
Setelah saling bercengkrama, Sendy mengajak Yesi makan bersama di sebuat cafe untuk membahas kerja sama mereka.
Setelah mereka sampai di cafe favorit anak muda, segera mereka memilih tempat duduk yang nyaman. Kemudian mereka memesan makanan kesukaan mereka, setelah duduk nyaman barulah Sendy membuka percakapan.
"Yesi, kita membenci orang yang sama yakni Kristina. Aku sudah berusaha mengajak Kristin bekerja sama dengan tujuan untuk menghancurkannya, tapi dia sama sekali nggak mau di ajak bekerjasama dengan alasan macam-macam." Kata Sendy panjang lebar.
"Terus, kamu minta aku harus bagaimana?" tanya Yesi penasaran.
"Ya, kita jebak saja kekasih Kristin. Kalau lewat Kristin tidak berhasil." Saran Sendy.
"Sudah sering aku menjebak mereka tapi tetap tak berhasil juga. Walaupun pada awalnya mereka sempat saling membenci tapi akhirnya bersama lagi." Yesi menghela napas panjang.
"Apa salahnya kita coba kembali, siapa tahu kali ini kita berhasil." Sendy berkata dengan percaya dirinya.
"Tapi aku sudah buntu, tidak punya cara apapun untuk menjebak Albert." Yesi mengeluh.
"Tenang saja, nanti aku bantu kamu. Sepertinya kali ini kita akan berhasil, kamu bisa memiliki Albert dan aku bisa tersenyum melihat Kristin patah hati." Sendy berkata dengan sangat yakin.
"Memangnya apa rencanamu, sih?" tanya Yesi penasaran.
Sendy kemudian berbisik pada Yesi tentang rencananya yang akan menjebak Alberto.
"Tapi aku nggak yakin bisa mendekati Albert, karena dia sangat membenciku." Yesi menghela napas panjang.
"Jangan pesimis dulu, berpura-puralah kamu minta maaf padanya. Dan setelah itu kamu jalankan aksinya. Jika kamu susah menjalankan misimu sendiri, nanti aku minta salah satu anak buahku membantumu." Kata Sendy meyakinkan Yesi.
"Baiklah, aku akan mencoba saran darimu." Ucap Yesi menyetujui kerjasamanya.
"Berarti kita deal ya, untuk bekerjasama menjalankan misi ini." tanya Sendy mengulurkan tangannya meminta berjabat tangan.
"Yups." Yesi menerima jabat tangan dari Sendy.
"Kini kita tinggal atur waktunya yang baik kapan?" tanya Yesi.
"Kira cari celah dimana Albert sedang lengah, saat itulah kita beraksi." Kata Sendy.
"Tapi jika gagal kamu jangan menyalahkanku, jujur aku nggak yakin dengan ide konyolmu ini." Yesi menghela napas panjang.
"Sudah di bilang baru saja, supaya jangan pesimis dulu." Sendy mengerucutkan bibirnya.
Hingga pada akhirnya rencana yang telah di susun oleh Sendy dan Yesi akan segera di laksanakan.
Pada malam dimana kebetulan Rony sedang tidak bisa menemani Alberto. Hingga terpaksa Alberto mengemudi mobilnya sendiri. Namun naas, baru seperempat jalan dan hujan lebat, mobilnya tiba-tiba nggak mau jalan.
"Sialan, disaat nggak bersama Rony malah seperti ini." Alberto keluar dari mobil seraya membawa payung kecil.
Dia mengecek roda mobilnya yang ternyata ban depan bocor.
"Aduh, pake bocor segala nech mobil. Padahal sedang hujan, nggak bawa ban cadangan. Ponsel batrenya habis. Duh, lengkap sudah deritaku malam ini." Alberto menggaruk kepala yang tak gatal.
Selagi bingung, ada sebuah mobil berhenti di depannya.
"Albert, kenapa mobilmu?" tanya Yesi berpura-pura.
Alberto menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.
"Loh, itu kan Yesi. Ternyata sudah pulang ke Indonesia?" batin Alberto.
Yesi keluar dari mobilnya seraya membawa payung kecil juga, menghampiri Alberto.
"Albert, di tanya kok nggak jawab? mobil kamu kenapa?" Yesi mengulang pertanyaanya.
