
"Harus semangat, walaupun tidak ada yang bilang, Semangat ya Cayang 😘."
Mommy dan Bibik yang berada di dalam kamar mendengar suara ribut-ribut.
"Nyonya tunggu sebentar ya."Bibik beranjak dari tempat duduk nya, setelah pintu kamar terbuka bibik menyembulkan kepalanya.
" Tuan dan Nona muda, sebaiknya kalau mau ribut jangan di sini.Nyonya sedang istirahat."Bibik menghentikan keributan abang adek tersebut dengan menegur keduanya.
"Eh, iya bibik."Rendy berjalan pergi meninggalkan Lea dan bibik.
"Sebaiknya nona muda ganti pakaian dulu."Melihat Lea masih memakai seragam sekolah yang besok masih akan di pakai maka bibik pun menyarankan Lea untuk berganti pakaian.
"Aku titip Mom ya bibik, aku mau ke kamar dulu ganti pakaian." Lea pergi menuju kamarnya.
Setibanya Rendy di ruangan tamu, dia menghampiri Tary yang sedang mengendong baby Jane.
"Sini biar aku gendong baby Janenya."Rendy mengambil baby Jane dari gendongan Tary.
"Bagaimana kondisi tante?" Wajah Tary terlihat khawatir.
"Belum tahu, masih nunggu pak dokter buat periksa nya."
"Semoga saja tidak ada masalah kesehatan tante." Tary menatap wajah Rendy yang terlihat lesu.
"Aamiin, makasih Ry."
"Sama-sama, semuanya pasti akan baik-baik saja Zaza."Tary menautkan tangannya dengan tangan Rendy.
"Ntahlah, aku merasa takut."Rendy merasa tidak yakin bahwa semua akan baik-baik saja.
"Jangan takut Zaza gak sendirian ada Ry dan baby Jane."Tary menguatkan Rendy agar tidak merasa takut, kalau dulu saat Rendy di usir dia seorang diri tapi sekarang dia tidak sendirian sudah ada Tary dan baby Jane.
"Ry benar sekarang sudah ada kalian sebentar lagi juga kita akan menjadi keluarga di Kartu Keluarga."Rasa takut Rendy sudah berkurang karena dia bersama Tary dan baby Jane.
"Hah, maksud Zaza apa?" Tary belum mengerti dengan ucapan Rendy.
"Gak usah di pikirin Ry."
Sebuah mobil memewah merek BMW berwarna Silver terpakir di halaman rumah mewah. Pintu mobil terbuka seorang pria paruh baya berumur 53 tahun keluar dari mobil BMW berwarna Silver.Pria itu sudah berada di luar mobil dia menutup pintu mobil.
Tap
Tap
Tap
Terdengar langkah kaki pria memakai sepatu pantofel memasuki rumah mewah.
"Sedang apa kamu di sini?"Pria itu menatap tajam ke arah Rendy.
Mendengar suara bariton yang begitu familiar di telinga Rendy walaupun sudah beberapa bulan Rendy tidak mendengarkan suara bariton tersebut tetapi Rendy yakin suara itu milik Daddy nya.
Rendy menoleh ke arah suara tersebut dengan detak jantungnya berpacu dengan kencang.Saat Rendy menoleh ke arah sumber suara bariton tersebut seolah-olah seperti adegan emot yang melambat.
__ADS_1
Rendy berhasil menoleh ke suara bariton tersebut, Rendy menatap wajah si pria paruh baya dengan tatapan kerinduan.Sementara si pria itu menatap tajam ke arah Rendy, sehingga nyali Rendy menciut saat di tatap tajam oleh si pria paruh baya.
Rendy ingin memanggil Daddy tetapi saat Rendy akan mengucapkan kata Daddy serasa tenggorokan tercekik sehingga hanya bibir Rendy saja bergerak tetapi suaranya tidak terdengar.
"Apa kamu lupa sudah lupa dengan ucapan saya beberapa bulan yang lalu?" Daddy menghampiri mereka.
Rendy merasa ketakutan saat Daddy menghampiri nya lalu dia menundukkan kepalanya sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Kenapa kamu berani masuk ke rumah ini?" Daddy berbicara dengan suara yang mengelegah.
Nyali Rendy benar-benar menciut saat berada di hadapan Daddy sehingga dia tidak bisa untuk berkata-kata apa-apa.
"Huft."Rendy menghelahkan nafasnya.
"Kalau orang sedang berbicara itu tatap wajahnya , saya itu sedang berbicara dengan kamu." Daddy berbicara sambil menujuk-nujuk ke arah Rendy.
Berlahan-lahan Rendy pun mengangkat wajahnya dengan perasaan takut.
"Hei, apa kau bisu? dari tadi aku itu bicara dengan kamu seperti berbicara dengan tembok."
