
"Denganmu saja sudah jauh lebih dari kata cukup lantas untuk apa harus melihat yang lain?tidak ada yang lebih menarik dari Ry dan cerita kita."
Kakek dan Tary sudah berada di depan pintu rumah Zainel.
Ry
Ry
Ry
Terdengar suara Zainel yang terus saja menyebut nama Tary.
"Nah, coba Tar dengarkan itu." Kakek menyuruh Tary untuk mendengarkan suara Zainel yang menyebut nama Tary.
"Iya kakek."Tary sudah mendengarkan suara Zainel yang menyebut nama nya.
"Tar ketuk pintu rumahnya."Kakek menyuruh Tary mengetuk pintu rumah Zainel.
Tok Tok Tok
"Assalamu'alaikum, Zaza ini Ry buka pintunya."Tary mengetuk pintu rumah Zainel lalu Tary meminta Zainel untuk membuka pintu rumahnya.
Kakek dan Tary yang berada di depan pintu rumah Zainel, tidak mendengar respon dari Zainel. Mereka mendengar Zainel terus saja menyebut nama Tary.
"Bagaimana ini kakek?"
"Coba ketuk lagi pintu rumahnya." Kakek menyuruh Tary mengetuk pintu rumah Zaniel lagi.
Tary mengetuk kembali pintu rumah Zainel sambil mengucapkan salam, tetapi tetap saja tidak ada respon dari Zaniel.Tary kembali mengetuk pintu rumah Zainel sambil mengucapakan salam, sudah tiga kali Tary mengetuk pintu sambil mengucapkan salam tetapi tidak ada respon dari Zainel.
"Jadi bagaimana ini kakek?"
"Apa Tar punya kunci cadangan rumah Zai?"
"Ada kakek."
"Apa Tar bawak kunci cadangan nya?"
"Gak kakek."
"Sana kamu jemput dulu kunci cadangan."
"Baiklah kakek."Tary melangkah kakinya pergi meninggalkan rumah Zainel.
Hanya butuh waktu sekitar lima menit Tary sudah berjalan kembali ke arah rumah Zainel sambil membawa kunci cadangan di tangannya. Tary sudah berdiri di depan pintu rumah Zainel, Tary membuka pintu rumah Zainel yang terkunci dengan kunci cadangan.
Ceklek Ceklek Ceklek
Pintu rumah Zainel pun telah di buka oleh Tary.
"Assalamu'alaikum."Sebelum masuk rumah Tary mengucapakan salam terlebih dahulu baru lah dia berjalan masuk ke dalam rumah Zainel.
"Walaikumsalam."Kakek menjawab salam sambil berjalan masuk mengikuti Tary yang berjalan di depan nya.
Mereka sudah tiba di dalam kamar Zainel, Tary sudah berdiri di samping tempat tidur Zaniel.
Ry
Ry
Ry
__ADS_1
"Iya ini aku, ada apa Zaza?"Tary melihat Zainel yang sedang berbaring di atas tempat tidur dengan mata tertutup.
Zainel tidak merespon ucapan Tary dia terus saja menyebut nama Tary, melihat hal itu membuat Kakek menjadi penasaran.
"Tar coba geser sedikit." Kakek meminta Tary untuk mengeserkan badannya.
"Iya kakek."Tary mengeserkan badannya."
Kakek sudah berdiri tepat di samping tempat tidur Zainel.Kakek meletakan punggung telapak tangannya di kening Zainel.
"Tar, coba kamu cek kening Zai."Kakek merasa hangat kening Zainel tetapi untuk memastikan nya dia menyuruh Tary mengecek kening Zainel. Kakek menarik tangannya dari kening Zainel, Kakek mengeserkan badan dari pinggir tempat tidur.
"Baiklah Kakek."Tary menuruti permintaan Kakek, dia meletakkan punggung telapak tangan di atas kening Zainel.
"Bagaimana Tar?"
"Hangat Kakek."
"Seperti dia demam Tar."
"Iya, jadi bagaimana ini Kakek?"
"Kompres Zai."
"Baiklah Kakek." Tary melangkah keluar dari kamar Zainel.
Kakek berdiri di pinggir tempat tidur sambil memandangi wajah Zainel. Tary membawa mangkok yang berisi air hangat ke dalam kamar. Tary meletakan mangkok itu di atas nakas yang berada di samping tempat tidur.
Tary membuka lemari pakaian Zainel untuk mencari sapu tangan yang akan di gunakan untuk mengompres Zainel.
