
Yesi pergi dengan rasa geram.
"Bodohnya aku, harusnya aku membawa Om Mickel jangan ke kantor aslinya Kristin. Tapi cari kantor lain, haduh kalau dia tahu Kristin seorang kaya juga pasti akhirnya merestui hubungannya dengan Albert. Ini sama saja aku menggali kuburku sendiri." Gerutunya seraya memukul kemudi mobilnya.
Sementara saat ini Mickel telah ada di dalam kantor Kristina, namun dia tidak mendapati adanya Kristina.
Bahkan dia telah tanya pada semua orang yang di temuinya di kantor mengenai keberadaan Kristina, namun tidak ada satupun yang tahu.
Karena sebelumnya semua orang yang ada di kantor telah di perintah oleh Alberto jika ada seseorang yang mencari Kristina untuk tidak memberitahu tentang keberadaannya.
Bahkan Alberto tak sungkan memberikan imbalan uang kepada semua orang yang ada di kantor Kristina untuk tutup mulut.
"Kemana Kristin, masa semua orang di kantornya tidak ada satupun yang tahu keberadaanya?" Mickel geram seraya menelpon asistennya untuk menjemputnya di kantor Kristina.
Sementara Kristina masih saja penasaran mengapa juga Alberto mengajaknya pergi secara tiba-tiba.
"Ka, kenapa kita kemari? sebaiknya kita kembali ke kantorku, karena aku sedang mengerjakan banyak tugas." Kristina merajuk murung.
"Aku ingin berdua denganmu di taman ini sebentar saja, tolong jangan cemberut. Aku juga sedang banyak tugas di kantor, tapi kepalaku pusing ingin refresing sejenak denganmu supaya pikiranku adem dan fres kembali." Alberto menaik turunkan alisnya.
"Hem, sepertinya ada yang di sembunyikan oleh Ka Albe. Tapi apa ya,kok aku jadi penasaran?" batin Kristina menatap curiga pada Alberto.
Sementara Rere merasa heran karena ada salah satu karyawan bercerita padanya jika ada seorang lelaki paruh baya yang sedang mencari Kristina.
"Mba Rere, sini sebentar." Salah satu karyawati melambaikan tangan ke Rere saat dia sedang melintas.
"Ada apa, Ambar?" Rere menghampiri meja kerja Ambar.
"Mba, sebelum Bu Kristin pergi bersama Pak Alberto. Terlebih dulu Pak Alberto meminta pada kami semua supaya jika ada yang mencari Bu Kristin bilang saja nggak ada dan nggak tahu sedang ada dimana. Terus tadi ada pria paruh baya, wajahnya mirip banget Pak Alberto, kemari mencari Bu Kristin. Tapi ya aku bilang sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Pak Alberto, tapi terlihat sekali jika pria paruh baya itu kesal karena tak bertemu Bu Kristin." Bisik Ambar pada Rere.
"Ini foto pria paruh baya tersebut, tapi tolong jangan bilang ke Pak Alberto kalau saya yang cerita ke Mba Rere." Ambar menunjukkan foto Mickel.
"Baiklah, kalau begitu kirim fotonya ke nomor ponselku " bisik Rere pada Ambar.
Setelah itu Rere melanjutkan langkahnya kembali ke toilet dengan penuh rasa tanda tanya setelah mendengar cerita dari Ambar.
Rere memutuskan untuk memberitahukan hal tersebut pada Kristina. Setelah dari toilet, segera Rere mengirim notifikasi chat pesan pada Kristina.
__ADS_1
"Ada apa nech, kok Rere kirim pesan?" batin Kristina seraya membuka chat pesan dari Rere.
Segera Kristina mengajak pulang Alberto, karena dia ingin bertemu Rere.
"Ka, sebaiknya kita pulang sekarang. Rere mencariku karena ada hal penting." Kristina bangkit dari duduknya lekas melangkah ke mobil.
Alberto mengikuti langkah Kristina tanpa sepatah katapun.
"Sepertinya daddy sudah nggak di kantor Titin, jadi aman." Batin Alberto tersenyum sendiri.
Tak berapa lama, mobil Alberto telah sampai di depan halaman kantor Kristina.