"Tidak Daddy."Akhirnya Rendy membuka suaranya.
"Sudah aku katakan mulai saat itu kau bukan anakku lagi, kau tidak di perboleh untuk menginjakkan kaki di rumah ini lagi."
"Maafkan aku Daddy." Rendy berbicara dengan raut wajah yang memelas, ketakutan Rendy semakin bertambah.
Paling-paling sebentar lagi aku di usir
Ternyata Daddy masih belum bisa menerima aku
Ya Allah, tolong lah hambamu ini
Bantulah hamba meluluhkan hati Daddy
Hanya engkaulah yang mampu membolak-balikan hati manusia
Ya Allah
Hanya engkau ya
"Aku tidak butuh permintaan maaf darimu."
"Sini biar baby Jane sama aku."Melihat situasi ayah dan anak yang memanas membuat Tary merasa tidak nyaman, sehingga dia mengambil baby Jane.
"Bawalah Baby Jane keluar dari rumah ini." Rendy meminta Tary untuk membawa baby Jane keluar dari rumah.
"Papa papa papa." Baby Jane berceloteh dengan khas bayi.
"Bayi siapa itu? kenapa bayi itu menyebut kau dengan sebutan papa?" Daddy menatap kearah mereka secara bergantian.
Apa bayi itu anak Rendy?
Apa perempuan yang menyebabkan Rendy menjadi mualaf?
__ADS_1
Kalau benar ini ulah perempuan itu maka aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran bagi perempuan yang sudah mempengaruhi Rendy sehingga berpindah keyakinan
Aku yakin pasti perempuan ini yang membuat Rendy anakku yang penurut menjadi anak yang pembangkang melawan kedua orang tua nya
Perempuan ini membawa pengaruh buruk bagi Rendy
Tary menoleh ke arah Rendy lalu dia menggelengkan kepalanya pelan-pelan.
Jangan katakan baby Jane anakmu
Rendy sekilas menoleh ke arah Tary, dia melihat Tary yang menggelengkan kepala.Dia tahu bahwa Tary sedang memberikan kode-kode kepadanya.
Aku mohon Zaza, jangan bilang Baby Jane itu anakmu
Semoga saja Zaza mengerti dengan kode-kode yang telah aku berikan
Huft
Rendy menarik nafas terlebih dahulu dia membutuhkan banyak pasokan oksigen untuk paru-paru nya.
Bismillahirrahmanirrahim
"Anakku Daddy."Lirih Rendy.
" Apa yang kau Ucapankan? aku tidak dengar, coba kau ulanggi lagi."Suara Rendy tidak terdengar di telinga Daddy, sehingga Daddy meminta Rendy untuk mengulangi nya lagi.
"Bayi itu anakku Daddy."Rendy menambah volume suaranya agar Daddy bisa mendengarkan suaranya.
"Apa benar yang kau ucapkan itu?" Daddy sudah berdiri di hadapan Rendy lalu Daddy mencengkram kerah baju Rendy.
"Itu tidak benar om, ini anak aku."Mendengar ucapan Rendy yang mengakui baby Jane anaknya membuat Tary akhirnya angkat bicara.
"Hei, kau.Jangan ikut campur aku tidak bertanya kepada kamu." Daddy menoleh ke arah Tary dengan menatap tajam ke arah Tary. Tatapan mata Daddy begitu tajam bagaikan mata pedang yang akan menusuk ke arah Tary.
Tary yang mendapatkan tatapan tajam dari Daddy merasa tidak gentar sedikit pun dia ikut membalas tatapan Daddy dengan tatapan yang berbeda. Dia menatap penuh keyakinan kepada Daddy.
"Daddy kalau mau marah jangan sama dia tetapi sama aku saja."Rendy pasrah saat Daddy mencengkram kerah bajunya.
" Pergilah kau dari rumahku."Daddy menarik kerah baju Rendy sambil berjalan ke arah pintu rumah.
"Daddy Lepaskan."Rendy merasa kesakitan saat kerah bajunya di tarik-tarik oleh Daddy.
Tary mengikuti mereka yang berada di depan, mereka sudah berada di teras rumah. Daddy melepaskan tangannya dari kerah baju Rendy.
" Jangan pernah datang lagi kemari atau saya tidak segan-segan melakukan hal yang lebih dari ini." Daddy mengacam Rendy.
"Tapi Daddy."
"Pak satpam."Daddy berteriak memanggil pak Satpam.
"Iya Tuan."Pak Satpam segera berlari ke arah teras rumah majikannya.
"Usir mereka dari sini, dan jangan pernah perbolehkan mereka untuk masuk ke rumah ini lagi."
__ADS_1
"Siiap laksanakan tuan, kamu mau pergi secara baik-baik dari sini atau saya seret?" Pak Satpam sudah berada di samping Rendy.
...~ Bersambung ~...