__ADS_1
"Ban depan bocor dan kebetulan aku nggak membawa ban cadangan. Lagipula sudah malam seperti ini mana ada bengkel buka, apa lagi hujan lebat." Alberto memijit pelipisnya.
"Bagaimana kalau kamu numpang mobilku saja, nanti aku hubungi langganan servis mobilku untuk mengurus mobilmu." Yesi menawarkan tumpangan.
Namun Albert hanya diam saja, hingga Yesi berpura-pura pergi.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi saja kalau kamu menolak niat baikku." Yesi membalikkan badan dan akan melangksh ke mobilnya.
Namun Alberto akhirnya menyerah dan memanggil Yesi.
"Tunggu, aku ikut numpang mobilmu." Alberto melangkah terlebih dulu menuju mobil Yesi.
Alberto memilih duduk di jok belakang. Yesi sedikit kecewa, tapi mencoba menahan rasa kecewanya.
"Hem, cuacananya mendukung rencanaku ini." Batin Yesi seraya melajukan mobilnya.
Tak berapa lama sampailah di sebuah villa kecil, dan Yesi menghentikan mobilnya di halaman villa tersebut.
"Loh, kok kita berhenti di sini?" Alberto mengernyitkan alis.
"Baru juga ngomong, kamu sudah lupa. Ini villa temanku yang punya bengkel mobil. Kita kemari karena aku ingin meminta tolong temanku supaya lekas mengurus mobilmu." Yesi menjelaskan panjang lebar.
"Ting tong." Yesi memencet bel villa
Tak berapa lama keluarlah seorang pria muda menyapa Yesi dan Alberto.
"Eh kamu, Yes. Ada apa hujan lebat kok kemar, ayuk masuk dulu." Sang pemilik villa mempersilahkan masuk.
Dengan rasa enggan, Alberto mengikuti Yesi masuk ke villa tersebut. Yesi dan Alberto menjatuhkan pantatnya di sofa.
"Sebentar ya, aku buatkan minum dulu." pemilik villa masuk dalam menuju ke dapur membuat dua minuman hangat.
"Minumlah dulu, selagi hangat. Kalian kan dari luar pasti tubuh terasa dingin, kan?" Pemilik vila meletakkan kedua minumannya di meja.
Alberto hanya diam saja tak meminum jabe susunya, sementara Yesi meminumnya sampai habis.
"Kenapa kamu nggak minum? minuman otu aman nggak ada racunnya, kalau ada aku sudah mati saat ini juga. Apa kamu nggak merasa haus?" Yesi bertanya seraya mengernyitkan alis.
"Sebenarnya aku ragu untuk meminumnya, tapi aku sangat kedinginan dan haus. Karena aku alergi dingin, kalau nggak lekas minum hangat aku pasti menggigil." Batinnya seraya meminum jahe susu tersebuf.
"Akhirnya kamu terperangkap juga, sebentar lagi aku akan memilikimu seuntuhnya." Batin Yesi.
Alberto meminum jahe susu tersebut hingga habis tak tersisa. Namun setelah beberapa detik, mulailah Alberto merasakan gejala aneh.
Tubuhnya sangat panas dan hasratnya sangat menggebu-gebu.
"Kamu kenapa, Albert? apa alergimu kambuh?" Yesi berpura-pura khawatir.
"Nggak tahu, Yes. Bagaimana ini?" Alberto merasa sudah tak bisa membendung hasratnya.
"Apa mungkin di bawa tidur saja, bisa menghilangkan rasa yang sedang kamu rasakan saat ini." Saran Yesi.
"Baiklah, tolong bilang pada temanmu supaya mengijinkanku tidur sejenak di sini." Alberto sudah mulai kegerahan.
Yesi bangkit dari duduknya dan melangkah mencari pemilik villa.
"Sukses, sekarang tinggal rencana selanjutnya. Kamar ada CCTV kan?" bisik Yesi pada pemilik villa tersebut.
"Sudah di pasang kok, bos. Tenang saja, semua pasti sesuai rencana kita." Ucap pemilik Villa lirih.
Yesi lekas keluar bersama pemilik villa menemui Alberto.
__ADS_1
"Silahkan saja jika Tuan ingin istirahat di sini, saya malah merasa senang. Karena villa saya di singgahi orang penting seperti anda." Pemilik villa tersenyum ramah.
"Terima kasih." Jawab singkat Alberto.
