
"Kondisimu seperti ini bukannya membuat papah bangga. Tapi malah akan mempermalukan papah!" bentak Melvin mendengus kesal.
"Terus Sherlyn harus bagaimana, pah? nggak mungkin pula Sherlyn menjalani operasi kembali kan?" Sherlyn tertunduk lesu.
"Mana omonganmu dulu! kamu memaksa operasi wajah, kamu bilang hasilnya akan lebih bagus tapi kenapa malah ini menyeramkan sekali bak monster, mana mungkin ada pria yang mau dekatin kamu?" Papah Melvin mengacak-acak rambutnya.
"Pokoknya, mulai sekarang kamu jangan sampai terlihat oleh mata msyarakat. Jangan sampai orang tahu kalau kamu anakku, jika di luar sana kita ketemu kamu berpura-puralah nggak kenal sama papah!" Melvin mendengus kesal seraya berlalu begitu saja.
"Kenapa nasib buruk selalu menimpaku, dan nasib baik selalu berpihak pada Kristin?" batin Sherlyn.
"Bagaimana aku bisa hidup bermasyarakat dengan kondisi wajahmu yang sangat mengerikan ini?" batin Sherlyn kembali.
"Aku harus bagaimana ini, sedang papahku sudah nggak peduli lagi padaku?" tak terasa buliran bening menetes di pipi Sherlyn.
"Di tunggu kepulangannya, begitu sudah pulang malah sangat mengecewakan!" gerutu Melvin.
"Bagaimana aku bisa membalas dendam pada Kristin kalau begini caranya, sudah tidak bisa mengharapkan bantuan dari Sherlyn lagi!" gerutu Melvin kembali.
*****
Berbeda situasi di kantor Alberto, ternyata Willdan selama ini kerja di perusahaan besar milik Alberto.
Namun satu sama lain tidak saling mengerti.
"Hay, Albert. Kenapa kamu nggak pulang ke AS?" tiba-tiba datang seorang wanita cantik ke ruang kerja Alberto.
"Itu bukan urusanmu, lagi pula untuk apa kamu menyusulku kemari?" ucap ketus Alberto.
"Aku ini calon istrimu, apa kamu telah lupa? jika sebentar lagi kita akan menikah?" kata wanita cantik bernama Yesi.
"Calon istri yang mana, aku tidak pernah setuju di jodohkan denganmu. Karena aku telah mempunyai pilihan sendiri," kata Alberto ketus.
"Dari dulu kamu bilang seperti ini, tapi mana buktinya? mana wanita pilihanmu itu, hanya sebuah ucapan di bibirmu saja!" Yesi mendengus kesal.
"Cepat atau lambat kamu pasti akan bertemu dengan wanitaku," Alberto berkata seraya tersenyum sinis.
"Sudahlah, Albert. Kamu nggak usah terus berhayal tentang wanitamu yang tak nyata itu, terima saja diriku. Memang apa sih, kurangnya aku ini? hingga bertahun-tahun kamu masih saja belum bisa menerima cintaku?" Yesi menghampiri Alberto dan bersikap agresif.
__ADS_1
"Menyingkirlah dari hadapanku! ini yang aku tak suka darimu, kau terlalu murahan! dimana harga dirimu sebagai seorang wanita?" Alberto mendorong tubuh Yesi.
"Albert, kasar sekali kamu denganku!" Yesi berlalu pergi dari ruang kerja Alberto dengan mata berkaca-kaca.
Berbeda dengan Alberto yang sangat muak akan kedatangan Yesi. Seorang wanita cantik pilihan dari orang tuanya.
"Mau sampai kapan Yesi terus saja mengganggu hidupku!" gerutu Alberto seraya membanting pena dan memijit pelipisnya.
Sejenak Alberto terdiam menatap foto masa kecil Kristina di sebuah figura yang di letakkan di atas meja kerjanya.
"Bahagia rasa hatiku, setelah bisa bertemu denganmu. Sudah tak sabar hatiku ingin segera meminangmu, Tin." Alberto mengusap dan mencium foto tersebut.
"Gkgkgkgk, tuan sedang apa?" tiba-tiba Rony telah ada di hadapan Alberto.
"Sialan! kenapa masuk nggak ketuk pintu dulu, bikin kaget orang saja!" bentak Alberto menutupi rasa malunya.
