
Ancaman Yesi di anggap permainan oleh Sendy. Sehingga Yesi benar-benar berteriak histeris meminta tolong.
"Tolonggg..tolongg." teriaknya.
"Hust." Sendy menyumpal mulut Yesi dengan tangan kanannya.
"Jangan berteriak, nanti warga datang aku bisa di keroyok." Kata Sendy panik.
Yesi tak kurang akal, dia menggigit tangan Sendy supaya lepas dari bungkaman tangan Sendy.
"Auw, sakit tahu! dasar cewe barbar!"Rintih Sendy seraya meniup telapak tangan yang di gigit oleh Yesi.
"Makanya nggak usah bikin masalah sama aku, kalau nggak ingin lebih parah dari ini! cepat ganti ponselku dengan yang baru!" Yesi menarik paksa Sendy masuk mobilnya.
"Cepat jalankan, dan ganti ponselku yang sama persis seperti ponselku yang kamu rusak." Yesi mencubit geram Sendy membuat Sendy kembali merintih kesakitan.
"Baru kali ini, aku ketemu cewe sepertimu! barbar dan sadis!" Sindir Sendy seraya melajukan mobilnya.
"Nggak usah banyak cakap, kemudikan saja mobil yang benar!" Yesi melirik sinis pada Sendy.
Setelah itu mereka hanya saling diam tanpa ada sepatah kata kembali. Sesekali Sendy melirik pada Yesi yang sedang menatap pemandangan sepanjang jalan.
"Nama kamu siapa, masa kita bareng tapi satu sama lain nggak tahu namanya? kalau aku Sendy." Sendy mencoba mencairkan suasana di sela mengemudikan mobilnya.
"Panggil saja, Yesi." Jawabnya sama sekali tak menoleh pada Sendy.
"Baik, Yesi. Kita mau beli ponsel dimana, karena kamu yang lebih paham pusat perbelanjaan." Tanya Sendy.
"Masa orang sini nggak hafal daerah sini, terlihat sekali bohongnya." Kata Yesi ketus.
"Jujur aku terakhir lama tinggal di Amerika Serikat, jadi aku lupa daerah sini. Lagipula dulu rumahku bukan di daerah sini. Apa susahnya tinggal ngomong di mana, nanti aku kesana sesuai arahanmu. Ingin di ganti ponselnya tapi juteknya minta ampun!" Sendy berkata panjang lebar seraya mengerucutkan bibirnya.
"Tinggal lurus saja, terus belok kiri nanti sampai." Kata Yesi singkat.
__ADS_1
"Lurusnya sampai berapa meter, apa lurus mentok nabrak tembok." Canda Sendy terkekeh.
"Nggak lucu tahu, tinggal jalan lurus satu meter kan ada lampu merah terus belok ke kiri sudah sampai ke galeri ponsel." Yesi menjelaskan secara detail.
"Ok dech kalau begitu, terima kasih atas informasinya." Sendy tak bertanya lagi, tapi melajukan mobilnya lebih cepat supaya lekas sampai di tujuan.
Tak berapa lama, sampai juga mereka di galeri ponsel dengan berjejer bermacam-macam merek. Yesi tak tertarik dengan ponsel apapun, tapi yang dia inginkan ponsel yang sama seperti ponselnya yang terjatuh.
"Carikan saja yang merk dan model sama seperti ini." Yesi memperlihatkan ponselnya yang pecah layarnya karena terjatuh.
Dengan susah payah Sendy mencari model ponsel yang sama milik Yesi. Dari satu galeri sampai ke galeri sebelahnya dan akhirnya menemukan ponsel yang sama di galeri yang terakhir.
"Hem, sungguh hari yang melelahkan dan menyebalkan!" batin Sendy seraya membayar ponsel yang di belinya untuk Yesi.
"Sini ponselnya, terima kasih ya." Yesi merebut ponsel baru yang saat ini ada di tangan Sendy.
"Sopan sedikit bisa nggak?" Sendy mengerucutkan bibirnya seraya menatap sinis Yesi.
"Kurang sopan apa lagi, terima kasih ya ponselnya. Kamu nggak perlu repot mengantarku, biar aku pulang sendiri. By by.." Yesi berlari kecil meninggalkan Sendy.
