
"Ikan gurame ikan gabus, ikan arwana di samping tikus, biar silaturahmi tak terputus, pinjam dulu lah seratus."
"Ya gimana aku gak lesu, tadi itu akan di jadikan obat nyamuk sama mereka."
"Hahahaha."Mendengar hal itu spontan Mia tertawa.
"Udah puas ngetawain aku." Fitri berbicara dengan nada ketus kepada Mia.
"Upps." Mia berhenti tertawa lalu dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Kalau tahu kayak gini mendingan aku tadi gak kesini." Fitri berjalan ke arah pintu tempat bliar.
"Sorry, kamu jangan marah dong. Entar cantiknya kamu hilang." Mia mengejar Fitri sambil membujuk Fitri.
"Gak bakalan hilang aku itu udah cantik dari lahir." Fitri terus saja berjalan hingga melewati pintu bliar.
"Fit jangan pergi, masak baru nyampai sini udah pergi." Mia berjalan terlebih dahulu lalu dia sudah berdiri di hadapan Fitri untuk menghalangi jalan Fitri.
"Minggir aku mau lewat." Fitri berhenti berjalan lalu dia menyuruh Mia untuk minggir dia mau lewat.
"Aku gak mau minggir."Mia ngotot gak mau minggir dari tempatnya berdiri.
"Jadi mau kamu itu apa?" Fitri membentak Mia.
"Jangan pergi, ayo kita ngobrol dulu!" Mia memegang tangan Fitri.
"Gak mau, aku udah bad mood." Fitri menepis tangan Mia.
"Apa kamu yakin gak mau? padahal aku punya ide agar kamu bisa mendapatkan cinta gebetan kamu itu."
"Baiklah aku tidak jadi pergi, kasih tahu aku apa ide kamu?" Fitri mengurung niatnya untuk pergi dari tempat tersebut, dia ingin mengetahui ide Mia.
"Iya aku kasih tahu, tapi gak gratis."
"Harus berhasil dulu baru aku bayar, gimana?"
"Deal." Mia mengulurkan tangan.
"Deal." Fitri menjabat tangga Mia.
Hari terus saja berganti sehingga tak terasa sudah dua minggu berlalu. Matahari sudah mulai tengelam Zainel baru saja meninggalkan hotel S dengan mengendarai motor sport milik Ry. Zainel mengendarai motor sport sambil bersenadung. Motor yang di kendarai Zainel sudah memasuki komplek perumahan.
Motor yang di kendarai oleh Zainel memasuki blok perumahan yang terakhir, Zainel memperlambat laju motornya saat melintasi blok terakhir perumahan tersebut. Saat motor yang di kendarai Zainel melintas di depan rumah.pak Ustadz.
"Zai." Melihat motor yang di kendarai Zainel melintas di depan rumahnya Pak Ustadz memanggil Zainel.
"Assalamu'alaikum abang Ustadz."Mendengar namanya di panggil, Zainel mengeram motornya sehingga berhenti di depan rumah pak Ustadz. Zainel masih berada di atas motor milik Tary.
" Walaikumsalam, apa kamu baru pulang kerja?" Pak Ustadz menghampiri Zainel, dia berdiri di samping motor.
"Iya abang Ustadz." Zainel menyalim punggung tangan pak Ustadz.
"Ayo mampir dulu ke rumah!"
"Maaf tidak bisa abang Ustadz." Zainel menolak ajakan pak Ustadz untuk mampir ke rumahnya.
"Kenapa?"
"Saya belum mandi, mau mandi dulu pak ustadz."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, nantik malam ajak baby Jane dan Tar kerumah."
"Insyaallah, kalau begitu saya pulang dulu pak ustadz." Zainel berpamitan kepada pak ustadz.
"Iya, Hati-hati bawa motornya."
"Baiklah, Assalamu'alaikum pak Ustadz." Setelah mengatakan itu Zainel mengendarai motor.
"Walaikumsalam."
Zainel sudah tiba di depan pintu rumah Tary, dia mengetuk pintu rumah.
"Assalamu'alaikum." Zainel memegang knalpot pintu, ternyata pintu rumah tidak di kunci lalu dia membuka pintu rumah. Dia berjalan masuk ke dalam rumah, saat dia sudah berada di ruangan keluarga dia tidak mendapati baby Jane dan Tary.
Kenapa mereka tidak ada? mereka ada dimana?
Mungkin mereka di dapur, sebaiknya aku kedapur
Saat aku tiba di dapur, aku melihat punggung Tary yang sedang berada di depan dispenser. Zainel melangkahkan kakinya dengan berjinjit hal itu dia lakukan agar Tary tidak mendengar langkah kakinya.
