
Sejenak Exl menghela napas panjang saat mengingat pahit getir kehidupannya. Apalagi sampai sekarang Aldo masih di rawat di rumah sakit jiwa.
Exl tidak memperlihatkan rasa bencinya di hadapan keluarga Alberto, karena dia sengaja ingin menusuk mereka dari dalam.
Saat ini Exl datang ke Indo karena dia mendapat undangan pernikahan Alberto. Dia akan mempergunakan kesempatan ini untuk ajang balas dendam.
"Dad, mom. Aku kok nggak melihat Uncle Exl?" tanya Alberto selesai acara resepsi.
"Mungkin saja Uncle Exl sedang keluar untuk berkeliling, dia kan lama di LN. Mungkin kangen suasana di Indo," jawab Mickel.
Tak berapa lama kemudian, datanglah Exl.
"Maaf, aku habis berkeliling sejenak."
"Iya, nggak apa-apa. Aku pikir kamu nyasar, Exl." Ucap Mickel terkekeh.
"Nggak lah, aku kan naik taxi on line barusan," jawab Exl sekenanya.
"Kami akan kembali ke rumah besok sore. Malam ini menginap di sini, aku sudah memesan kamar untukmu juga," ucap Mickel.
"Ya, terima kasih." Ucap singkat Exl.
Mickel mengajak Exl ke kamarnya, setelah itu dia dan istrinya melangkah ke kamar mereka. Begitu pula dengan Alberto dan Kristina.
Di dalam kamar hotel, Exl langsung merebahkan tubuhnya di pembaringan. Matanya menatap langit-langit kamar. Seraya otaknya berpikir keras, taktik apa yang akan di gunakan oleh dia untuk menghancurkan keluarga Mickel.
"Aku akan membuat Mickel merasakan semua rasa sakit yang aku rasakan. Perlahan tapi pasti aku akan menyingkirkan satu persatu dari kalian," batin Exl menyeringai licik.
********
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sore hari dimana keluarga Albert berencana pulang ke mension Alberto.
"Mickel, Rachel. Kalian pulang saja dulu, karena aku masih ingin jalan-jalan berkeliling sebentar," ucap Exl menyunggingksn senyum keterpaksaan.
"Baiklah, tapi hati-hati jangan sampai nyasar," goda Mickel terkekeh.
__ADS_1
Mendengar candaan Mickel, Exl hanya tersenyum. Namun hatinya juga sedang tersenyum sinis.
"Tersenyumlah, selagi kamu bisa tersenyum. Sebentar lagi kamu nggak akan bisa tersenyum sama sekali," batin Exl.
Mickel dan Rachel pulang dengan menggunakan mobil pribadi. Begitu pula dengan Kristina dan Alberto, mereka sengaja pulang untuk mengemasi pakaian guna berangkat honeymoon.
Awal perjalanan pulang, tidak ada masalah pada mobil yang di tumpangi oleh orang tua Alberto. Namun pada saat baru seperempat jalan, terdengar bunyi seperti detik jam.
"Dad, kok seperti ada bunyi sesuatu di dalam mobil ini. Daddy mendengarnya tidak?" Rachel merasa penasaran.
"Iya, mom. suara detakannya semakin keras dan cepat." Ucap Mickel.
"Duar Duar" punya ledakan keras sekali.
Baru saja mereka berkata dan saling curiga, tak lama kemudian mobil yang di tumpangi meledak seketika.
Alberto yang sedang berada lumayan jauh di belakang mobil orang tuanya, begitu syok.
"Tidakkkkkkkk!!!!! daddy!!!! mommy!!!!!"
Kebetulan sore itu, jalanan begitu sepi. Sehingga tidak ada mobil yang lain ikut terbakar. Kebetulan di belakang laju mobil yang di tumpangi orang tua Alberto, tidak ada satupun mobil. Hanya ada mobil Alberto itupun jarak lumayan jauh.
Kristina dan Rony langsung saja mencari bantuan dengan menelpon aparat polisi dan beberapa orang penting yang mereka kenal.
"Daddy...mommy..." terus saja Alberto meraung-raung dalam tangisnya.
