PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Ke Panti Asuhan


__ADS_3

"Teruslah melangkah, jangan menyerah hanya karena satu episode buruk yang terjadi dalam hidupmu, teruslah melangkah, kisahmu belum berakhir di sini."


Mereka menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara bariton tersebut.


"Zai." Secara bersamaan mereka menyebut nama pemilik suara bariton tersebut.


"Assalamu'alaikum semuanya."


"Walaikumsalam Zai."


"Kamu habis dari mana?"


"Pulang kerja tante."


"Itu kucing siapa?" Tante melihat ke arah kucing yang berada dalam gendongan Zainel.


"Aku menemukan kucing ini di jalan hampir di tabrak oleh pengendara mobil." Zainel berbicara sambil mengelus kepala kucing tersebut.


"Terus mobilnya gak kenapa-kenapa kan?"


"Lah, kok kamu lebih khawatir sama mobilnya bukan kucing nya." Zainel berbicara sambil memicingkan mata nya ke arah Tary.


"Itu karena Tar gak suka kucing Zai."


"Apa benar itu Ry?" Zainel berjalan mendekati Tary sambil menggendong kucing


"Berhenti di situ, kamu jangan mendekat." Tary berteriak meminta Zainel untuk berhenti berjalan mendekatinya.


"Kenapa memangnya?" Bukannya berhenti Zainel semakin terus melangkah kan kakinya sehingga sekarang Zainel sudah berdiri di hadapan Tary.


"Aku tidak suka kucing."


"Kamu tidak suka atau takut kucing?" Zainel mengangkat tubuh kucing tersebut lalu dia mendekatkan wajah kucing itu ke dekat wajah Tary.


"Tidak suka." Melihat wajah kucing di depan wajahnya sehingga membuat Tary ingin mengambil kucing dari tangan Zainel lalu setelah itu Tary ingin membuang kucing tersebut. Tetapi Tary tidak bisa melakukan hal itu karena tangannya sedang mengendong baby Jane.


"Kenapa tidak suka? lihat kucing ini lucu."


"Singkirkan kucing ini dari hadapan aku, pokoknya aku tidak suka titik." Tary meminta Zainel untuk menyakirkan kucing dari hadapannya.


"Gak mau." Zainel tidak mau menyingkirkan kucing dari hadapan Tary.


"Ya udah kalau gitu aku pergi." Tary berjalan melengos sambil mengendong baby Jane.


"Sana buruan kamu susul Tarnya." Si ibuk menyuruh Zainel untuk mengenyusul Tary.


Hari ini Zainel libur kerja, dia sedang berdiri di depan teras rumah sambil mengendong baby Jane. Zainel melihat Tary sedang mengendarai motor melewati depan rumah Era.


"Ry mau kemana?"


"Pergi." Tary menginjak rem motor sehingga motornya berhenti di tepat di depan rumah Zainel.


"Pergi kemana?"


"Ke panti asuhan."


"Apa aku boleh ikut?"

__ADS_1


"Hah yakin kamu mau ikut?" Tary tidak percaya Zainel meminta ikut.


"Iya Ry aku mau ikut mumpung aku libur kerja, boleh ya aku ikut." Zainel berbicara sambil menatap ke arah Tary dengan wajah memohon.


"Iya boleh." Tary memakirkan motornya lalu dia turun dari motornya.


"Ry gendong baby Jane dulu aku mau ganti pakaian." Zainel memberikan baby Jane kepada Tary karena dia mau berganti pakaian.


"Cepatan." Baby Jane sudah berada dalam gendongan Tary.


Zainel mengendarai motor Tary sedangkan Tary duduk di jok belakang sambil mengendong baby Jane dengan gendong bayi.


"Apa benar ini jalan ke panti asuhan?" Zainel fokus melihat ke arah depan.


"Iya, kenapa emangnya?"


"Kok sepi jalannya."


"Jalanan ini emang sepi ramainya waktu anak sekolah berangkat dan pulang saja."


"Memang nya ada sekolah di sini?"


"Ada."


"Mana kok gak kelihatan." Zainel menoleh sekilas ke segela arah tapi dia tidak melihat bangunan sekolah yang dia lihat hanya pepohonan yang besar serta rumput-rumputan.


