
"Carilah sahabat seperti cermin, kita senyum dia senyum, kita sedih dia pun ikut sedih jangan cari teman seperti kuali di depan lain di belakang lain."
Sepasang suami istri yaitu pak ustadz dan buk ustadzah sudah mencoba menghentikan perdebatan Zainel dan Tary, tetapi bukanya berhenti mereka terus saja berbeda-beda tidak ada yang mau ngalah.Sehingga sepasang suami istri itu geleng-geleng kepala melihat mereka.
"Papa mama." Walaupun baby Jane belum mengerti tentang perdebatan mereka, tapi baby Jane mendengar suara mereka, sehingga baby Jane memanggil mereka dengan suara khas bayi.
"Iya baby Jane." Mereka berhenti berdebat lalu mereka serentak berbicara sambil menoleh ke arah baby Jane.
"Sepertinya baby Jane akan jadi pemersatu Zai dan Tar." Celoteh buk Ustadzah.
"Zai saya mau beli sarapan, apakah kamu ikut?"
"Iya saya ikut abang ustadz."
Pak Ustadz dan Zainel sudah berada di luar taman komplek perumahan.
"Abang ustadz mau beli sarapan apa?" Zainel berjalan kaki di samping pak Ustadz.
"Huft, saya juga bingung mau beli apa? buat istri saya."
"Sebaiknya kita lihat dulu ada jualan apa di sekitar sini." Zainel melihat sekeliling untuk mencari penjual makanan.
"Itu ada yang jualan." Pak Ustadz berhenti berjalan lalu dia menujuk ke arah tukang gerobak yang berada di pinggir jalan yang berlawanan arah dengan mereka berdiri sekarang.
Zainel berdiri di pinggir jalan raya sambil memegang kantong plastik berwarna hitam di tangan kanannya. Zainel menoleh ke arah kanan kiri secara berganti di jalan komplek perumahan tersebut. Zainel melihat tidak ada kendaraan yang melintas di jalan komplek perumahan tersebut sehingga dia menyeberangi jalan raya.
Zainel sudah menyeberangi jalan komplek perumahan, sebuah mobil honda jazz berwarna putih melaju kencang di jalan komplek. perumahan tersebut. Zainel berjalan ke arah taman komplek perumahan.
Tary sedang duduk sambil memangku baby Jane di atas pahanya. Tary dan buk ustadzah sedang asik mengobrol sehingga mereka tidak menyadari ke datang seorang laki-laki sudah berdiri di hadapan mereka.
"Papa papa papa."Baby Jane memanggil Zainel sambil merentangkan kedua tangannya.
"Kamu, kenapa sendirian?"Tary dan buk ustadzah menoleh ke depan, mereka mendapati Zainel sudah berdiri di hadapan mereka seorang diri.
"Abang ustadz kemana?"Buk Ustadzah yang tidak mendapati suaminya langsung bertanya kepada Zainel.
"Abang ustadz lagi ketemu sama koleganya jadi mereka lagi ngobrol."
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki kak."
"Zaza bawak apa itu?" Tary melirik ke arah kantong plastik yang berada di sebelah tangan Zainel.
"Makanan."
"Apa Ry boleh minta makanan nya?"
"Ini buat abang dan kak." Zainel mengeluarkan dua buah styrofoam dan dua buah sendok plastik dari kantong plastik lalu dia memberikan dua buah styrofoam berserta dua buah sendok plastik kepada buk Ustadzah.
"Terimakasih Zai." Buk Ustadzah mengambil dua buah styrofoam dan dua buah sendok plastik dari tangan Zainel.
"Kembali kasih kak."
__ADS_1
"Lah punya Ry mana?" Tary mengulurkan tangan, sehingga telapak tangan Tary sudah terulur di hadapan Zainel.
"Gak ada kamu beli sendiri."Zainel menepis tangan Tary yang terulur di hadapannya.
"Ya Zaza kok gitu sih sama Ry." Raut wajah Tary berubah setelah mendengar ucapan Zainel, dia juga menarik tangannya.
"Gak usah di moyongin tuh bibir." Melihat mimik. wajah Tary berubah cemberut dengan bibir yang mengerucut membuat Zainel ingin tergelak tawa, Zainel berusaha mati-matian untuk menahan tawanya agar tak lepas.
"Buk ustadzah Zaza jahat, masak Ry gak di kasih makanan." Tary mengadu kepada buk Ustadzah dengan mimik wajah yang sama.
"Ya sudah ini buat Tar."Buk Ustadzah terkekeh geli melihat mimik wajah Tary yang lucu, lalu dia hendak memberikan satu Styrofoam kepada Tary.