"Tar, nyari apa?"Kakek melihat Tary di depan lemari pakaian Zainel seperti sedang mencari sesuatu.
"Apa sudah ketemu?"
"Belum kakek."
"Biar kakek ambil sapu tangan punya kakek yang ada di rumah." Kakek berjalan meninggal kamar Zainel.
Tary menutup kembali lemari pakaian Zainel. Tary duduk di pinggir tempat tidur.
"Zaza kenapa bisa sakit?" Tary berbicara sambil menatap wajah Zainel.
Tidak lama kemudian kakek datang dengan membawa sapu tangan.
"Pakai ini buat ngompres kening Zai." Kakek memberikan sebuah sapu tangan kepada Tary.
"Baiklah kakek." Tary mengambil sapu tangan dari tangan kakek, Tary memasukkan sapu tangan ke dalam mangkok yang berisi air hangat setelah itu memeras sapu tangan. Tary meletakkan sapu tangan di atas kening Zainel.
Tiga jam kemudian berlalu.........
Tary masih terjaga sambil mengompres kening Zainel.Tary mengambil sapu tangan yang berada di kening Zainel, Tary memasukkan sapu tangan ke dalam mangkok. Tary meletakkan punggung tanganya di atas kening Zainel
Zainel merasa tangan seorang menyentuh keningnya sehingga mata nya terbuka secara berlahan-lahan, setelah mata Zainel terbuka dia memegang tangan yang berada di keningnya.
"Kamu sudah bangun."Tary terkejut saat mendapati tangannya di pegang oleh Zainel.
"Kamu sedang apa di sini?"Zainel menurunkan tangan mereka dari keningnya.
"Ngompres kamu."Tary menarik tangannya dari tangan Zainel.
"Kenapa kamu ngompres aku?"
__ADS_1
"Tadi tubuh kamu hangat."
"Tapi sekarang sudah tidak hangat lagi."Zainel meletakkan punggung tangan nya di atas kening nya, Zainel tidak merasa keningnya hangat.
"Masih hangat gini di bilang gak hangat." Tary menepis punggung tangan Zainel dari kening nya lalu dia meletakan punggung tangannya di atas kening Zainel, dia merasa kening Zainel terasa hangat.
"Perasaan kamu aja tuh, kening aku gak hangat kok." Zainel menepis ucapan Tary yang mengatakan keningnya hangat.
"Mana ada perasaan aku, memang kening kamu itu masih hangat."Tary ngotot bahwa kening Zainel hangat.
Zainel mencoba bangun dari tempat tidurnya, sekarang posisinya di duduk di atas tempat tidur sambil tubuhnya berdasar di dashboard tempat tidur.
"Ry."
"Apa?"
"Apa aku boleh minta tolong?"
"Mau minta tolong apa?"
"Aku haus, apa kamu bisa tolong ambilkan aku minum?"
"Kamu mau minum apa?"
"Air putih."
"Baiklah, aku ambilkan dulu air putihnya." Tary berdiri dari pinggir tempat tidur. Tary melangkah pergi meninggalkan kamar.
Tary melangkah masuk kedalam kamar Zainel dengan membawa segelas air putih. Tary sudah berdiri di pinggir tempat tidur.
"Ini diminum dulu Zaza." Tary menyerahkan segelas air putih kepada Zainel.
"Iya." Zainel mengambil gelas dari tangan Tary, lalu dia minum air dari dalam gelas tersebut, padahal itu hanya air putih tetapi rasanya di tenggorokan Zainel berbeda.
"Kenapa?" Tary melihat Zainel hanya meminum sedikit air dari dalam gelas tersebut.
"Air putih nya gak enak Ry." Zainel memberikan segelas air putih kepada Tary.
"Lah, terus kamu mau minum apa?" Tary mengambil gelas ya g berada di tangan Zainel.
"Teh hangat Ry."
"Ya sudah kalau begitu aku buat kan kamu teh hangat." Tary meletakkan gelas di atas nakas di samping mangkok.
"Ry buat teh jangan manis-manis ya."
"Kenapa memang nya?"
"Nantik aku bisa diabetes Ry."
"Memang nya keluarga kamu ada riwayat diabetes."
"Bukan bergitu Ry."
"Terus apa?"
"Teh hangat udah manis di tambah lihat kamu kan tambah manis nah itu dia yang buat aja diabetes."
"Dasar kang gombal, udah sakit saja masih sempat gombalin Ry."
...~ Bersambung ~...
__ADS_1