
"Kalau ada orang ngomongin kamu di belakang jangan lupa senyum, karena senyuman adalah pesan, l know you talk about me."
"Mau ya aku suapin." Zainel berbicara sambil menatap Tary dengan wajah memohon.
Tary hanya mengagukan kepala nya sebagai pertanda bahwa dia setuju untuk di suapin oleh Zainel. Zainel mengeserkan badannya agar lebih dekat dengan Tary. Sekarang posisi Zaine sudah duduk berhadapan dengan Tary.
"Buka mulut kamu." Zainel menyuruh Tary untuk membuka muluk nya.
Tary menuruti ucapan Zainel dengan membuka mulutnya.
"Aaaaakkk."Zainel menyuapi nasi berserta lauk-pauk mengunakan sendok ke arah mulut Tary.
Kakek dan nenek menatap ke arah Zainel yang sedang menyuapi Tary. Makanan yang di suapi oleh Zainel masuk ke dalam mulut Tary, setelah itu Tary mengunyah makanan yang berada di dalam mulutnya. Zainel kembali menyuapi makanan ke dalam mulut Tary.
"Kenapa kamu gak makan?" Setelah Tary memakan makanan yang di suapi oleh Zainel, barulah Tary berbicara kepada Zainel.
"Ini aku mau makan." Zainel menyuapi makanan dengan sendok ke dalam mulut nya.
Tary melihat Zainel yang terus saja menyuapi makanan ke dalam mulutnya. Tary masih merasa lapar karena Zainel baru menyuapi dia sebanyak dua sendok.
"Suapin aku lagi." Tary meminta Zainel untuk menyuapi dirinya lagi.
"Nih aaaaakkk." Zainel mengarahkan sendok yang berisi nasi dan lauk-pauk ke arah mulut Tary.
"Lah kok masuk ke mulut kamu sih." Tary membuka mulutnya menunggu Zainel memasukkan makanan ke dalam mulutnya, tetapi sendok tersebut tidak masuk ke dalam mulut Tary melainkan ke dalam mulut Zainel sehingga wajah Tary berubah menjadi manyun.
Zainel melihat bibir Tary yang mengerucut sehingga membuat dia tergelak tawa. Kakek dan nenek yang melihat pun ikut tergelak tawa.
"Aku suapin lagi ya." Zainel kembali hendak menyuapi Tary lagi.
"Nyuapin nya benaran jangan kayak tadi lagi, awas aja kalau kayak tadi lagi merajuk aku." Tary mengancam Zainel yang hendak menyuapi kembali dirinya, Tary tidak mau kalau Zainel menyuapi dirinya seperti tadi lagi.
"Iya ini benaran, aaaakkk." Zainel menyuapi Tary.
Zainel terus saja menyuapi Tary hingga makan yang berada di dalam piring sudah habis sehingga tidak tersisa.
__ADS_1
"Apa kamu mau nambah lagi makananya?"
"Gak mau."
"Kenapa tidak mau Tar?"
"Aku takut nantik tambah gendut." Tary merasa takut kalau makan lagi maka beratnya akan bertambah.
"Lah, kenapa kamu takut gendut?"
"Habis seperti ini saja aku gak ada cowok yang mau sama aku, apalagi kalau aku gendut."
"Tenang mau kayak gini atau gendut dan seperti apapun kamu maka aku tetap mau sama kamu kok." Zainel berbicara sambil menatap mata Tary dia berusaha menyakinkan Tary.
"Heleh, gak percaya aku." Tary tidak mempercayai ucapan Zainel.
"Ry dengarkan aku baik-baik aku tidak pernah memandang fisik seseorang. Mau seperti apapun fisik kamu yang terpenting hati kamu itu baik." Zainel berbicara sambil memegang tangan Tary, lalu Zainel menghusap-usap punggung tangan Tary.
"Darimana kamu tahu kalau hati aku baik?" Tary berbicara sambil menatap mata Zainel.
"Dari sikap kamu ke aku dan baby Jane." Zainel membalas tatapan Tary sehingga mereka saling menatap satu sama lain.
"Kamu mau merawat baby Jane seperti anak kamu sendiri,selain itu kamu juga mau menyuapi aku makan dan meminjamkan motor kamu buat aku pakai berangkat kerja."
"Jadi Tar sering nyuapin Zainel makan?" Nenek dan Kakek yang dari tadi menyimak pembicaraan mereka, akhirnya nenek angkat bicara.
"Gak sering, tetapi aku pernah nyuapin dia itu pun karena terpaksa."
"Terpaksa bagaimana?"Kakek dan nenek penasaran sehingga nenek bertanya.
" Waktu itu dia datang kerumah sambil menggendong baby Jane aku sedang sarapan. Dia duduk sambil menggendong baby Jane di kursi. Melihat aku sarapan dia pun menjadi lapar, sehingga dia meminta aku untuk menyuapi nya awalnya aku gak mau tapi setelah mendengar bunyi perutnya yang keroncongan sehingga aku menjadi tidak tega menyuapi dia."
"Berarti sekarang gantian Tar yang di suapin oleh Zainel." Nenek tersenyum sambil melihat mereka bergantian.
"Iya nenek." Tary menundukkan kepalanya karena merasa malu.
__ADS_1
Tary melihat baby Jane yang berada dalam gendongnya sedang menghisap ibu jarinya.
"Botol dodot baby Jane mana?" Tary menoleh ke arah Zainel.
"Ada, kenapa emangnya?"
"Berikan sini botol dodot baby Jane kepada aku."
"Ini, apa baby Jane haus?"Zainel memberikan botol dodot kepada Tary.
"Iya, baby Jane jangan ngisap jempol. Ini mimik susu." Tary mengambil botol dodot dari tangan Zainel, Tary melepaskan ibu jari baby Jane dari mulut Jane setelah itu Tary memasukan botol dodot ke dalam mulut baby Jane.
"Zainel sedang apa?" Kakek melihat ke arah Zainel.
"Aku mau bantu nenek membereskan semua peralatan makan yang kotor." Zainel hendak membantu nenek membereskan peralatan makan yang kotor.
"Tidak sudah Zainel biarkan nenek saja yang membersihkan semua nya." Nenek menolak Zainel yang hendak membantunya.
"Biar aku bantu ya nenek." Zainel mengumpulkan piring kotor menjadi satu tumpukan.
"Sudah tidak usah bantu nenek, kamu duduk saja di sini." Kakek menyuruh Zainel untuk duduk.
Setelah mereka mengucapkan terimakasih kepada tuan rumah yang telah menjamu mereka dalam acara makan malam bersama. Mereka berpamitan pulang kerumah masing-masing. Mereka berjalan pulang ke rumah Zainel mengendong baby Jane yang sudah terlelap tidur.
"Eh, kamu mau kemana?" Tary melihat Zainel berjalan melewati rumah kontrakan nya.
"Aku mau ngatarin kamu pulang sampai depan rumah." Zainel berhenti berjalan lalu dia membalikan badannya.
"Gak usah, aku bisa pulang sendirian lagian rumah aku cuma lima langkah dari sini. Lebih baik kamu masuk ke dalam rumah lalu tidurkan baby Jane di atas kasur." Tary melihat baby Jane yang tertidur pulas di gendong Zainel.
"Aku lihatin kamu dari sini, sana pulang terus cuci kaki, cuci tangan jangan lupa gosok gigi."
"Iya." Tary berjalan mendekati Zainel sehingga Tary sudah berdiri di hadapan Zainel.
"Kamu mau ngapain?" Zainel merasa gerogi saat mendapati Tary berdiri di hadapan nya.
__ADS_1
Cup
...~ Bersambung ~...