"Sekolahnya berada masuk ke dalam dari jalan besar ini jadi tidak kelihatan."


"Apa dulu Ry bersekolah di situ?"


"Iya."


"Masih."


"Ini jalan kemana?" Zainel melihat persimpangan tiga jalan.


"Lurus aja terus." Tary menyuruh Zainel untuk mengendarai motornya ke arah lurus.


"Ry itu bangunan apa?" Zainel melihat ada beberapa bangunan yang berada di arah kanan.


"Itu sekolah SLB." Tary menoleh ke arah kanan, melihat bangunan yang merupakan sekolah.


"Apa itu SLB Ry?" Zainel yang baru mendengar sehingga dia menjadi penasaran.


"Sekolah Luar Biasa."


"Maksud gimana aku gak ngerti Ry?"


"Itu sekolah untuk anak yang berkebutuhan khusus seperti anak autis."


"Ooo jadi seperti itu." Zainel menganggukan kepalanya.


"Kalau kamu seperti ini bawak motornya kapan kita sampai?" Guman Tary.


Zainel tidak membalas ucapan Tary melainkan dia menarik gas motor Tary sehingga motor tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Tary yang terkejut saat tiba-tiba motor yang di kendarai Zainel melaju dengan kecepatan tinggi sehingga dia reflek melingkar kedua tangannya di pinggang Zainel.


Zainel menoleh ke arah kaca spion motor Tary sambil tersenyum. Zainel terus mengendarai motor Tary dengan kecepatan yang tinggi.

__ADS_1


"Ini lurus aja atau belok?" Zainel melihat di depan ada simpang empat.


"Belok kanan." Tary menyuruh Zainel untuk belok ke arah kanan.


Mereka sudah tiba di halaman panti asuhan. Zainel memberhentikan motornya lalu Tary turun dari motor. Anak-anak panti asuhan yang sedang berada di teras panti menoleh ke arah motor yang berhenti di halaman panti asuhan.


"Eh coba kalian lihat itu motor kak Tar."


"Iya, tapi siapa laki-laki yang bawak motor kak Tar?" Mereka melihat si laki-laki yang turun dari motor Tary.


Tary berjalan sambil mengendong baby Jane kearah panti asuhan.


"Coba kalian lihat itu kak Tar."


"Iya benar."


"Kak Tar." Mereka berlari ke arah Tary, setelah mereka berada di hadapan Tary lalu mereka menghamburkan pelukan kepada Tary.


"Anak-anak." Tary membalas pelukan mereka semua.


Hoeak


Hoeak


Hoeak


"Kak Tar ini anak siapa?" Mereka melepaskan pelukan dari Tary saat mendengar suara tangis baby Jane.


"Cup cup cup, jangan nangis sini sama papa." Mendengar suara tangisan baby Jane Zainel mempercepat langkah kakinya, ketika Zainel berada di hadapan Tary. Dia mengambil baby Jane lalu dia mengendong baby Jane.


"Kak Tar."Mereka memanggil nama Tary sambil memegang ujung baju kaos nya


"Apa kak Tar sudah nikah?"


"Apa debay itu anak kak Tar?"


"Apa itu suami kak Tar?"


"Anak-anak apa ibuk panti ada? " Tary mengalihkan pembicaraan.


"Ada kak Tar."


"Ibuk panti dimana?"


"Ada di dalam panti kak Tar."


"Tolong panggilkan ibuk panti."


"Iya kak Tar." Seorang anak laki-laki berjalan masuk ke dalam panti asuhan.


"Kak Tar mana jajan?" Seorang anak perempuan meminta jajan kepada Tary.


"Maaf anak-anak kak Tar gak bawa jajan ke sini." Tary merasa tidak enak karena tidak membawa jajan.


"Ya kak Tar gak bawa jajan."Anak-anak terlihat sedih karena Tary tidak membawa jajan buat mereka


"Kenapa kak Tar gak bawa jajan?"

__ADS_1


"Maaf tadi kak Tar gak sempat beli jajan tadi sebagai gantinya kak Tar kasih uang buat kalian beli jajan sendiri." Tary merasa tidak tega melihat wajah anak-anak yang sedih karena dia tidak membawak jajan sehingga dia berniat memberikan uang kepada anak-anak tersebut.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2