
Seperginya Mamah Elsa, Alberto mendengus kesal.
"Heran, kok bisa Titin menikah dengan seorang Willdan yang sangat pengecut." Alberto geleng-geleng kepala.
"Lelaki kok seperti wanita, payah banget. Bisanya ngadu sama orang tua," Alberto menghela napas panjang.
Sementara Mamah Elsa pulang di rumah dalam kondisi murung.
"Mah, katanya belanja bulanan kok pulang nggak bawa apa-apa?" tanya Willdan heran.
"Mamah habis ngelabrak presiden direkturmu yang sombong itu," Mamah Elsa menjatuhkan pantatnya di sofa.
"Mah, bikin malu saja. Dikira Willdan ini lelaki tukang ngadu," Willdan sangat kesal.
"Mamah juga kesal sama kamu, kok bisa kamu berhubungan intim dengan Sherlyn di abadikan lewat vidio? sampai rekaman vidiomu ada di tangan Presiden Direktur sombong itu!" Mamah Elsa melotot kesal pada Willdan.
"Hah, kok bisa mah? aku juga nggak tahu mah, pasti ini ulah Kristin!" Willdan semakin tambah emosi.
"Ohh jadi ini ulah mantan istrimu yang sok kaya itu, lihat saja! mamah juga akan labrak dia dan buat perhitungan dengannya!" Mamah Elsa ikut saja emosi.
"Jangan, mah! biar masalah Kristin, Willdan yang hadapi. Biar Willdan saja yang memberi pelajaran padanya, biar tahu rasa!" Willdan berlalu pergi begitu saja.
Dia berinisiatif ke puncak dimana ada saat ini Kristin bertempat tinggal. Willdan benar-benar ingin memberi pelajaran pada Kristin.
Dia pergi dengan memesan taxi on line, karena sama sekali sudah tidak memiliki kendaraan apa pun.
Satu jam perjalanan sampailah Willdan di apartement milik Kristin. Namun saat dirinya akan melangkah ke halaman apartement, telah di hadang oleh dua pria bertubuh tinggi kekar.
"Heh, siapa anda main nyelonong halaman rumah Nona Kristin!" tanya salah satu bodyguard.
"Oh, jadi sekarang rumah Kristin di jaga oleh kalian berdua. Masa kalian tidak tahu, saya ini mantan suaminya!" Dengan bangga Willdan mengatakan hal itu.
"Oh, mantan suami yang tukang selingkuh itu!" Salah satu bodiguard tersenyum mengejek.
"Jaga ucapanmu! kalau tidak!..Sejenak Willdan menghentikan ucapannya saat melihat postur tubuh dua bodiguard di hadapannya, secara dia juga sama sekali tak bisa bela diri.
"Kalau tidak apa,hah!" salah satu body guard menghampiri Willdan.
"Heh,bro. Santai saja, saya kemari hanya ingin bertemu dengan anak saya. Jadi nggak usah sampai seserius ini," Willdan mulai ketakutan dan panik.
__ADS_1
Salah satu body guard bergerak cepat menelpon Alberto.
📱" Maaf, Tuan. Di rumah Nona Kristin ada mantan suaminya yang memaksa masuk dengan alasan ingin menjenguk anaknya."
📱" Jangan biarkan masuk, karena Kristin masih sakit. Seret saja dia keluar."
📱"Baik, Tuan. Siap laksanakan tugas.
Setelah itu, body guard ini menutup telponnya dan menghampiri temannya yang masih bersitegang dengan Willdan. Dia membisikkan sesuatu ke telinga temannya.
"Pergilah, untuk saat ini Nona Kristin sedang tidak bisa di ganggu karena sedang sakit," sang body guard menyuruh Willdan pergi.
"Bohong, pasti ini cuma akal Kristin saja! Kristin, keluar kamu!" Willdan malah nekad berteriak.
Hingga dua body guard menyeret paksa Willdan keluar dari halaman apartement Kristina.
"Lepaskan! kalian berdua tidak berhak memperlakukan hal ini padaku! lepaskan!" Willdan terus saja berteriak.
"Diam! atau aku gampar mulut kotormu itu!" salah satu body guard sangat emosi.
Akhirnya Willdan tak berani lagi berteriak, dia menyerah ketika di seret paksa keluar dari halaman apartement Kristina.
