
Elsa merasa sedih, atas sikap Willdan yang tak peduli dengan Sendy yang sedang mendapat musibah.
"Aku heran, dulu Willdan tak bersikap seperti ini. Kenapa sekarang ini dia menjadi pria yang sangat egois?" batin Elsa seraya menghela napas panjang.
Elsa merasa tak percaya dengan sikap Willdan.
Sementara saat ini, Sendy telah berada di kantor polisi. Dia sangat terkejut saat melihat ada Alberto.
"Oh, jadi kamu yang telah melaporkan saya?" Sendy tersenyum sinis pada Alberto.
"Ya, biar kamu mendapatkan balasan yang setimpal dari apa yang telah kamu perbuat," Alberto membalas senyum sinis dari Sendy.
Tak berapa lama, Elsa telah sampai di kantor polisi juga. Dia juga sempat melihat perdebatan antara Sendy dan Alberto.
"Aku harus mengesampingksn egoku dan harga diriku untuk saat ini. Aku akan meminta Alberto mencabut tuntutannya, siapa tahu dia kali ini mau mendengar permintaanku," batin Elsa.
Tiba-tiba Elsa bersimpuh di kaki Alberto dan memegang erat kakinya.
"Bu, apa yang ibu lakukan?" Alberto berusaha menyingkir tapi cekalan tangan Elsa cukup kuat di kaki Alberto.
"Bu, tolong lepaskan," Alberto mencoba melepas cekalan tangan Elsa namun saat terlepas, dia akan kembali mencengkeram erat kaki Alberto.
"Bu, apa sih maunya ibu?" Alberto mulai kesal.
__ADS_1
"Nak Albert, tolong maafkan perilaku anak saya. Tolong beri anak saya kesempatan untuk berubah jadi lebih baik. Tolong cabut tuntutannya," bujuk Elsa seraya pasang wajah memelas.
"Bu, kalau ingin akting bukan di sini tempatnya," kata Alberto lantang.
Sementara Sendy merasa tak terima saat melihat mamahnya berlutut di kaki Alberto, bahkan di katakan sedang berakting.
"Heh, kunyuk! jangan kurang ajar sama mamahku! bagaimanapun dia lebih tua darimu, dan seusia ibumu. Kamu menghinanya, sama saja kamu menghina ibumu juga!" hardik Sendy menatap tajam Alberto.
"Siapa yang kurang ajar, aku berkata apa adanya. Dulu saat Willdan di pecat di kantorku jadi cleaning servise, ibumu juga bertindak hal yang sama. Seperti halnya kakakmu. Kalian satu keluarga yang tak punya harga diri," Alberto tersenyum sinis.
"Pak, tolong singkirkan ibu ini dari kakiku. Dan secepatnya urus dia! semua bukti telah aku berikan, jika kalian tidak menghukumnya dan malah membelanya, kalian akan tahu sendiri akibatnya jika tidak bisa bertindak adil dan benar!" perintah Alberto pada aparat polisi.
"Baik, Tuan. Kami akan melaksanakan tugas kami sebaik-baiknya," jawab salah satu aparat polisi.
"Sebaiknya anda pulang dulu, nyonya. Kami pasti akan memberi kabar selanjutnya pada anda jika sudah ada keputusan yang pasti," salah satu aparat polisi memerintah Els untuk segera pulang.
Sebenarnya Elsa sangat kecewa, tapi dia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia menuruti apa yang di katakan oleh salah satu aparat kepolisian.
Tanpa pamit pada Sendy maupun pada aparat polisi yang ada, Elsa pulang begitu saja dengan wajah murung dan langkah gontay.
"Ternyata tidak semudah yang aku pikirkan untuk bisa meluluhkan hati Alberto," batin Elsa.
Sementara saat ini aparat polisi sedang mengingerogasi Sendy.
__ADS_1
"Saudara Sendy, untuk apa anda menjebak Tuan Albert?" tanya salah satu aparat polisi.
"Siapa yang menjebak, semua yang terjadi adalah benar adanya. Aku hanya ingin semua orang tahu kebusukan dari Albert," Sendy berkata dengan lantangnya.
"Anda masih saja mengelak kesalahan anda, Saudara Sendy. Lihatlah bukti rekaman vidio percakapan antara anda dan Nona Yesi," polisi tersebut memperlihatkan vidio tersebut.
Sendy terhenyak kaget saat melihat vidio percakapan antara dirinya dan Yesi.
"Darimana Albert bisa mengetahui pertemuanku dengan Yesi ?" batin Sendy penuh dengan tanda tanya.
"Bagaimana, Saudara Sendy. Apa anda masih ingin mengelak jika anda memang telah menjebak Tuan Alberto atas bantuan Nona Yesi," aparat polisi tersebut berkata dengan lantangnya.
Sendy mati kutu tak dapat berkutik sama sekali. Dia bingung ingin berkata apa.
"Saudara Sendy. Jawab pertanyaan saya!" bentak aparat polisi mengagetkan Sendy.
"I-iya, pak. Saya memang telah menjebak Albert, itu semua saya lakukan untuk membalas sakit hati kakak saya. Dia telah merebut istri dari kakak saya," Sendy berkata dengan gugupnya.
"Anda tahu, perbuatan anda sangat fatal karena di samping anda telah menjebaknya. Anda pula yang telah menyebarkan vidio dan foto-foto tersebut." kata aparat polisi dengan lantangnya.
"Anda bisa di kenakan pasal yang berlapis yakni penipuan dengan menjebak Tuan Albert serta pencemaran nama baik dengan menyebarkan vidio dan foto-foto tersebut," kembali lagi aparat polisi berkata.
Sendy hanya diam saja, dia hanya tertunduk lesu.
__ADS_1
*****