Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Datang Ke Indo


__ADS_3

"Titin, aku ingin kita segera menikah." Alberto menghampiri Kristina yang sedang asik berkutat dengan berkas kantornya.


"Ka, bukannya kemarin aku sudah bilang. Jika daddy Ka Albe belum merestui kita, aku juga belum bersedia menikah denganmu." Kristina menutup berkasnya dan bangkit dadi kursi kerjanya beralih ke sofa.


Lantas Alberto juga menghampirinya, duduk di samping Kristina.


"Sayang, daddy sifatnya keras kepala. Sekali berucap tidak ya tidak, lantas bagaimana kalau kamu masih saja mengharap restu dari daddy? kita tidak akan bisa menikah," Alberto menatap sendu Kristina.


"Ka, batu saja yang keras bila terus di tetesi air bakalan berubah. Apa lagi daddy yang hanya seorang manusia, pasti suatu saat bisa luluh. Jika keras janganlah kita hadapi dengan keras pula. Ibarat api jangan di hadapi dengan api, pasti akan jadi kebakaran. Tapi jadilah air untuk menyiram api tersebut," Kristina menyunggingkan senyum.


"Misalkan daddy bisa berubah, tapi pasti lama. Aku sudah ingin hidup bersamamu," Alberto menghela napas panjang.


"Ka, semua butuh proses tidak instan. Jika terburu-buru hasilnya nggak bagus, ikuti berproses dan bersabarlah. Jika kita berjodoh pasti sekeras apapun hambatan akan bisa kita lalui.Jadi yakinlah akan kuasa Tuhan," Kristina kembali lagi mencoba memberi pengertian pada Alberto.


"Hem, ya sudahlah. Aku ikuti saja alurnya, tapi aku harap kamu selalu setia padaku. Aku khawatir seperti dulu, aku menantimu lama. Malah nggak tahunya kamu telah menikah bahkan menjanda," Alberto melirik sejenak.


"Hem, itu bukan salahku sepenuhnya. Salah siapa Ka Albe menghilang begitu saja, nggak ada kabar sama sekali. Bahkan hampir setiap hari aku selalu datang ke danau dimana kita biasa bertemu. Bahkan sampai aku dewasa masih berharap padamu, tapi nggak juga bertemu." Pandangan Kristina menerawang jauh.


"Maafkan, aku. Saat itu aku harus ikut orang tuaku kembali ke AS, bahkan saat aku ingin kembali ke Indo hanya untuk sekedar bertemu denganmu, orang tuaku melarangku. Aku balik ke Indo saat ada beberapa rekan kerja di Indo." Alberto merasa bersalah pada Kristina.


"Sudahlah, ka. Nggak usah merasa bersalah, semua telah di gariskan oleh Sang Maha Kuasa. Alur telah di tentukan, kita cuma sebagai pemerannya saja." Kristina mengusap lengan Alberto seraya tersenyum ramah.


"Baik, bu guru yang cantik." Alberto menggelitik pinggang Kristina.


Membuat Kristina tak tahan menahan tawanya karena rasa geli yang mendera.


"Ist, sudah ka. Malu di dengar oleh para karyawanku." Kristina menahan tangan Alberto supaya tidak kembali menggelitik perutnya.


Hingga akhirnya Alberto berhenti dan duduk dengan diam tanpa mengganggu Kristina lagi.


Sementara di AS, Daddy Mickel mengajak Mommy Rachel untuk ke Indonesia.


"Mom, bersiap-siaplah. Karena kita akan segera ke Indo hari ini juga. Daddy sudah pesan tiket pesawat." Daddy Mickel sedang berkemas sendiri.

__ADS_1


"Baiklah, dad." Mommy Rachel tak banyak bicara, dia langsung berkemas sesuai perintah suaminya.


Setelah mereka selesai berkemas, segera mereka pergi ke bandara bersama dua asisten pribadi mereka.


Setelah beberapa jam melakukan perjalan di udara, sampailah orang tua Alberto di mension Alberto.


Daddy Mickel langsung menuju kamarnya tanpa menyapa Alberto. Berbeda dengan Mommy Rachel yang langsung menghampiri anaknya.


"Mom, kok nggak kasih kabar mau kemari? kan Albert bisa jemput." Alberto memeluk Mommy Rachel.