Hingga tak lama kemudian, datanglqh begitu banyak mobil ambulance bahkan para wartawan ke lokasi terjadinya ledakan mobil yang di tumpangi orang tua Alberto.
Mobil hangus tak bersisa, bahkan jasad kedua orang tua Alberto juga tak beraturan karena anggota tubuh terpisah dari tubuhnya.
Segera jasad orang tua Alberto dan sopir pribadinya di bawa ke rumah sakit. Alberto terus saja berurai air mata, begitu pula dengan Kristina.
Alberto tak menyangka, di hari bahagianya juga merupakan hari berduka. Alberto lemas tak berdaya.
3 Jam berada di rumah sakit, setelah ketiga jasad telah sempurna. Anggota tubuh mereka telah di satukan dengan tubuh mereka. Kini saatnya di adakan proses pemakaman.
__ADS_1
Jasad ketiganya terlebih dulu di bawa ke rumah duka. Untuk mendapatkan penghormatan terakhir dari para sanak saudara dan handai taulan. Juga untuk di doakan.
Setelah semua proses doa selesai, jenazah di bawa ke sebuah pemakaman khusus keluarga. Sang sopir juga di makamkan sekalian di tempat itu, sesuai persetujuan istrinya.
Exl yang ikut menghadiri proses pemakaman di dalam hatinya tertawa riang karena usaha yang di lakukannya telah berhasil.
"Rencanaku berjalan sempurna, aku yakin dengan meninggalnya Mickel dan Rachel, Alberto akan menjadi gila seperti anakku," batinnya senang sekali.
"Nak, kamu yang sabar ya. Semua yang terjadi sudah kehendak dari Tuhan." Exl mengusap-usap bahu Alberto.
"Entahlah, uncle. Semuanya serba mendadak seperti ini, aku belum siap untuk di tinggalkan oleh dady dan mommy," kembali lagi air mata Alberto tercurah.
Beberapa jam kemudian, di mension Alberto. Dia terus saja murung memandangi foto kenangan bersama orang tuanya.
Kristina tidak bisa berkata apa-apa, karema dia juga pernah merasakan hal yang sama pada saat orang tuanya meninggal bersamaan.
"Sayang, aku tahu dan bisa merasakan apa yang kamu rasakan karena aku juga pernah mengalami hal ini. Dimana kedua orang tuaku meninggal seketika dalam kecelakaan mobil," Kristina memeluk suaminya.
"Sayang, kamu pasti kuat dan bisa melalui semua ini." Kristina berusaha mengibur suaminya.
Mereka akhirnya mengurungkan niatnya honeymoon.
Seminggu telah berlalu dari meninggalnya orang tuanya. Namun Alberto masih saja bersedih dan belum bisa menerima kenyataan pahit itu.
Dia selalu saja murung dan tak mau makan, serta tak mau beraktifitas. Sesekali menangis, sesekali mengamuk. Setiap hari hanya seperti itu yang di lakukan oleh Alberto.
Kondisi Alberto yang sangat buruk, justru berita baik buat Exl dan juga Mr X.
"Wah, anda hebat. Padahal dari dulu aku selalu berusaha menghancurkan Alberto tapi selalu gagal." Mr X mengacungkan dua ibu jarinya seraya tertawa riang menatap Tuan Exl.
"Aku pastikan, sebentar lagi Alberto akan masuk rumah sakit jiwa. Dan pada saat itu, anda bisa kembali merebut perhatian Kristin. Dan aku akan menguasai semua harta Alberto." Tuan Exl tertawa ngakak karena senangnya.
Sementara Kristina bingung harus bagaimana mengatasi permasalahannya. Karena Alberto bukannya membaik, tapi semakin hari semakin buruk kondisinya.
"Ya Tuhan, hanya padaMu aku meminta dan berserah. Segala macam cara telah aku coba untuk bisa membuat suamiku bisa kuat dan bangkit dari keterpurukan. Tapi semua usahaku tidak ada yang berhasil. Aku bingung, Tuhan. Harus bagaimana lagi? dan harus kutempuh cara apa lagi," Kristina terisak dalam doanya.
__ADS_1
Dia merasa sudah tak ada jalan lagi, semua terasa buntu.
*******