Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Kembali Normal


__ADS_3

Alberto benar-benar telah pulih seperti sedia kala. Kini dia sudah bisa menerima kenyataan jika orang tuanya telah meninggal.


Saat ini dia barulah ingat akan masa indah yang sempat terlewati begitu saja.


"Sayang, aku minta maaf. Karena aku kita jadi tidak merasakan indahnya malam pertama juga honeymoon," Alberto menghampiri Kristina.


"Biasa saja, ka. Nggak usah seperti itu." Kristina tersipu malu.


"Biasa bagimu tapi bagiku tidaklah biasa, mulai malam ini dan malam-malam selanjutnya aku tidak akan melepaskanmu dalam pelukanku begitu saja," Alberto mengedipkan matanya.


"Sayang, bagaimana dengan honeymoon kita yang sempat tertunda?" Alberto mengernyitkan alisnya.


"Hem, terserah kakak saja. Jika tah honeymoon juga nggak masalah buatku kok ka." Kristina menyunggingkan senyumamnya.


Kini hari-hari mereka selalu bahagia, karena Exl sudah kembali ke luar negeri. Dia ketakutan akan ancaman Alberto. Dia tidak ingin kejahatannya terhadap orang tua Alberto terbongkar.


Sementara di saat orang tua Yesi putus asa dengan nasib Yesi. Kini dirinya telah sadar dari komanya. Namun kondisinya miris, karena Yesi sama sekali tidak ingat pada dirinya sendiri apa lagi pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Orang tua Yesi sangat bersyukur karena Yesi telah sadarkan diri, walaupun dia mengalami hilang ingatan.


"Pah, anak kita telah sadar. Tapi sayangnya, dia saat ini hilang ingatan. Bagaimana ini, pah?" Leni menatap sendu Irwan.


"Mah, papah malah bersyukur jika saat ini Yesi hilang ingatan. Jadi kelak dia tidak berulah lagi, dan kita bisa mendidiknya dari awal kembali supaya dia menjadi wanita yang baik. Ada hikmah di balik hilang ingatannya Yesi, ini malah keuntungan buat kita." Irwan menenangkan hati Leni.


"Benar juga yang papah katakan, kenapa aku nggak berpikiran sampai di situ ya?" Leni terkekeh.


Saat ini juga Yesi telah di ijinkan pulang ke rumah oleh dokter. Yesi seperti orang bingung, saat dia di bawa pulang oleh Irwan dan Leni.


"Kamu akan pulang ke rumahmu," Leni mengusap surai hitam Yesi.


"Rumah, jadi sekarang ini aku bukan berada di rumahku? lantas dimana rumahku?" Yesi masih saja seperti orang linglung.


"Ini rumah sakit, kamu sakit makanya berada di sini. Tapi sekarang kamu telah sembuh, makanya dokter mengijinkanmu pulang ke rumah," kembali lagi Leni yang berkata.


"Sakit? memangnya aku sakit apa? padahal aku merasa baik-baik saja,"Yesi mengerutkan alisnya.

__ADS_1


Leni hanya bisa menghela napas seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Yesi yang sekarang.


"Sudahlah, sekarang kita pulang dulu ke rumah. Nanti di rumah kalian bercerita kembali," sela Irwan saat melihat Leni sudah mulai lelah untuk menjawab pertanyaan dari Yesi.


Mereka bertiga segera pulang ke rumah, selama di dalam mobil, Yesi tidak berkata lagi. Saat ini dia sibuk memandang di sekeliling jalan. Sesekali Yesi tersenyum sendiri jika melihat sesuatu yang dia sukai.


"Ada apa denganku, kenapa aku lupa dengan diriku sendiri? siapa aku, dan apa benar yang ada bersamaku ini adalah orang tuaku?" serentetan pertanyaan Yesi dalam hati untuk dirinya sendiri.


Tak berapa lama sampailah mereka di rumah, kembali lagi Yesi seperti orang bingung saat melihat rumahnya sendiri.


"Apa sebelumnya aku tinggal di sini, di rumah sebesar ini?"Yesi mengamati rumah sendiri seperti heran.


********* T H E E N D******


Mohon maaf jika karya tak seindah penulis handal, karena tahap belajarπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Terima kasih untuk para readers yang sudi singgah di karya remahan ini.

__ADS_1


__ADS_2