Dia langsung masuk dalam mobil dan melajukannya arah pulang. Sementara Yesi saat ini telah berada di taxi on linenya seraya tersenyum sendiri karena mendapat ponsel baru.
"Dasar pria bodoh, menurut saja waktu di minta mengganti ponsel yang cuma pecah layarnya saja. Lumayan nech yang lama bisa aku ganti layar dan ku jual, biar aku pake ponsel yang baru saja." Seraya membolak balik ponsel barunya.
Tak berapa lama sampailah Yesi di rumah, namun tanpa berkata apapun dia langsung masuk rumah begitu saja. Padahal di teras rumah ada orang tuanya.
"Lihatlah anakmu, main nyelonong saja tanpa menyapa kita. Nggak menghargai sekali sama orang tua, pasti di LA dia juga bertindak sama seperti." Gumam Irwan.
"Sudahlah, pah. Jangan di perbesar hanya karena masalah kecil, yang ada nanti jadi bomerang bagi keluarga kita." Leni mencoba menasehati Irwan.
"Sikapmu inilah yang membuat Yesi tak punya rasa sopan santun dan bersikap seperti anak kecil." Irwan mendengus kesal seraya bangkit dari duduknya dan berlalu masuk dalam rumah.
Saat ini Sendy telah sampai rumah, tapi dia sangat kesal karena tak bisa mengajak Kristina bekerjasama.
__ADS_1
"Nak, apa usahamu gagal sehingga wajahmu murung seperti itu?" tanya Mamah Elsa seraya mengernyitkan alis.
Sendy menjatuhkan pantatnya di kursi teras depan di samping Mamah Elsa.
"Ya, mah. Aku telah gagal untuk mengajak Kristin bekerjasama, bahksn aku sempat berselisih dengan calon suami Kristin." Sendy menghela napas panjang.
"Coba kamu pake cara lain, yakni meminta orang kepercayaanmu untuk mengajak kerja sama Kristin." Saran Mamah Elsa.
"Iya juga ya, mah. Siapa tahu dengan cara itu akan berhasil." Sendy tertawa sumringah.
"Ya sudah, mah. Aku akan menghubungi beberapa anak buahku untuk mengajak Kristin bekerjasama." Sendy bangkit daro duduknya berlalu pergi begitu saja.
Sendy melangkah menuju mobilnya dan melajukannya menuju ke kantor barunya Willdan. Karen di sana ada beberapa anak buahnya juga. Hanya beberapa menit saja, telah sampai di kantor tersebut.
"Sen, bagaimana usahamu? sepertinya gagal ya, di lihat dari wajahmu yang murung." Willdan menatap menyelidik wajah adiknya.
"Iya, ka. Aku gagal, aku kemari untuk meminta anak buahku yang mengurus hal ini. Dimana mereka saat ini, ka?" Kata Sendy menghela napas panjang.
Willdan langsung menghubungi anak buahnya untuk memanggil dua anak buah Sendy yang ada di kantor tersebut.
Tak berapa lama datanglah dua anak buah Sendy. Kedua anak buahnya ini sangatlah profesional dalam melaksanakan segala tugasnya.
Sendy menjelaskan segalanya pada dua anak buahnya tersebut, dan mereka langsung mengerti dan memahami.
"Kalian mengerti kan tugas kalian?" tanya Sendy pada dua anak buahnya.
"Iya mengerti, Tuan Sendy. Kami siap melaksanakan tugas dari, Tuan Sendy." Kata salah seorang anak buahnya.
"Baiklah, kalau begitu kalian lekas laksanakan tugas. Sebisa mungkin selesaikan tugas ini secepatnya, kalau kalian berhasil sesuai dengan batas waktu yang telah di tentukan, aku akan memberikan bonus yang besar pada kalian berdua, mengerti?" Perintah Sendy panjang lebar pada kedua anak buahnya.
"Kami mengerti, Tuan. Dan akan berusaha semaksimal mungkin." Jawab salah satu anak buah Sendy.
Setelah urusan selesai, Sendy kembali ke rumah Willdan karena merasakan lelah yang teramat sangat.
__ADS_1
******