Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Masa Bodoh


__ADS_3

Setelah mendengar penuturan dari aparat polisi, Sendy menjadi panik. Dia sudah membayangkan jika akan di hukum lama.


"Aduh, bagaimana nech? kalau aku mendapat hukuman dalam jangka panjang, perusahaanku yang di luar negeri pasti akan terbengkalai," batin Sendy seraya menghela napas panjang.


"Kamu itu di hasut oleh Willdan, dan di bodohi. Untuk apa kamu menyia-nyiakan waktumu hanya untuk membalaskan dendamnya. Sekarang kamu di sini, mana kakak kesayanganmu itu?" Alberto tersenyum sinis.


"Ada benarnya juga yang di katakan Albert, kenapa Ka Willdan sama sekali nggak datang kemari?" batin Sendy pikirannya kalut.


Untuk sementara waktu, Sendy di masukkan ke dalam sel. Karena aparat hukum sedang mengumpulkam baranh bukti. Bahkan Yesi juga di sarankan datang ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian.


Yesi datang ke kantor polisi di temani oleh Irwan. Begitu banyak pertanyaan di lontarkan oleh polisi pada Yesi.


Dia merasa sangat malu, karena kasus ini menyangkut hubungan intim. Begitu pula Irwan, dia merasa telah gagal dalam mendidik Yesi sehingga Yesi selalu saja berulah.


*********


Pagi menjelang, sesuai kemauan Alberto. Dia meminta sidang keputusan masa hukuman di percepat. Hingga pagi ini akan di adakan sidang.


Willdan dan Elsa mendapat undangan untuk datang pada persidangan, karena mereka adalah anggota keluarga dari Sendy, namun Willdan tak bersedia hadir.


"Willdan, temani mamah ke acara persidangan masa hukuman Sendy. Acaranya di mulai jam 9 pagi," Elsa menunjukkan surat undangannya pada Willdan, namun dia sama sekali tak menanggapinya.


"Maaf, mah. Aku nggak bisa datang, karena ada deadline pagi ini dan nggak bisa di tinggalksn begitu saja," Willdan berlalu pergi.


"Kenapa Willdan sama sekali tak menghiraukanku," Elsa hanya bisa mengusap dada seraya menghela napas panjang.


Kini dirinya berangkat sendiri lagi ke persidangan kasus Sendy. Setelah sampai di pengadilan, Elsa tertunduk malu dan bagai orang hilang.


Sidang di mulai, dengan di hadiri oleh Yesi, Irwan, Rony, Alberto, Mickel, Elsa, dan ada beberapa orang lagi.


Selama persidangan, tidak ada satupun yang berani berkata. Semua diam membisu fokus mendengarkan segala yang di ucapkan oleh hakim dan para pengacara.


Sebelumnya Alberto telah berpesan pada aparat polisi, kalau yang dia laporkan adalah Sendy. Jadi Yesi tidak akan di perkarakan, karena Alberto masih memandang Irwan yang telah menolongnya membantu menyelesaikan permasalahannya.


Hingga saat di putuskan, Yesi tidak ikut terbawa dalam perkara putusan masa hukuman.


Setelah melihat, menimbang, dan memutuskan. Sendy mendapatkan hukuman tujuh tahun masa tahanan.


"Aku nggak terima, Pak Hakim. Masa masa hukumanku begitu lama, dan Yesi kenapa nggak ikut di hukum! ini tidak adil, pengadilan ini curang!" Sendy terus saja berteriak histeris setelah mengetahui masa hukumannya sendiri.


"Mana, Ka Willdan! aku berbuat seperti ini demi kamu, tapi di saat aku seperti ini kamu sama sekali tak iba padaku! jahat kamu Willdan, jahattttttttt," Sendy terus saja berteriak.

__ADS_1


Sementara Elsa mencoba menghampiri Alberto, dia ingin meminta keringanan masa hukuman.


"Nak Albert, tolong kasihani anak saya. Jika di hukum tujuh tahun, itu terlalu lama. Tolong, minta kebijaksanaannya," Elsa menitikkan air mata seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Bu, jika ingin meminta keringanan masa hukumam bukan sama saya. Mintalah ke aparat hukum, dan bawa pengacara untuk pengajuan naik banding. Semua itu di luar kuasa saya, makanya kalau punya anak di didik yang benar, bukan malaj di ajari ke jalan sesat. Sudah seperti ini, percuma tangisan anda tidak ada gunanya. Makanya kalau ingin berbuat di pikir dulu sebab dan akibatnya." Alberto berlalu begitu saja.


Sementara Irwan menghampiri Alberto bersama Yesi.


"Nak Albert, om berterima kasih karena anak om tidak di perkarakan oleh Nak Albert," Irwan memeluk Albert seraya mengusap punggung Albert.


"Sama-sama, om. Berkat pertolongan om juga, saya bisa menyelesaikan permasalahan ini," Alberto tersenyum.


Saat Alberto akan melangkah ke dalam mobilnya, tiba-tiba Yesi menghadang langkahnya.


"Albert, tunggu sebentar. Aku ingin bicara sebentar denganmu."