"Sampai sebegitunya, rumah saja di jaga sama body guard?" gerutu Willdan seraya terus berjalan menuju jalan raya.
Kristina segera bangkit dan memeriksa ke halaman apartement.
"Kok nggak ada siapa-siapa, perasaan tadi aku mendengar seperti ada yang berteriak memanggil namaku." batin Kristina.
"Ah, mungkin tadi aku bermimpi." Kristina melangkah masuk kembali dengan langkah yang sangat pelan karena kondisi belum sehat betul.
Sementara Alberto mencari tahu tentang situasi di rumah Kristina.
📱" Hallo, apakah orang rese itu telah kalian usir?"
📱" Sudah, Tuan. Sempat menolak pergi dan bahkan berteriak memanggil nama Nona Kristin, hingga kami terpaksa menyeretnya pergi."
📱" Baguslah, jangan biarkan orang rese itu datang lagi. Selalu waspada, jika ada apa-apa telpon saya seperti tadi. Jangan mengambil keputusan sendiri. Dan jangan sekali-sekali menerima tamu tanpa se ijinku."
📱" Baik, Tuan. Siap laksanakan."
__ADS_1
Kembali Alberto menutup telponnya.
"Dasar pria rese, untuk apa pula datang menemui Titin!" gerutu Alberto geram.
"Kenapa Rony sampai sekarang belum memberitahu tentang pengintaiannya terhadap Melvin dan Sherlyn," Alberto segera menelpon Rony.
📱" Ron, bagaimana penyelidikanmu pada Melvin dan Sherlyn? kok sampai sekarang belum ada kabar?"
📱" Maaf, Tuan. Sejauh ini saya belum mendapatkan perkembangan dari penyelidikan saya."
📱" Tolong gerakmu di percepat jangan lambat seperti siput!"
Kemudian Alberto menutup sepihak telponnya, membuat Rony menghela napas panjang dari balik telponnya.
"Dasar bos arogan, belum juga selese ngomong sudah di tutup telponnya." Gerutu Rony memdengus kesal.
"Punya asisten kerjanya lambat seperti siput," gerutu Alberto mendengus kesal.
Majikan dan anak buah sama-sama menggerutu. Sama-sama menyalahkan satu sama lain.
Berbeda situasi di rumah Sherlyn, saat ini Melvin sedang mengeluh.
"Kenapa usahaku semakin hari bukan semakin baik malah semakin lebih buruk, kalau seperti ini lama-lama aku bisa benar-benar bangkrut." Gerutu Melvin menepuk jidatnya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan jika seperti ini, punya keponakan kaya raya tetapi aku tak akur dengannya. Itu semua juga karena kesalahanku sendiri karena mengikuti kemauan Sherlyn hingga akhirnya dia memusuhiku," gerutunya kembali.
Selagi asik melamun sendiri, datanglah Sherlyn menghampiri.
"Pah, sebenarnya ada apa kok akhir-akhir ini sering seperti ini melamun sendiri?" Sherlyn merasa penasaran.
"Ini semua gara-gara ulahmu, jika tidak pasti saat ini usaha papah baik-baik saja!" bentak Melvin menatap sinis Sherlyn.
"Pah, aku bertanya baik-baik kok malah di jawab ketus dan menyalahkan aku. Memang kesalahan apa yang telah aku perbuat? selama ini aku tidak pernah mengurusi tentang perusahaan papah." Sherlyn merasa tidak mengerti dengan ucapan Melvin.
"Kamu masih bertanya dan seolah tak tahu apa yang telah kamu perbuat! gara-gara kamu merebut Willdan, hingga Kristin merebut beberapa klien ternama papah. Kini usaha papah di ambang kehancuran," Melvin mendengus kesal melirik sinis pada Sherlyn.
"Pah, tenang saja. Sherlyn telah berhasil menyingkirkan Kristin, sebentar lagi pasti ada berita bela sungkawa tentang Kristin. Setelah itu kita bisa ambil alih semua perusahaanya, karena hanya kita saudaranya." Sherlyn berkata dengan sangat percaya diri.
"Kegilaan apa lagi yang telah kamu lakukan pada Kristin! jangan sampai nanti papah ikut terbawa buruk lagi karena ulahmu!" bentak Melvin.
__ADS_1
*********
Mohon dukung like,vote,favoritnya...