warnanya aku gak suka." Tary melihat baju bayi yang berada di tangan.
"Bukannya warna pink itu warna kesukaan perempuan?" Zainel jadi ingat bahwa
"Tapi tidak semua perempuan suka warna pink, aku gak suka warna pink."
"Kamu pasti suka warna hijau."
"Iya kok kamu tahu."
"Aku lihat kamar kamu serba warna hijau."
Sore harinya sebelum berangkat kerja Zainel mengendong bayi sambil berjalan ke arah rumah Tary.
Tok............. Tok
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam, masuk aja pintunya gak di kunci." Tary bangun dari tidurnya lalu dia duduk di atas kasur lantai yang berada di ruangan keluarga.
"Kamu belum mandi." Zainel sudah berada di ruangan keluarga sambil mengendong baby Jane. Zainel memperhatikan pakaian Tary yang sama seperti mereka pergi ke toko bayi.
"Aku memang belum mandi tapi tetap aja jelek, kamu udah mau berangkat kerja?" Tary memperhatikan Zainel yang sudah terlihat rapi.
"Iya." Zainel menghampiri Tary.
"Apa baby Jane sudah kamu mandiin?" Tary melihat baby Jane yang berada di gendong Zainel sudah berganti pakaian.
"Belum, aku gak bisa mandiin baby Jane. Tolong kamu mandiin baby Jane." Zainel memberikan baby Jane kepada Tary.
"Baiklah, kamu letakan bayi Jane di atas kasur. Aku mau masak air buat baby Jane." Tary berdiri dari atas kasur lantai.
Tary sedang berada di dalam kamar mandi bersama baby Jane. Tary duduk di atas lantai keramik kamar mandi dengan memangku baby Jane di pahanya. Sementara Zainel berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Kamu kenapa belum berangkat kerja?" Tary menoleh ke arah pintu kamar mandi, Tary melihat Zainel yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Eh, iya ini aku baru mau berangkat kerja." Zainel menjadi gugup saat Tary berbicara sambil menatap wajahnya.
"Kamu mau berangkat kerja naik apa?"
"Jalan kaki."
"Jalan kaki itu capek apalagi jalani aja dulu.Kamu pakai aja motor aku, gimana?"
__ADS_1
...~ Bersambung ~...