"Jangan." Zainel menghentikan buk ustadzah yang ingin memberikan styrofoam kepada Tary.
"Kenapa aku tidak boleh memberikan buat Tar?" Buk Ustadzah menoleh ke arah Zainel.
"Karena itu buat abang dan kak."
"Terus buat Ry mana?"
"Ini buat kamu." Zainel mengeluarkan sebuah styrofoam dari kantong plastik lalu dia memberikan kepada Tary.
"Nah gitu dong, harusnya dari tadi." Tary mengambil styrofoam dari tangan Zainel.
Buk Ustadzah hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka berdua.
Mereka terlihat serasi sebagai pasangan
Semoga saja mereka berjodoh
Aamiin
"Baby Jane kalau udah di kasih bilang apa sama papa?" Zainel sengaja menyindir Tary dengan pura-pura berbicara kepada baby Jane.
"Terimakasih."Tary merasa tersindir dengan ucapan Zanie sehingga akhirnya Tary mengucapakan terimakasih kepada Zainel.
"Sama-sama." Zainel sambil melirik ke arah Tary.
"Cuma makanan aja, minumnya mana?"
"Beli saat sendiri."
"Ini baby Jane kamu gendong." Tary meletakkan styrofoam di atas kursi lalu dia menyerahkan baby Jane kepada Zainel.
"Sini baby Jane sama papa."Zainel mengambil tubuh baby Jane lalu dia mengendong baby Jane.
"Buk Ustadzah mau minum apa?" Tary berdiri dari bangku.
"Air mineral."
"Kalau begitu Ry pergi dulu." Tary berjalan melangkah pergi dari tempat tersebut.
"Mama mama."Baby Jane berada di gendong Zainel, baby Jane melihat Tary berjalan pergi lalu dia memanggil Tary.
__ADS_1
"Mama beli minum dulu, baby Jane sama papa dulu." Zainel mengelus punggung baby Jane.
Saat Tary sudah berada diluar taman di berpapasan dengan pak Ustadz.
"Mau kemana Tar?"
"Beli minum Pak Ustadz." Tary berhenti melangkah kakinya.
"Ini saya sudah beli minum." Pak Ustadz menujukan sebuah kantong plastik yang berada di tangannya.
"Alhamdulillah kalau begitu pak Ustadz." Tary merasa legah bahwa pak ustadz sudah membeli minuman.
"Kalau begitu sebaiknya kita kembali ke sana." Setelah mengatakan itu pak ustadz berjalan pergi meninggalkan Tary.
Pak Ustadz sudah tiba terlebih dahulu di sana barulah setelah itu Tary juga tiba di sana.
"Umi kenapa belum makan?" Pak Ustadz sudah tiba di hadapan istrinya.
"Umi nungguin Abi."
"Maafin Abi sudah membuat Umi menunggu lama." Pak Ustadz mengambil tangan istrinya yang di letakan di pahanya.
"Abi tidak perlu minta maaf karena sebelum Abi minta maaf sudah Umi maafin terlebih dahulu.
"Kalau begitu sekarang Umi makan."
"Umi mau makan berdua sama Abi di sini."
Pak Ustadz melirik ke arah Zainel dan Tary secara bergantian mereka paham dengan situasi pak Ustadz memberikan kode-kode dengan mengagukan kepala pelan-pelan.Pak Ustadz berjalan selangkah ke arah kursi lalu dia mendudukkan pantatnya di atas kursi yang sama dengan buk Ustadzah.
"Abang dan kakak kami pergi dulu." Setelah berpamitan Zainel membalikkan badan lalu dia hendak melangkah pergi.
"Zai tunggu dulu."
"Ada apa abang?" Zainel membalik badan menoleh ke arah pak Ustadz.
"Ini punya siapa?" Pak Ustadz memegang styrofoam di tanganya.
"Ry, abang ustadz."
"Ini ambil." Pak Ustadz memberikan styrofoam kepada Zainel.
"Iya abang Ustadz." Zainel mengambil styrofoam dari tangan pak Ustadz.
Setelah pergi meninggalkan tempat tersebut mereka mencari bangku kosong di taman tetapi mereka tidak menemukan bangku kosong di taman, semua bangku sudah di duduki oleh orang-orang.
Mereka sudah berada di bawah pohon beringin, mereka duduk di atas rumput-rumputan di bawah pohon beringin. Styrofoam sudah terbuka Tary hendak menyendokan bubur ayam ke arah mulutnya.
"Baca do'a dulu sebelum makan."
Tary membaca doa sebelum makan terlebih dahulu.
Tanpa mereka sadari seorang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
...~Bersambung~...