Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Melvin Menjadi Direktur Utama


__ADS_3

Pengacara Sendy telah mengatur strategi jitu supaya Willdan tidak bisa berbuat curang pada perusahaan milik Sendy.


Hari ini, Willdan akan melantik Melvin sebagai di rektur utama perusahaanya. Karena dia sendiri akan pergi ke luar negeri untuk mengurus dua perusahaan milik Sendy.


"Om Melvin, sudah siap kan?" tanya Willdan menyunggingkan senyum.


"Apa kamu yakin, dengan keputusanmu itu? apa nggak sayang, masa om yang menjadi direktur utamanya?" Melvin merasa tidak percaya dengan yang di ucapkan oleh Willdan.


"Sangat yakin, om. Karena aku akan pergi jauh bersama mamah, untuk menjenguk Sendy." Ucapnya berbohong.


Ternyata Melvin tidak tahu jika saat ini Sendy sedang menjalani masa hukumannya di lapas.


"Berarti kamu akan lama tinggal di luar negeri, Willdan?" tanya Melvin penasaran.


"Entahlah, om. Karena aku lelah, ingin istirahata sejenak." Kembali lagi Willdan berbohong.

__ADS_1


Mereka lekas ke kantor Willdan, dan Willdan telah mempersiapkan semuanya untuk pelantikan Melvin menjadi direktur utama di perusahaan tersebut.


Semua karyawan telah berkumpul di ruang rapat. Willdan segera memulai rapatnya.


"Selamat pagi semuanya, mohon maaf jika pagi sekali saya mengumpulkan kalian semua di sini."


"Karena saya ada urusan penting, maka mulai hari ini dan selanjutnya, kepemimpinan saya serahkan pada Tuan Melvin."


"Semua urusan kantor akan di handle oleh beliau, dan jika ada suatu permasalahan kantor atau hal yang bersangkutan dengan kantor, kalian bisa langsung membicarakannya bersama Tuan Melvin."


"Semoga kalian telah paham dengan apa yang barusan saya katakan. Dan hari ini saya resmikan jabatan saya berpindah tangan pada Tuan Melvin."


"Om Melvin, saat ini om telah resmi menjabat sebagai direktur utama perusahaan ini. Jadi semua yang berhubungan dengan perusahaan ini, Om yang bertanggung jawab," Willdan tersenyum.


"Baiklah, Willdan. Om akan menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya. Sekali lagi terima kasih untuk segalanya dan terutama untuk kepemimpinan ini," Melvin memeluk Willdan seraya mengusap punggungnya.

__ADS_1


"Kamu hati-hati di perjalanan, semoga selamat sampai tujuan tidak ada halangan apapun. Jangan lupa selalu berkabar," pesan Melvin pada Willdan.


"Baiklah, om. Kalau begitu saya permisi ya, om." Willdan melepaskan pelukan Melvin.


Dia melangkah pergi meninggalkan ruang rapat tersebut. Dan tak lupa berpesan banyak hal pada para karyawan yang ada di perusahaan tersebut.


Setelah semua urusan di kantor selesai, Willdanpun langsung pulang ke rumah untuk mengajak Elsa segera pergi. Willdan telah memesan dua tiket pesawat terbang yakni untukmya dan untuk mamahnya.


Elsa sempat menolaknya, karena dia tidak tega meninggalkan Sendy sendirian, yang saat ini sedang menjalani masa hukumannya. Namun Willdan membujuknya dengan halus dan akhirnya Elsa luluh, serta bersedia mengikuti Willdan berangkat ke lusr negeri.


Namun selama dalam perjalan, raut wajah Elsa selalu murung dan sama sekali tak sda senyuman di bibirnya.


"Mah, kenapa sedih dan murung? tersenyumlah, lagi pula apa yang aku lakukan sesuai dengan permintaan Sendy. Dia yang memintaku untuk sementaamra waktu mengurus perusahaanya yang berada di luar negeri," Willdan mencoba meyakinkan Elsa.


Elsa tak berkata apapun, dia hanya tersenyum kecut seraya pandangan menatap ke segala penjuru bandara.

__ADS_1


Dia masih saja memikirkan Sendy yang harus mendekam di penjara karena membela Willdan.


***********


__ADS_2