Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Bertemu Melvin


__ADS_3

Rony tak lagi menertawakan Alberto kembali, karena dia takut dengan ancaman Alberto. Sementara Kristina juga ikut tertawa.


"Ka Albe, jangan menyalahkan Rony. Memang wajah Ka Albe lucu sekali saat ngambek, aku saja gemes padamu." Kristina mencubit kedua pipi Alberto.


"Kamu mau ikutan seperti Rony! mau aku hukum kamu!" Alberto mengelitik pinggang Kristina.


Hingga Kristina tak tahan menahan tawanya sampai mengeluarksn air mata.


"Hhhaaa ampun, Ka Albe. Apa kamu nggak lihat, aku sudah nggak kuat menahan geli sampai air mataku keluar," Kristina menyerah jika Alberto sudah mengeluarkan jurus mengelitiknya.


Alberto menghentikan aksinya karena telah merasa puas dengan ulahnya.


Sementara di suatu tempat, Willdan dalam perjalanan pulang dari makan siang. Dia ingin kembali ke kantor, namun pada saat berhenti di lampu merah dia sangat terkejut.


Saat melihat orang yang sangat di kenalnya sedang mengemis di perempatan lampu merah.


"Loh, bukankah itu Om Melvin?papahnya Sherlyn, kenapa miris sekali hidupnya?" batin Willdan.

__ADS_1


Willdan berinisiatif menghampiri Melvin, saat mobil telah berjalan lagi, dia sengaja mengikuti kemana perginya Melvin.


Dan betapa terkejutnya Willdan saat mendapati Melvin masuk dalam sebuah rumah yang terbuat dari kardus bekas.


Willdan turun dari mobil dan menghampiri rumah kardus tersebut. Saat Melvin melihat siapa yang datang, dia akan menutup kembali pintu kardusnya. Namun Willdan menahannya.


"Om, ini Willdan. Apa om lupa padaku?" tanya Willdan.


"Pergilah, aku nggak ingin berurusan denganmu ataupun Kristin. Hidupku sudah sangat menderita karena ulah kalian berdua," Melvin berkata ketus.


"Dari mana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Melvin penasaran.


"Saat rambu lalu lintas berwarna merah, aku melihat om sedang meminta-minta. Dan aku mengikuti om hingga ke tempat ini," jawab Willdan singkat.


"Kamu ingin membantuku, bagaimana caranya?" tanya Melvin penasaran.


"Aku ingin mengangkat om dari lembah kemiskinan ini. Om akan kembali seperti dulu lagi, tinggal di rumah mewah dan bekerja di kantor," kata Willdan dengan tegasnnya.

__ADS_1


Sejenak Melvin menatap Willdan dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Bukannya kamu dulu telah bangkrut, tapi kenapa sekarang kamu sudah berpenampilan beda lagi?" Melvin mengernyitkan alisnya.


"Om nggak perlu tahu, bagaimana aku bisa bangkit dari keterpurukan. Sekarang om bersedia tidak, menerima bantuanku?" tanya Willdan memastikan.


Sejenak Melvin terdiam, seolah sedamg berpikir tentang penawaran dari Willdan.


"Kenapa aku sedikit ragu padanya, padahal niat dia baik. Tapi sepertinya di balik kebaikannya ada niat buruk yang terselubung. Tapi aku nggak tahu itu apa?" batin Melvin gelisah, diantara terima atau tidak tawaran dari Willdan.


"Om, aku memberi tawaran ini cuma sekali. Jika om menolak, suatu saat aku tidak akan datang kembali untuk menolong. Apa om mau, selamanya tinggal di rumah kardus ini? apa om mau, selamanya jadi pengemis?" Willdan terus saja membujuk Melvin.


"Baiklah, om terima tawaranmu. Tapi apakah ada hal yang om harus lakukan sebagai ganti pertolonganmu itu? apa kamu minta sesuatu dari om?" tanya Melvin penasaran.


"Hhaa, memangnya apa yang bisa aku minta dari om? bukannya om nggak punya apapun cuma rumah kardus ini yang om punya kan?" Ejek Willdan.


*********

__ADS_1


__ADS_2