Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Kecewa


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan dari Marwan, sejenak Irwan terdiam. Dia gelisah harus bagaimana, tapi di dalam hati dia tak menyalahkan Marwan.


"Pah, kenapa diam saja? sekarang kondisiku sudah seperti ini, mana mungkin ada pria yang mau denganku. Ini semua karena ulah Om Marwan dan Tante Mikha. Jika mereka tak mengurungku dan menjadikanku pembantu di rumahnya, aku nggak akan berniat kabur." Yesi terus saja meminta pertanggung jawaban pada Marwan atas apa yang menimpa dirinya.


"Yesi, om sama tantemu nggak bersalah. Ini kesalahanmu sendiri, kenapa pula berniat kabur. Apa yang di lakukan mereka untuk mendidikmu menjadi wanita mandiri dan tanggung jawab." Irwan menimpali.


"Kok papah malah membela mereka, bukan membela anak papah sendiri." Yesi mendengus kesal.


"Nak, jika kamu selalu mengikuti kemauanmu seperti yang lalu. Sama saja kami menjeremuskanmu dalam kesalahanmu. Kami menyadari, dulu salah dalam mendidikmu sehingga kamu tumbuh jadi seperti ini."


Dulu kami selalu mengikuti kemauanmu walaupun itu salah, tapi sekarang kami ingin kamu menuruti kemauan kami walaupun kamu tak suka demi kebaikanmu. Tapi kamu malah semaunya sendiri. Jadi apa yang menimpamu itu karena kesalahanmu sendiri, bukan kesalahan om dan tante."


Panjang lebar Papah Irwan mencoba menasehati Yesi. Namun Yesi tetap saja tidak mau mendengarkan perkataan Irwan.


"Aneh, punya orang tua kandung malah seperti orang tua angkat yang tega mengusir anak ke LA dan pada akhirnya aku harus mengalami hal pahit ini." Yesi beranjak bangkit dari duduknya seraya menghentakkan kaki dan berlalu melangkah masuk menuju kamarnya.


"Mas, mba. Kami benar-benar minta maaf atas apa yang telah menimpa Yesi, dan kami minta maaf pula karena usaha kami gagal untuk merubah Yesi menjadi lebih baik." Mikha tertunduk lesu.


"Sudahlah, kalian berdua tak usah merasa bersalah terus. Kami juga tidak menyalahkan kalian, karena kami telah paham akan sifat Yesi." Irwan berkata seraya menghela napas panjang.


Setelah bercengkrama cukup lama, Mikha dan Marwan berpamitan pulang.


"Mas, kami langsung pulang ya. Kebetulan sudah memesan tiket pesawat." Pamit Marwan mencoba tersenyum.


"Loh, apa nggak sebaiknya kalian bermalam dulu di sini. Cape dong, kalau langsung pulang." Irwan menimpali.


"Nggak lah, mas. Karena kami di LA sedang mengurus sesuatu yang sangat penting." Kata Marwan menolak kemauan Irwan untuk bermalam di rumahnya.


"Ya sudah, jika kalian tetap berkeras hati ingin pulang. Kami hanya bisa berpesan hati-hati di jalan, semoga tidak ada halangan dan selamat sampai tujuan." Irwan menepuk pundak Marwan.

__ADS_1


Mikha dan Marwan segera bangkit dari duduknya, mereka melangkah pergi dari rumah Irwan. Dari atas balkon, Yesi melihat kepergian Mikha dan Marwan.


"Sial, mereka lolos begitu saja! ini semua gara-gara papah, yang terlalu percaya omongan mereka, bukan omonganku!" Yesi mendengus kesal seraya memukulkan kepalan tanganya ke balkon.


"Pokoknya aku akan menghancurkan orang-orang yang telah menyakitiku satu persatu tanpa ampun, seperti yang mereka lakukan padaku. Tunggu pembalasanku pada kalian Om Marwan dan Tante Mikha."


Jika sakit hatiku pada Mom Elsa dan Rendra telah terbalaskan. Karena mereka saat ini sudah di penjara, sehingga aku tak perlu lagi mengotori tanganku ini."


"Aku juga akan merebut Alberto dari Kristina, bagaimanapun caranya aku harus mendapatkannya. Karena aku telah benar-benar cinta padanya."