"Tuan yang sedang asik traveling makanya aku ketuk pintu tidak dengar, ya aku masuk saja." Rony terkekeh kala ingat tingkah majikannya.
"Hem, ada apa kemari?" Alberto bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Begini, tuan. Saya di beri tahu oleh tuan besar dan nyonya besar, katanya saat ini mereka sedang balik ke Indo. Kemungkinan nanti sore mereka sampai," kata Rony.
"Ya, sudah. Kamu siapkan segala kebutuhan orang tuaku, dan beritahu orang rumah untuk membersihkan kamar yang akan mereka pakai untuk menginap," perintah Alberto pada Rony.
Segera Rony melaksanakan perintah dari Alberto.
"Bagaimana ini, aku harus secepatnya mengutarakan isi hatiku pada Titin. Tapi ini terlalu cepat, karena kita bertemu juga belum lama," batin Alberto.
"Arghhh, bikin pusing saja!" Alberto melempar pena ke sembarang tempat.
*****
Sore telah datang, dimana orang tua Alberto telah sampai di Indo. Yakni Daddy Mickel dan Mommy Rachel.
Keduanya saat ini sedang beristirahat di mension milik Alberto seraya menunggu Alberto pulang dari kantor.
Kedatangan orang tua Alberto juga telah di ketahui oleh Yesi, dia juga sedang ke salon berdandan cantik untuk menemui calon mertuanya.
__ADS_1
"Aku harus tampil sempurns, supaya om dan tante terkesima olehku. Dan lekas membujuk Alberto untuk lekas menikahiku," batin Yesi.
"Aku juga tidak akan membiarkan wanita mana pun berusaha mendekati Alberto, aku akan mempertahankan apa yang sudah akan menjadi milikku," batin Yesi.
"Aku tak peduli dengan perasaan Alberto, walaupun dia masih bersikap dingin denganku dan sangat acuh. Namun aku tidak akan pantang menyerah sesuai kemauan orang tuaku yakni aku harus segera menikah dengan Alberto ," batin Yesi kembali.
Tak berapa lama kemudian, Alberto telah sampai di rumah. Di sambut hangat oleh ke dua orang tuanya.
"Nak, sore sekali kamu pulangnya." Mommy Rachel menghampiri Alberto.
"Iya, mom. Kebetulan lagi banyak urusan di kantor." Alberto melonggarkan dasinya seraya menjatuhkan pantatnya di sofa.
"Coba kalau sekarang ini kamu telah beristri, pasti lelahmu akan hilang saat kamu pulang melihat senyum manis istrimu," kata Daddy Mickel terkekeh.
Alberto hanya tersenyum kecil tak membalas perkataan daddynya.
"Albe akan mandi dulu ya dad mom, ntae kita ngobrol lagi." Alberto bangkit dari duduknya lekas melangkah ke kamarnya untuk melakukan ritual mandi sorenya.
Saat Alberto melakukan ritual mandi sorenya, datanglah Yesi dengan penampilan yang sangat cantik dan anggun.
"Hallo sayang, kami sangat merindukanmu. Kenapa pula kita ke Indo nggak bareng ya, baru terpikirkan saat ini," sapa Mommy Rachel memeluk Yesi seraya mengusap punggungnya.
"Ya, tante. Kebetulan papi sama mami kemari juga. Jadi aku ikut sekalian, maaf ya tante." Yesi menyunggingkan senyum seraya terus memeluk Yesi.
"Iya, sayang. Nggak apa-apa, bagaimana kalau nanti malam kita adakan makan malam bersama?" ajak Mommy Rachel.
"Boleh juga, tante. Ntar aku sampaikan dech ke mami sama papi tentang acara makan malam nanti," kata Yesi sumringah.
"Hadeh, si centil datang juga kemari." Batin Alberto selesai mandi.
Mereka pun ngobrol bersama, dan sesekali Yesi melirik genit pada Alberto membuatnya jengah.
"Maaf, dad mom. Albe lupa jika ada janji dengan reksn bisnis yang baru. Jadi Albe nggak bisa berlama-lama. Kalian nikmatilah suasana di Indo ini," Alberto beranjak dari duduknya melangkah ke kamar.
Dirinya segera berganti pakaian.
********
__ADS_1
Mohon dukungan like, vote, favoritnya