
"Berbahagialah tanpa pura-pura, agar orang tahu bahwa kamu itu manusia bukan kura-kura."
"Boleh." Zainel memberikan baby Jane kepada si perempuan itu.
"Baby Jane sini sama calon mama." Si perempuan mengambil baby Jane dari gendongan Zainel. Baby Jane sudah berada di gendongan si perempuan tersebut, saat bayi Jane sudah berada di gendongan si perempuan tersebut. Bayi Jane langsung menangis sehingga si perempuan tersebut berusaha untuk menghentikan tangisan baby Jane.
Oeak
Oeak
Oeak
"Cup baby Jane jangan nangis." Bujuk si perempuan tersebut kepada baby Jane, tetapi baby Jane makin menangis.
"Sini baby Jane sama papa."Zainel mengambil baby Jane dari gendong si perempuan tersebut, seketika itupu baby Jane berhenti menangis.
"Lah, baby Jane langsung berhenti nangis nya di gendong sama papanya." Si perempuan itu melihat baby Jane berhenti menangis saat berada di gendongan Zainel.
"Baby Jane tidak akan nangis kalau di gendong sama papanya dan Tary." Zainel mengendong baby Jane sambil di goyang-goyangkan.
"Masak sih baby Jane mau di gendong sama Tar yang tomboy itu." Si perempuan itu tidak percaya kalau baby Jane mau di gendong dengan Tary.
"Baby Jane tahu orang yang tulus menyayangi dia." Setelah mengatakan itu Zainel berjalan sambil mengendong baby Jane.
Sementara Tary yang berada di dalam kamar mandi sedang mencuci pakaian baby Jane dan pakaian miliknya setelah selesai baru lah Tary menjemur pakaian mereka di jemuran yang berada di belakang rumah. Tary melanjutkan mengerjakan pekerjaan rumah yang lain.
Tary sedang berada di teras rumah sambil melihat ke arah jalan. Tary tidak melihat keberadaan Zainel dan baby Jane.
__ADS_1
"Kemana sih dia bawak baby Jane?"
"Lihat panas matahari sudah terik."
"Sudah lah sebaiknya aku masuk ke rumah."
Zainel duduk di bangku yang berada di teras rumah pak Ustadz sambil memangku baby Jane.
"Halo baby Jane." Pak ustadz mencolek pipi baby Jane yang comel.
Baby Jane terlihat senang sembilan berbicara dengan bahasa bayi kepada pak ustadz.
"Masyallah baby Jane udah wangi dan cantik, siapa yang mandiin?" Pak ustadz mencium pipi baby Jane yang penuh dengan bedak, pak ustadz mencium wangi aroma minyak telon pada baby Jane.
"Tary abang ustadz."
"Bisa abang ustadz."
"Alhamdulillah kalau dia bisa memandikan dan mengurus baby Jane." Pak ustadz merasa bersyukur mengetahui Tary bisa mengurus baby Jane dengan baik.
Zainel sudah berdiri sambil mengendong baby Jane di depan pintu rumah Tary.
"Assalamu'alaikum." Zainel mengetuk pintu rumah Tary.
"Walaikumsalam, masuk aja pintunya gak di kunci." Teriak Tary yang sedang berada di dapur.
"Iya, kamu dimana?" Zainel membuka pintu rumah Tary, Zainel berjalan masuk sambil mengendong baby Jane. Mereka sudah tiba di ruangan tamu tapi tidak melihat keberadaan Tary.
__ADS_1
"Di dapur."
"Kamu sedang apa?" Setibanya Zainel di dapur melihat Tary sedang duduk di atas kursi yang berada di depan meja makan.
"Sarapan."
"Kamu kenapa sarapan duluan?" Zainel duduk di kursi sambil mengendong baby Jane.
"Habis nungguin kamu lama banget sih, kamu dari mana?" Setelah berbicara Tary melanjutkan. sarapannya.
"Rumah abang ustadz. Harusnya kamu tetap nungguin aku kan tadi aku udah bilang mau sarapan bareng kamu." Zaine berbicara sambil menekuk wajahnya.
"Ya sudah sekarang kamu juga sarapan."
"Sarapan mana?" Zainel melihat di atas meja makanan.
"Tuh yang di dalam kantong plastik."
"Lah kok masih di kantong plastik, harusnya kamu siapin sarapan buat aku."
"Nih piring sama sendoknya tinggal kamu buak dari bungkus plastik." Tary menyodorkan piring dan sendok kepada Zainel.
"Apa kamu gak lihat kalau aku lagi gendong baby Jane?"
"Lihat, terus aku harus apa?"
"Kamu tuangkan lah makanannya ke dalam piring." Zainel menyuruh Tary untuk menuangkan makanan yang berada di dalam kantong plastik ke dalam piring.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...