Alberto lekas melangkah ke kamar yang telah di siapkan oleh pemilik villa. Yesi sengaja mengantarkan Alberto ke kamar dengan merangkul Alberto.
Karena pengaruh obat perangsang yang sangat kuat, saat mata Alberto melirik dua gundukan di dada Yesi, dia langsung bergejolak ingin sekali menjelajahnya.
Yesi sengaja membuat Alberto semakin tak bisa menahan gejolaknya.
"Yesi, bagaimana ini? aku sudah tidak kuat menahannya." Alberto mengeluarkan keringat dingin.
"Lakukanlah, aku ikhlas jika itu bisa membuatmu lebih baik." Yesi memancing gejolak Alberto.
Hingga terjadilah apa yang tak seharusnya terjadi, mereka berdua melakukan hubungan yang terlarang.
Alberto menyadari jika hal itu salah, tidak seharusnya di lakukan. Tapi entah kenapa dia tidak bisa membendung rasa itu. Semakin mencoba menahan gejolak yang ada, semakin dia merasa tersiksa dan rasanya tak kuat sama sekali.
"Bagus, Alberto. Akhirnya kamu terperangkap dalam jebakanku. Kini aku bisa menikmati belaianmu dan sentuhanmu secara nyata. Ternyata permainanmu sungguh luar biasa," batin Yesi bahagia.
"Apa yang sedang aku lakukan, kenapa aku malah seperti ini? melakukan hal ini pada Yesi?" batin Alberto.
Bahkan Alberto meminta pada Yesi bukan hanya sekali. Hingga mereka berdua terkulai lemas tak berdaya di tengah lebatnya hujan di malam hari. Mereka berdua tertidur nyenyak sekali, hingga pagi menjelang tiba.
Saat Alberto membuka matanya, dia terhenyak kaget menyadari dirinya polos tanpa sehelai benangpun.
Dan melihat kondisi Yesi juga sama tak ubahnya dengan dirinya. Bahkan ada sedikit noda di sprei.
Yesi sengaja melakukan hal itu, supaya saat Alberto sadar dia mengira kalau telah merenggut kehormatan Yesi.
"Yesi, kenapa kita seperti ini?" Alberto mengguncang tubuh Yesi.
"Bukannya kamu semalam yang memaksaku untuk melakukannya, hingga aku terpaksa memberikan mahkotaku padamu." Yesi pura-pura bersedih.
"A-aku pikir mimpi, tapi ternyata ini memang benar terjadi." Alberto memijit pelipisnya.
"A-aku minta maaf, Yesi." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Alberto.
"Bukan permintaan maaf yang aku butuhkan, tapi kamu harus tanggung jawab." Yesi menitikkan air mata.
"Tidak bisa, kamu kan rela melakukan itu bukan karena paksaan? kenapa aku harus tanggung jawab." Alberti menolaknya.
"Tega kamu, Albert. Setelah merenggut harta berhargaku, kamu mencampakkanku begitu saja!" Yesi mendengus kesal.
"Yesi, kamu tenang dulu. Biar aku pikirkan jalan keluarnya." Alberto mencoba menenangkan Yesi yang pura-pura panik.
Alberto meminjam ponsel Yesi untuk menelpon Rony supaya menjemput dirinya di villa. Setelah menunggu cukup lama, Rony datang dengan mengemudi mobil Alberto yang lain.
Rony merasa kaget melihat kebersamaan Yesi dan Alberto di sebuah villa. Apalagi saat tak sengaja Rony melihat tanda merah di leher Alberto dan Yesi. Suatu tanda kepemilikan.
"Apa aku nggak salah lihat, kenapa Tuan Albert bersama Yesi? dan sejak kapan Yesi pulang dari LA?" batin Rony di penuhi dengan tanda tanya.
Sementara Alberto selama di dalam mobil hanya diam saja. Dia sama sekali tak mengingat apa yang telah terjadi.
"Apa aku semalam benar-benar melakukannya bersama Yesi, tapi kok aku kok sama sekali nggak ingat ya. Seingatku sedang bermimpi," batin Alberto.
Seperginya Alberto Yesi tertawa riang, dia segera membayar pemilik villa dan meminta orang tersebut segera meninggalkan villanya.
Ternyata di villa tersebut juga ada Sendy, dia yang membayar mahal pemilik villa tersebut.
******
__ADS_1