"Mommy cuma mengikuti kemauan daddy, dia nggak bilang apa-apa cuma bilang mau kemari." Mommy Rachel tersenyum seraya mengusap lembut bahu Alberto.


"Apa mungkin daddy telah berubah pikiran ya, mom?" Alberto menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Entahlah, nak. Karena daddy sama sekali nggak berbicara apapun, semoga saja memang daddy telah berubah pikiran," Mommy Rachel tersenyum kecil.


"Heh, jangan mimpi kalian berdua. Aku kemari bukan ingin memberi restu, justru ingin memperingati janda itu supaya menjauh dari Albert!" tiba-tiba Daddy Mickel datang dan berkata dengan nada tinggi.


"Albert tidak akan membiarkan daddy menyakiti hati Titin dengan semua umpatan dan kata-kata daddy," Alberto mendengus kesal.


Alberto mendengus kesal dan berlalu pergi dari hadapan orang tuanya. Sementara Daddy Mickel menelpon Yesi untuk mencari tahu tentang keberadaan Kristina.


πŸ“±" Hallo, Yesi. Ini Om Mickel."


πŸ“±" Bagaimana kabar, om?"


πŸ“±" Baik, saat ini om dan tante sudah berada di Indo. Tolong beritahu om dimana rumah Kristina. Karena om ingin memberi pelajaran padanya."


πŸ“±" Baiklah, om. Ntar Yesi jemput om saja, kita ke rumah Kristin bersama."


πŸ“±" Baiklah kalau begitu, om tunggu kalau bisa kamu secepatnya kemari."


πŸ“±" Iya, om. Ini Yesi sedang dalam perjalanan ke mension Albert."

__ADS_1


Keduanya sama-sama menutup panggilan telponnya. Daddy Mickel melangkah ke teras depan rumah untuk menunggu kedatangan Yesi.


Sementara Alberto telah pergi ke kantor Kristina kembali. Dia ingin mengajak Kristina pergi sejenak dari kantor, untuk menghindari pertemuannya dengan Daddy Mickel.


"Loh, kaka kemari lagi?" Kristina mengernyitkan kening saat melihat kedatangan Alberto.


"Aku ingin mengajakmu keluar sebentar." Alberto menghampiri Kristina seraya menggandeng tangannya.


"Memangnya mau kemana, ka?" Kristina mengerutkan kening.


"Sudah, ikut saja. Ntar juga kamu tahu." Alberto hanya mengedipkan matanya seraya terus saja menggandeng tangan Kristina.


Daddy Mickel saat ini bersama Yesi sudah ada di depan kantor Kristina.


"Yes, ini kantormu?" Mickel terpesona menatap bangunan megah bertingkat.


"Bukan, om. Ini kantor Kristin, katanya om mau bertemu dengannya." Yesi menimpali.


"Apa, jadi Kristin seorang wanita karir? aku pikir cuma janda biasa," gerutu Mickel dalam hati.


"Om, kenapa diam saja? kalau om mau bertemu Kristin, dua kantor bersebelahan milik dia. Om tanya saja pada securty saat ini Kristin ada di kantor yang mana. Tapi aku nggak ikut ya, om." Yesi tersenyum kecut.


"Kenapa, kamu takut padanya?" Mickel mengernyitkan alis.


"Ya, om. Kristin itu galak banget, sama Albert apa lagi. Sama para pekerja lainnya juga, padahal dia disini juga cuma sebagai karyawan. Karena bos dia baik, jadi dia di angkat jadi direktur di dua perusahaan besar itu, om." Kata Yesi berbohong.


"Hem, om pikir aku nggak tahu. Pasti tadi om merasa takjub dengan perusahaan ini, dan akan memuji Kristin," batin Yesi kesal.


"Oh, begitu ya. Ya sudah, om masuk dulu. Kamu pulang saja nggak apa-apa, ntar om telpon asisten om untuk menjemput kemari." Mickel berkata pada Yesi.


"Baik, om. Kalau begitu Yesi pamit pulang dulu, ingat om yang hati-hati sama Kristin. Sebelum dia nyolot dan berkata kasar, kalau bisa om duluan yang hardik dan bentak dia." Yesi mencoba memprovokasi.


*******

__ADS_1


Mohon maaf jika karya belum keren, tahap belajarπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2