Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Yesi Tidak Terima


__ADS_3

"Albe, kenapa kamu tidak bilang pada daddy sejak awal! hanya bikin malu saja!" daddy Mickel menjatuhkan sendok dan garpu di piring.


"Maafkan Albe, dad. Semula Albe pikir bisa membuka hati ini buat Yesi, tapi ternyata tidak bisa," Alberto menunduk lesu.


"Sudahlah, tak usah di ributkan. Anggap saja Albert tidak berjodoh dengan anakku," Om Irwan melerai perdebatan antara Alberto dan Mickel seraya menghela napas panjang.


"Maafkan anakku, Wan. Aku sungguh tak bisa berucap jika sudah seperti ini, aku benar-benar malu padamu." Mickel menunduk lesu.


"Sudahlah, Mickel. Aku tidak apa-apa kok, kamu nggak usah berpikiran yang macam-macam, intinya kita masih tetap sahabat dan masih bisa berhubungan kok." Irwan mencoba tersenyum walaupun hatinya sakit.


Makan malam berlalu begitu saja, tanpa ada keceriaan sama sekali. Di akhiri dengan senyum keterpaksaan satu sama lain.


"Pah, aku nggak terima di perlakukan seperti ini oleh Albert!" Yesi kesal memukul-mukul lengan kursi.


"Kamu harus bisa terima, lagi pula kenapa kamu tak jujur pada papah jika sebelumnya Albert telah menolakmu?" Irwan melirik sinis pada Yesi.


"Pikirku, Albert itu cuma permainannya. Dia tidak sungguh-sungguh menolakku, makanya aku tidak berkata apa pun pada papah dan mamah," Yesi terus saja membela diri.


"Sudahlah, Yes. Untuk apa di ributkan, dunia tak seluas daun kelor. Masih banyak lelaki tampan dan kaya yang kelak mau menikah denganmu," nasehat Mamah Mirna.


"Tapi aku merasa terhina, mah. Masa aku di tolak mentah-mentah, memangnya kurang apa diriku ini!" Yesi keras kepala.


"Mau bagaimana lagi, jika Alberto tidak bersedia denganmu ya tidak akan ada yang namanya pernikahan! apa kamu mau tetap menikah dengannya tapi dia tidak mencintaimu!" bentak Papah Irwan.


"Tapi aku sudah terlanjur cinta padanya, bagaimana bisa aku melepasnya begitu saja!" Yesi terus saja berkeras dengan hatinya.


"Pokoknya, papah nggak mau kamu bertindak konyol hanya untuk sesuatu hal yang tidak pasti! awas kalau kamu berulah! " ancam Papah Irwan.


Setelah mendapat ancaman dari papahnya, Yesi hanya diam saja. Namun di dalam hati ada rasa bergejolak ingin tetap bisa memiliki Alberto entah bagaimana caranya.


Sementara di kediaman Alberto, saat ini Mickel sedang emosi tingkat dewa.


"Sungguh keterlaluan, kamu temah membuat malu daddy! tega sekali kamu, Albe!" bentak Mickel seraya mendengus kesal.

__ADS_1


"Dad, sudahlah. Irwan saja bisa menerima semua ini, kenapa daddy malah begini? ingat kesehatanmu, dad." Rachel berusaha menenangkan hati suaminya.


"Mom, sebaiknya kita kembali ke AS sekarang juga! Daddy males tinggal disini, mending!" Mickel bangkit dari duduknya berlalu begitu saja pergi dari hadapan Rachel dan Alberto.


"Nak, kamu yang sabar ya. Kamu jangan ikur terbawa emosi oleh sikap daddy," Rachel mengusap bahu Albert seraya berlalu menyusul Mickel.


Alberto hanya tersenyum simpul dan menghela napas panjang.


****


Pagi menjelang, ternyata Mickel benar-benar memutuskan untuk kembali ke AS. Bahkan tak bertegur sapa pada Alberto, hanya Rachel saja yang berpamitan padanya.


"Dad, mom. Kalian hati-hati di jalan dan jaga kesehatan kalian." Pesan Alberto.


"Kamu juga jangan terlalu cape, sering kirim kabar ke kami," ucap Rachel seraya tersenyum.


Mickel telah terlebih dulu berada di dalam mobil tanpa menunggu Rachel. Dirinya masih marah pada Alberto, hingga sama sekali tak berkata.


