Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Di Tolak


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, dua anak buah Sendy saat ini sedang melancarkan aksinya untuk mengelabui Kristina.


"Maaf, Nona Kristin. Kami berdua datang kemari karena ingin sekali menjalin kerjasama dengan anda." Kata Tedy salah satu anak buah Sendy.


"Ini proposalnya, bisa di lihat dulu. Kami bergerak di bidang export import, kebetulan kami juga ada perusahaan di luar negeri." Tedy menyodorkan proposalnya di meja kerja Kristina.


Kristina sama sekali tak membuka proposal tersebut, karena memang dia dari awal tidak ingin menjalin kerjasama kembali dengan pihak manapun, karena saat ini dia sudah sangat kewalahan menjalankan dua perusaahaannya.


"Mohon maaf, Tuan. Untuk saat ini saya sedang tidak ingin bekerja sama dengan pihak manapun. Jujur saja, saat ini saya sudah sangat kerepotan menghadapi dua perusahaan yang jumlah rekan bisnisku tidaklah sedikit." Kristina mencoba menolak halus Tedy.


"Tolonglah, Nona Kristin. Anda buka dulu proposalnya, dan lihat dulu penawaran dari kami. Pasti anda akan berminat, dan ini sangat menguntungkan bagi anda. Kami pastikan itu." Tedy mencoba membujuk Kristina.


Namun bujukan dari Tedy tidaklah mempengaruhi pendirian Kristina.


"Sekali lagi, saya mohon maaf. Karema saya memang sudah tidak ingin membuka kerja sama dengan pihak manapun. Walapun anda menjanjikan keuntungan yang besar bagi saya, tapi untuk saya, rejeki yang saya peroleh saat ini sudah sangat berlimpah. Cukup buat saya menafkahi anak saya." Kembali lagi Kristina menolak halus bujukan dari Tedy.


Setelah dua kali membujuk Kristina gagal, akhirnya Tedy dan temanya berpamitan.


"Baiklah, Nona Kristin. Kalau begitu kami pamit dan mohon maaf telah mengganggu waktu anda." Tedy dan temannya bangkit dari duduknya dan meraih proposalnya.


"Saya juga minta maaf, Tuan. Telah membuat anda kecewa dengan penolakan saya." Kristina tersenyum ramah seraya menyalami Tedy dan temannya.


Tedy dan temannya segera keluar dari ruang kerja Kristina seraya dengan langkah gontay.


"Aduh, gagal mendapatkan bonus dari bos. Gara-gara aku gagal membujuk Nona Kristin, dan pasti Tuan Sendy akan marah besar." Batin Tedy .


Mereka kembali ke kantor Willdan untuk bertemu dengan Sendy, yang ternyata saat ini Sendy sedang tidur di rumah Willdan. Namun anak buah Sendy melaporkan kegagalannya pada Willdan.


"Ternyata tidaklah mudah mengelabui Kristin, dia bukan hanya wanita pintar tapi dia sangatlah cerdas." batin Willdan.


"Hem, harus dengan cara kasar rupanya? tapi cara apa untuk bisa membalas sakit hatiku ini. Kalau menghabisi nyawanya terlalu enak buatnya, aku ingin Kristin merasakan penderitaan seperti yang aku rasakan." Batinnya terus saja berpikir keras mencari cara untuk mengelabui Kristina.


*******


Tak terasa sore menjelang, kini waktunya pekerja kantor pulang ke rumah masing-masing termasuk Kristina. Namun seperti biasa dia pulang tidak sendiri, karena Alberto menjemputnya.

__ADS_1


"Sayang, kita mampir makan yuk. Sudah lama loh nggak makan di luar." Ajak Alberto menaik turunkan alisnya.


"Baiklah, ka. Kita mau makan dimana?" Kristina bergelayut manja di lengan Alberto.


"Tempat favorit kita dong pastinya." Alberto mengedipkan matanya.


Kemesraan mereka tak lepas dari tatapan Yesi dan Sendy. Yesi mengintai dari arah yang berlawanan dengan Sendy.


"Harusnya aku yang saat ini berada di samping Albert bukan si janda beranak satu itu!" gerutu Yesi mengepalkan tinjunya.


Sementara dari arah yang berlawanan, Sendy juga geram memukul-mukul kemudi mobilnya.