"Mau bicara apa lagi, semua masalah telah selesai. Aku nggak memperkarakan kamu, karena aku masih memandang papahmu." Alberto kembali melanjutkan langkahnya.


Namun kali ini Yesi mencekal lengan Alberto.


"Kamu harus tanggung jawab, sudah merenggut mahkotaku!" Yesi berkata lantang.


Saat Yesi akan terus mengganggu Alberto, Irwan mencekal lengan Yesi dan menyeretnya paksa.


"Papah, sakit tahu! Aku masih ingin ngobrol sama Albert, dia harus tanggung jawab dengan apa yang dia lakukan padaku," Yesi terus saja mengoceh.


"Brisik, malu di lihat orang!" Irwan membentak Yesi.


"Harus di apakan sih kamu! supaya nggak terus berulah, selalu saja bikin malu bikin masalah!" bentak Irwan melotot pada Yesi.


Irwan mendorong tubuh Yesi untuk masuk dalam mobil, dan lekas memerintah sopirnya untuk segera melajukan mobil arah pulang.


"Papah, bagaimana nasibku?" rengek Yesi mengguncang lengan Irwan.


Nasib baikmu ada di tanganmu sendiri, selama kamu belum berubah tidak akan bernasib baik. Selama kamu mengabaikan nasehat orang tuamu, selamanya nasibmu jelek," Irwan berkata dengan lantangnya.


"Kok papah bicara seperti itu, kasar sekali," Yesi mengerucutkan bibirnya.


Irwan hanya melirik sinis pada Yesi, setelah itu pandangannya fokus melihat pemandangan di sepanjang jalan.


Sementara Elsa terus saja menangis sepanjang perjalanan pulang. Dia terus saja mengingat hasil keputusan persidangan untuk Sendy.

__ADS_1


"Aku harus minta tolong siapa? Willdan nggak akan mungkin bersedia membantu Sendy untuk mengajukan naik banding," air mata Elsa terus saja berlinang tiada bisa di hentikan.


Elsa memerintah sopir melajukan mobilnya ke kantor Willdan.


"Apa salahnya aku mencoba bicara pada Willdan, siapa tahu dia berbaik hati mau membantu Sendy," gerutu Elsa di dalam hati.


Tak berselang lama, Elsa telah sampai di kantor Willdan. Dia lekas menuju ke ruang kerja Willdan.


"Mah, untuk apa kemari? memangnya mamah sudah selesai menghadiri persidangannya?" tanya Willdan penasaran.


"Sudah selesai, mamah kemari ingin meminta tolong padamu. Untuk menyewa pengacara, supaya bisa mengajukan naik banding," ucap Elsa menatap sendu Willdan.


"Memangnya naik banding untuk apa, masa hukuman Sendykah?" tanya Willdan kembali.


"Iya, hakim memutuskan masa hukuman Sendy tujuh tahun penjara. Kamu bisa bantu kan, supaya masa hukuman Sendy bisa berkurang?" Elsa menatap memohon pada Willdan.


"Maaf, mah. Sudah berapa kali aku bilang, aku nggak mau ikut campur permasalahan Sendy. Apa mamah masih kurang jelas juga dengan apa yang aku katakan?" Willdan mendengus kesal.


"Kali ini saja, Willdan. Tolonglah adikmu, dia seperti itu juga karena membelamu," kembali lagi Elsa mencoba membujuk Willdan.


"Tapi aku kan nggak meminta dia untuk bertindak ceroboh. Itu salahnya sendiri dia bertindak nggak pakai pikiran sama sekali," Willdan tetap pada pendiriannya.


"Luar biasa sifatmu ini." Elsa melangkah pergi dari ruang kerja Willdan.


Usahanya untuk membujuk Willdan supaya membantu Sendy tak pernah berhasil sama sekali. Elsa sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kini dia hanya bisa mengusap dada.


"Maafkan mamah, Sendy. Usaha mamah membujuk kakakmu tak berhasil. Mamah sendiri juga nggak bisa berbuat apa-apa lagi," gerutunya dalam hati.


Namun tiba-tiba dia teringat Kristina, dan ingin meminta bantuan Kristina.


"Apa aku coba minta bantuan Kristin saja ya, siapa tahu dia mau membantuku? ah nggak, dulu saja dia nggak mau bantu. Lagi pula selama dia cerai dengan Willdan, aku tak pernah menjenguk Mila sama sekali," Elsa mengurungkan niatnya untuk minta tolong pada Kristina.


Sementara kabar tentang Sendy telah sampai di telinga Kristina. Dia tahu dari Rere, sedangkan Rere tahu dari Rony yang sempat mengikuti persidangan.


Kristina tak berkomentar apapun, dia hanya berkata. Jika sampai kapanpun hukum tabur tuai akan selalu berlaku bagi siapapun.


Apa yang kita tabur atau tanam, itu pula yang kelak kita tuai atau dapatkan. Sampai kapanpun karma tetap berlaku.


Kristina tak ambil pusing dengan apa yang telah menimpa mantan adik iparnya. Dia juga tidak merasa iba sama sekali pada Sendy.


********

__ADS_1


__ADS_2