
Pagi menjelang, namun Yesi masih nyenyak tidur.
"Mam, ini sudah jam 5 pagi. Kok Yesi belum keluar juga dari kamarnya," Marwan melirik pada Mikha.
"Kita samperin saja ke kamarnya, pap. Paling anak manja itu masih tidur pules," saran Mikha.
Mereka melangkah ke kamar Yesi yang kebetulan tidak di kunci pintunya.
"Lihat, pap. Jadwalnya di rusak, dan si manja masih saja tidur." Mikha mengambil kertas jadwal yang di lantai.
"Heh, bangun anak manja!" Marwan mengguncang tubuh Yesi dengan keras, membuat Yesi terhenyak kaget.
"Om, kasar amat sih! masih pagi juga!" Yesi kembali memejamkan matanya dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Kelakuan Yesi membuat Marwan kesal, dan menarik selimutnya serta memaksa Yesi bangkit.
"Bangun, dasar gadis manja!" Kembali lagi Marwan menghardik Yesi.
Terpaksa Yesi bangun, dan duduk di pembaringan.
"Untuk apa sih, om. Masih pagi, menyuruhku bangun!" Yesi menguap lebar seraya menggaruk-garuk rambutnya.
"Kamu memang tidak bisa menghargai orang ya, kenapa jadwalnya kamu rusak!" Marwan melotot pada Yesi.
"Sudah aku bilang, aku bukan asisten rumah tangga yang yang melakukan segala pekerjaan rumah tangga!" Yesi melirik sinis pada Marwan.
__ADS_1
"Kelak kamu juga berumah tangga, harus bisa melakukan semuanya." Mikha berkata.
"Memang benar, tapi nggak harus aku kerjakan sendiri. Kelak jika aku berumah tangga, ya memperkerjaan asisten rumah tangga." Cibir Yesi melirik sinis pada Mikha.
"Baiklah, jika kamu nggak mau mengerjakan apa yang telah kami tulis di kertas ini. Kami tidak akan memberimu makan, bahkan kami akan mengirimmu ke suatu tempat yang sangat mengerikan." Ancam Marwan.
"Memang om bisa apa? mau membunuhku maksudnya, silahkan saja jika siap dengan resikonya." Yesi berkata sangat lantang.
"Katanya berpendidikan, tetapi pikirannya pendek. Siapa juga yang akan membunuhmu?" Marwan mendengus kesal.
"Pap, lebih baik kita pergi saja. Dan kunci saja pintunya, biarkan dia kelaparan jika tak mau mematuhi peraturan di rumah ini." Mikha menggandeng lengan Marwan untuk melangkah ke luar dari kamar Yesi.
Marwan dan Mikha segera keluar dari kamar Yesi, dan Mikha benar-benar mengunci pintunya dari luar.
Sementara Yesi melanjutkan tidurnya kembali hingga menjelang jam satu siang, Yesi baru terbangun karena merasakan lapar yang teramat sangat.
"Mandi dulu setelah ini aku makan, kira-kira asisten rumah tangga disini masak apa ya." Yesi melangkah ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi pagi yang tertunda hingga siang hari karena tidurnya.
Beberapa menit kemudian, Yesi telah selesai. Dan saat melangkah ke pintu akan membuka pintu, namun Yesi tak bisa membukanya.
"Sial, kenapa pula pintu di kunci?" Yesi terus saja mencoba membukanya, namun tak bisa.
"Kejam banget om sama tante, pintu saja sampai di kunci. Padahal aku sudah sangat lapar." Yesi mendengus kesal seraya melangkah ke pembaringan.
Berbaringlah Yesi dan meraih ponselnya.
__ADS_1
"Aku akan adukan tingkah om dan tante pada papah." Yesi memencet nomor ponsel Irwan, namun kuota pulsa habis.
"Sialan, kuota dan pulsa sama sekali nggak ada. Uang juga nggak ada, terus aku harus bagaimana? genap sudah penderitaanku di LA ini, baru sehari saja sudah sengsara sekali. Apalagi hingga berbulan-bulan." Yesi mendengus kesal seraya melempar ponselnya ke pembaringan.
Sementara Mikha merasa tak tega pada Yesi.
"Pap, sudah jam satu siang. Kasihan juga Yesi, pasti lapar sekali. Apa nggak sebaiknya di beri makanan?" Mikha menatap sendu suaminya.
"Ya sudah, kasih saja makan. Lagipula kalau terjadi apa-apa juga kita yang akan di salahkan oleh Mas Irwan dan Mba Leni." Kata Marwan.
Mikha lekas ke dapur untuk mengambil sepiring makanan dan segelas minuman. Dan membawanya ke kamar Yesi.
"Makanlah," Mikha meletakkan nampan yang berisi piring dan gelas di atas meja rias.
"Tante, tega amat kunciin aku. Masa dari pagi aku nggak makan, kok tante bawanya cuma satu piring?" Yesi protes.
"Nggak usah protes, tinggal kamu makan. Kalau nggak tante bawa kembali makanannya." Mikha berpura-pura akan mengangkat nampannya.
"Jangan, tante." Yesi lekas merebut nampan berisikan makanan dan minuman.
Secepat kilat Yesi memakannya, tanpa ada rasa malu di tatap oleh Mikha.
"Coba kamu menurut, pasti nggak akan sampai kelaparan." Mikha melirik sinis.
"Enak saja, memangnya aku apaan mau di jadikan pembantu oleh kalian. Aku ini keponakan kalian, tapi kalian sungguh tega padaku." Kata Yesi seraya melahap makanannya.
__ADS_1
********