"Kamu sedang apa?" Zainel memegang pundak Tary.
"Aw aw aw." Tary terkejut tiba-tiba pundaknya di pegang oleh seorang.
"Ini aku Ry."
"Astagfirullah, ternyata kamu." Tary membalikkan badan melihat ke arah Zainel.
"Baby Jane sini ama papa." Zainel hendak mengendong baby Jane
"Jangan gendong baby Jane dulu, sana kamu mandi dulu."
Setelah selesai mandi Zainel sudah berpakaian casual dengan baju kaos oblong berwarna putih serta celana pendek berwarna hitam panjangnya di bawah lutut. Saat pintu rumah Zainel terbuka Tary dan baby Jane sudah berada di depan pintu rumah.
"Baby Jane sini sama papa." Zainel mengambil baby Jane dari gendonggan Tary.
"Papa papa." Baby Jane mengoceh dengan khas bayi saat memanggil Zainel dengan sebutan papa.
Cup
Zainel menghujani pipi gembul baby Jane yang penuh bedak dengan ciuman.
"Sudah-sudah jangan di cium terus nantik baby Jane nangis."
Baby Jane tertawa khas bayi saat di hujanini ciuman oleh Zainel .
"Masak anak papa tertawa gini di bilang nangis.Bilang aja kalau kamu iri, pengen di cium juga kayak baby Jane sama aku."
"Idih ogah aku di cium ama kamu."
"Ry aku punya kabar bahagia."
"Apa itu?" Tary menatap ke arah Zainel.
"Ry aku naik jabatan." Zainel berbicara dengan raut wajah yang tampak bahagia.
"Hah, apa?" Tary terkejut saat mendengar ucapan Zainel bahwa Zainel naik jabatan.
"Akhirnya aku naik jabatan Ry."
__ADS_1
"Wah, selamat ya Zaza naik jabatan." Wajah Tary pun terlihat bahagia mendengar Zainel naik jabatan.
"Terima kasih Ry, ini berkat doa dan dukungannya kamu."Zainel menatap wajah Tary yang ikut terlihat bahagia seperti dirinya.
"Sama-sama, tapi ini bukan berkat aku tapi ini karena usaha dan kerja Keras Zaza."
"Itu memang benar, tapi kalau tidak ada dukungan dari kamu aku tidak bisa sampai seperti ini."
"Apa aku boleh nanya?"
"Boleh mau nanya apa?"
"Kamu naik jabatan sebagai apa?"
"Asisten Manager."
"Apa kamu jadi asistennya Fitri?"
"Iya Ry. "
Wajah Tary langsung berubah saat mengetahui Zaine naik jabatan menjadi asisten manager. Tary terdiam terpaku tidak bisa berkata apa-apa.
"Apa kamu tidak suka aku naik jabatan sebagai asisten Fitri?" Melihat rauta wajah Tary yang berubah, Zainel pun mengerti bahwa Tary tidak menyukai kalau dia naik jabatan sebagai asisten manager.
"Hm, itu _____." Tary terlihat ragu untuk berbicara kepada Zainel.
"Kalau kamu tidak suka, aku bakal menolak naik jabatan sebagai asisten Fitri."
"Jangan Zaza tolak." Tary melarang Zainel menolak jabatan tersebut.
"Tapi kamu tidak suka kalau aku naik jabatan, jadi mendingan aku tolak saja." Zainel berpikir untuk menolak jabatan tersebut setelah melihat ekspresi wajah Tary.
"Kamu gak boleh nolak jabatan ini, ini kesempatan kamu. Kamu harus buktikan ke orang-orang kamu bisa memegang jabatan ini." Tary memberikan semangat kepada Zainel.
Malam harinya mereka sudah tiba di rumah pak Ustadz, Zainel dan pak Ustadz berada di ruangan tamu sedangkan Tary berada di dalam kamar buk ustadzah.
"Apa saya boleh bertanya abang?"
"Boleh, Zai mau bertanya apa?"
"Aku beberapa kali memimpikan adek perempuan aku yang bernama Lea abang Ustadz."
"Apa kamu sudah pernah menghubungi?"
"Sudah, tapi nomornya tidak aktif abang."
"Apa Zai pernah menghubungi nomor kedua orang tua Zai?"
"Tidak pernah."
"Kenapa Zai tidak pernah menghubungi kedua orang tua Zai?"
"Saya merasa takut dengan Daddy, karena yang mengusir saya di usir oleh Daddy."
"Bagimana dengan ibu Zai?"
"Saya yakin mom juga tidak akan mau berbicara dengan saya."
...~ Bersambung ~...
__ADS_1