"Ka, terima kasih ya." Kristina keluar dari mobil Alberto seraya tersenyum.
"Iya, sayang. Sama-sama." Alberto mengedipkan matanya.
Dan meminta Rony lekas melajukannya menuju ke kantor.
Kristina segera melangkah ke ruangan Rere.
"Re, sepertinya yang di foto ini adalah daddynya Alberto. Lihat saja, wajahnya begitu mirip." Kristina menatap dengan seksama foto Mickel.
"Daddynya Alberto nggak setuju dengan hubungan kami. Mungkin ingin mencoba memintaku supaya menjauh dari Alberto " Kristina mengira-ira.
"Alasannya apa daddynya Alberto nggak menyetujui hubungan kalian?" Rere mengernyitkan alis.
"Apa lagi kalau bukan karena aku ini seorang janda beranak satu. Pasti seperti itu, nggak ada alasan yang lain," Kristina menghela napas panjang.
"Sepertinya bencinya calon mertuamu ada yang memprovokosinya." kata Rere menimpali.
"Entahlah, Re. Tapi untuk apa pula Alberto membawaku pergi, supaya aku menghindari pertemuan dengan daddynya. Padahal aku malah ingin perlahan-lahan mendekatinya supaya bisa meluluhkan hatinya," Kristina memijit pelipisnya.
"Sudahlah, nggak usah terlalu di pikirkan. Jalani saja seperti aliran air, gunakan saja pikiranmu untuk memikirkan urusan kantor yang begitu banyaknya," Goda Rere terkekeh.
"Benar juga yang kamu ucapkan, sebaiknya kita bahas urusan kantor saja. Ya sudah, aku balik ke ruanganku karena banyak berkas yang harus aku teliti ulang dan tanda tangani." Kristina lekas keluar dari ruang kerja Rere.
Sementara saat ini Mickel telah sampai di mension Alberto.
__ADS_1
"Daddy, darimana saja?" Mommy Rachel menghampiri.
"Kamu nggak perlu tahu aku darimana." Daddy Mickel melangkah masuk rumah dan menuju ke kamarnya.
Mommy Rachel hanya bisa geleng-geleng kepala dan menghela napas panjang.
****
Pagi menjelang, Daddy Mickel pergi pagi-pagi sekali dengan alasan ingin jogging.
Alberto dan Mommy Rachel tak berani berkata apa pun. Karena suasana hati Daddy Mickel sedang tidak bersahabat.
Daddy Mickel jogging di sebuah taman yang tak jauh dari mensionnya.
Selagi asik jogging tiba-tiba dadanya terasa sakit sekali. Namun saat itu asistennya sedang tidak berada di tempat.
"Ya ampun, itu si bapak kenapa ya? kok sepertinya aku pernah melihatnya tapi aku lupa." Kristina segera mempercepat laju mobilnya menghampiri Mickel.
"Om, ayuk kita ke klinik terdekat." Kristina memapah Mickel dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Segera Kristina melajukan mobilnya menuju ke klinik terdekat. Hanya berapa menit saja telah sampai di klinik terdekat.
Mickel sempat pingsan karena tak kuat menahan sakit di dadanya. Dokter segera menangani Mickel dengan memeriksanya secara intensif.
"Aku harus hubungi siapa, aku tak mengenalnya. Tapi aku sedikit ingat pernah melihat om ini tapi lupa dimana?" Kristina kebingungan.
Selagi bingung, Alberto menelpon.
📱" Sayang, kamu pagi-pagi sudah nggak di rumah. Memang sedang kemana, aku lagi ada di rumahmu?"
📱" Niatnya aku keluar sebentar untuk beli bubur ayam, karena bosen masakan rumah. Tapi sekarang sedang ada di klinik di ujung jalan desa."
📱" Kamu kenapa, sakit? baiklah sekarang juga aku ke klinik."
Alberto langsung mematikan panggilan telponnya, dia memerintah Rony melajukan ke klinik di ujung jalan desa.
"Hadeh, belum juga aku selesai ngomong sudah dimatikan. Pasti Ka Albe mengira aku yang sakit," gerutu Kristina mengusap dada seraya menghela napas panjang.
__ADS_1
******
Mohon dukungan like, vote, favorit..