"Kalian memang kurang ajar dan tak tahu diri, bersenang-senang di atas derita kakakku. Aku telah gagal akan menyingkirkan Kristin dengan cara halus, jadi terpaksa aku akan menyingkirkan Kristin dengan cara kasar." Gerutu Senfy seraya memukul-mukul kemudinya.


Setelah Alberto dan Kristina berlalu pergi, barulah Sendy bisa melihat Yesi dari arah berlawanan.


"Itu bukannya Yesi, wanita barbar dan super nyebelin itu. Kenapa dia juga mengintai Kristin dan kekasihnya?" Gerutunya dalam hati.


Sendy memutuskan untuk menghampiri Yesi yang sedang terus memandang arah dimana Alberto dan Kristina pergi.


"Sialan, kenapa bertemu pria aneh ini." Batin Yesi.


"Bukankah waktu itu aku sudah memberitahu namaku, tapi kenapa kamu memanggilku dengan seenak hatimu sendiri." Yesi menatap sinis pada Sendy seraya mengerucutkan bibirnya.


"Oh iya maaf aku lupa. Kamu sedang apa, Yesi? Harus begitukah?" Sendy menggoda Yesi seraya terkekeh.


"Hem, setidaknya memang lebih baik seperti itu." Jawab Yesi singkat.


"Untung hari ini aku di ijinkan memakai mobil, sehingga aku bisa dengan mudah menyingkir pergi dari orang aneh ini." Batin Yesi seraya akan masuk dalam mobil.


Namin tangannya tertahan oleh tangan Sendy saat akan membuka pintu mobil.


"Kenapa buru-buru, aku masih ingin mengobrol denganmu sebentar saja." Sendy mengedipkan matanya genit pada Yesi.


"Apa lagi yang ingin di bicarakan, aku sedang buru-buru." Yesi mencoba menyingkirkan tangan Sendy yang menahan pintu mobil.

__ADS_1


"Aku ingin tanya, apa kamu kenal dengan Kristin dan kekasihnya? tadi aku tak sengaja melihatmu menatap sinis pada Kristin dan kekasihnya." Sendy merasa curiga.


"Untuk apa kamu tanyakan hal itu padaku, apa penting jawaban yang akan aku berikan padamu?" Yesi malah balik bertanya.


"Ya, sangat penting bagiku. Tolong katakan padaku, mungkin kita bisa bekerjasama." Sendy terus saja membujuk Yesi.


"Memang kerjasama seperti apa yang ingin kamu jalin denganku?" tanya Yesi penasaran.


"Jawab dulu pertanyaanku, apakah kamu kenal dengan Kristin dan kekasihnya?" Kembi lagi Sendy bertanya.


"Ya, pria yang bersama Kristin adalah mantan kekasihku. Tepatnya kami pernah bertunangan, tapi gara-gara Kristin semuanya hancur." Yesi mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa kamu biarkan saja Kristin merebut calon suamimu? kalsu aku jadi kamu, sudah aku habisi Kristin." Sendy menghasut Yesi.


"Sudah berkali-kali aku berusaha menyingkirkan Kristin dengan berbagai cara, tapi tidak ada satupun yang berhasil." Yesi menghela napas panjang.


"Bagaimana kalau aku bantu kamu?" Sendy menawarkan diri.


"Apa untungnya bagimu membantuku menyingkirkan Kristin?" tanya Yesi penasaran.


"Karena aku juga membenci Kristin yang telah membuang kakakku begitu saja dan mengambil semua milik kakakku." Sendy berkata seraya mendengus kesal.


"Berarti kamu ingin membalaskan dendam kakakmu? memang siapa kakakmu?" Yesi semakin penasaran dengan jati diri Sendy.


"Kakakku bernama Willdan, dia sangat menderita saat di campakkan begitu saja oleh Kristin. Makanya aku ingin membalaskan dendamnya." Kata Sendy panjang lebar.


"Hah, kamu adik Willdan? kok aku nggak tahu kalau Willdan memiliki seorang adik?" Mulut Yesi terperangah seolah tak percaya dengan penuturan Sendy.


"Jadi kamu kenal Ka Willdan?" tanya Sendy penasaran.


"Iya, aku kenal. Kamu bisa tanyakan saja pada kakakmu. Aku masih belum percaya kalau kamu adik Willdan." Yesi ragu dengan pernyataan Sendy.


"Aku adik kandung Ka Willdan satu-satunya, bukankah aku pernah bilang jika aku lama tingga di Amerika Serikat." Kata Sendy menjelaskan.


********

__ADS_1


__ADS_2