Demikian serentetan ancaman yang keluar dari mulut Yesi untuk orang-orang yang menurutnya telah menyakitinya.


**********


Pagi menjelang, Yesi berinisiatif pergi ke mension Alberto. Dia ingin mendekati orang tua Alberto kembali, supaya bisa terbuka celah untuk bisa bersama Alberto.


"Kabar kami baik, bukannya kamu sedang di LA?" tanya Mickel mengernyitkan alis.


"Aku sudah pulang, om. Sampai di rumah jam tujuh malam." Jawab Yesi singkat.


"Terus untuk apa kamu kemar?" tanya Mickel dengan nada ketus.


"Ya ingin berkunjunglah, om. Ingin tahu kabar om, tante, dan juga Albert. Memangnya nggak boleh ya, om?" Yesi berlagak sok tak punya salah.


"Setelah apa yang kamu lakukan, dan segala kekacauan karena hasutanmu padaku. Kamu masih berani kemari, sama sekali nggak punya rasa malu ya?" Sindir Mickel ketus.


"Om dan tante, yang telah terkena hasutan oleh Kristin. Sehingga membenciku dan memihak padanya. Begitu pula dengan Albert yang dulu baik padaku kini berubah semua karena pengaruh buruk Kristin. Kenapa kalian nggak sadar juga sih?" Yesi terus saja merasa jika dirinya tak pernah salah.


"Sudahlah, Yesi. Lebih baik kamu pulang saja, dan jangan pernah datang lagi kemari. Karena kami sama sekali sudah tak percaya dengan bualanmu dan hasutanmu lagi." Mickel mengusir Yesi.

__ADS_1


"Jangan seperti itu, om. Aku datang jauh-jauh dan baru pulang dari LA yang aku temui kan om dan tante terlebih dulu. Bukannya aku di persilahkan duduk dulu, di buatkan minum dulu. Bukannya ada pepatah jika tamu itu adalah raja?" Kembali lagi Yesi tetap pada pendirian tak mau pergi.


"Tamu adalah raja, pepatah bagi mereka. Tapi jika untukmu tamu adalah racun. Karena kami telah kamu racuni dengan perkataan burukmu tentang Kristin." Mickel berkata lantang seraya berkacak pinggang.


"Yesi, pulanglah. Lain waktu saja kamu kemari lagi." Rachel mencoba mengusir Yesi secara halus.


"Baiklah, tante. Aku akan pulang, tapi lain kali aku datang kemari untuk bertemu Albert." Yesi melangkah pergi begitu saja meninggalkan halaman mension Alberto.


"Sial, ternyata orang tua Albert sudah berpihak pada Kristin, susah dong jika aku mencoba meluluhkan hati Albert kembali " Batin Yesi seraya memainkan ponsel baru pemberian Irwan.


Yesi sedang memesan taxi on line di aplikasi GRAB. Karena belum mendapat ijin untuk mengemudikan mobil sendiri.


"Setidaknya papah sudah memberikanku ponsel baru ini, walaupun belum mengijinkanku mengemudi mobil." Batinnya seraya menghela napas panjang.


Selagi asik melihat aplikasi GRAB sambil berjalan, hampir saja Yesi tertabrak mobil. Untuk pengemudi mobil tersebut segera menginjak remnya.


"Heh, bisa nggak kalau jalan pake mata! " bentak Sendy pada Yesi.


Yesi yang sedari tadi menutup mukanya dengan kedua tangan karena dia berpikir akan tertabrak, segera membuka tangannya.


"Heh, justru aku yang harusnya marah sama kamu! gara-gara kamu ponsel baruku jatuh dan rusak, lihat itu! dan aku minta ganti dengan ponsel baru!" Yesi menunjuk ponselnya yang jatuh di bawah.


"Kamu yang salah bermain ponsel di jalan raya nggak lihat jalan. Kok minta ganti rugi?" Sendy menyeringai licik.


"Jadi kamu nggak mau mengganti ponselku, baiklah aku akan buat kamu di pukuli warga sekitar!" ancam Yesi tersenyum licik.


"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan?" Sendy tersenyum mengejek.


**********

__ADS_1


__ADS_2