******


"Aku akan menyelidikimu, Albert. Apakah ada wanita yang sedang kamu dekati, jika ya aku akan menyingkirkannya. Aku tidak bisa memilikimu, wanita lain pun tidak boleh mendapatkanmu," batin Yesi menyeringai sinis.


Yesi memerintah anak buahnya untuk menyelidiki dan mengikuti setiap apa pun yang di lakukan oleh Alberto.


Hanya beberapa jam saja, anak buahnya telah datang dengan membawa kabar berita baik.


"Nona, kami telah mendapatkan satu informasi. Jika ternyata saat ini Tuan Alberto telah mendekati seorang janda beranak satu. Namun janda ini seorang wanita karir yang sangat sukses." Anak buah Yesi menunjukkan beberapa foto Kristina dan anaknya.


"Hem, kerjamu bagus tidak seperti temanmu yang lain. Aku akan memberikanmu bonus, tunggu saya transferan dariku. Oh iya, apakah kamu tahu dimana alamat rumah dan kantor wanita ini serta siapa namanya?" tanya Yesi menyelidik.


"Namanya Kristina, bertempat tinggal di apartement di puncak. Alamat kantor di jalan BQ," jawab anak buahnya tegas.


"Bagus, kembalilah ke tempatmu. Jangan lupa ponsel selalu aktif, karena suatu saat aku pasti butuh kamu kembali," perintah Yesi.

__ADS_1


"Baiklah, Nona. Saya permisi." Anak buah Yesi berlalu pergi dari rumahnya.


"Hem, ternyata ini yang jadi penghalang aku tidak bisa bersanding dengan Albert. Heran, apa mata Albert perlu kaca mata? Kalau di lihat lebih dari aku segala-galanya. Aku cantik, muda, modis, dan single. Sementara wanita ini cuma seorang janda beranak satu, apa hebatnya dia?" Yesi ngoceh sendiri seraya mecibir foto Kristina.


Entah apa yang ingin di lakukan oleh Yesi untuk mencelakai Kristina.


Berbeda suasana saat ini di kantor Kristina, dirinya sedang kedatangan tamu penting yakni klien barunya yang bernama Irwan.


"Terima kasih, Nona Kristin. Persentase anda sangat luar biasa, saya sangat puas dan saya telah memutuskan untuk kita bekerjasama," Irwan menyalami Kristina seraya tersenyum lebar.


"Sama-sama, Tuan Irwan. Saya juga merasa tersanjung karena bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan senior milik anda," Kristina tersenyum ramah.


"Aku sungguh takjub dengan wanita muda ini, biar pun dia seorang single parent, tapi bagaikan wonder mowan. Sukses di usia muda, tanpa ada campur tangan dari siapa pun. Alangkah bahagianya aku, jika Yesi bersikap mandiri seperti Kristina tanpa bergantung padaku. Tapi sayangnya anakku terlalu manja, dan hanya fisik yang di utamakan." Batin Irwan.


"Maaf, Tuan. Apa ada yang ingin anda tanyakan kembali?" tanya Kristina mengagetkan lamunan Irwan.


"Oh, tidak ada. Baiklah kalau begitu saya permisi, karena masih ada urusan lain yang harus saya selesaikan hari ini juga." Kembali lagi Irwan menjabat tangan Kristina, kemudian beranjak bangkit dan pergi dari kantor Kristina.


Seperginya Irwan, datanglah Alberto menyambangi kantor Kristina. Dengan membawa kejutan untuk hadiah ulang tahun Kristina.


"Happy birdhday to you," Alberto menaburkan bunga tepat di atas kepala Kristin.


"Ka Albe, buatku kaget saja. Terima kasih, dari mana kakak tahu hari ulang tahunku?" Kristina menyelidik.


"Albe gitu loh, apa sih yang nggak tahu semua tentang dirimu?" Alberto menaik turunkan alisnya.


"Titin, terimalah kado dariku ini. Aku harap kamu mau memakainya setiap waktu," Alberto memberikan sekotak perhiasan dari berlian murni.


"Ka, ini terlalu berlebihan. Pasti ini mahal, sayang kan ka," Kristina merasa tidak enak hati.


********


Mohon dukungan like, vote, favorit..

__ADS_1


__ADS_2