
Sementara saat ini Yesi sedang gelisah, karena nomor ponsel Alberto nggak bisa di hubungi.
"Albert di mana sih, katanya mau malam mingguan denganku? ini kok nomor ponsel nggak aktif?" gerunya seraya terus mencoba menelpon Alberto.
"Apakah sebaiknya aku datangi saja mensionnya? tapi ini sudah terlalu malam jam 9 lewat 45 menit." Yesi mondar mandir seraya ngoceh sendiri.
"Sial kamu, Albert. Bohongi aku, hingga aku menunggu seperti ini! padahal aku sudah ke salon, sudah dandan cantik seperti ini." Yesi mendengus kesal seraya menghentakkan kakinya.
Akhirnya Yesi menelan kekecawaan, dia melangkah ke kamar dan merebahkan dirinya hingga tertidur pulas.
********
Pagi menjelang, Yesi terbangun saat ponselnya berdering.
"Siapa sih, pagi-pagi benar kok telpon." Yesi sedikit membuka matanya seraya meraih ponsel.
Saat tahu siapa yang menelpon, matanya langsung membola.
📱" Hallo, Albert. Pagi benar sudah telpon?"
📱" Iya, aku ingin berbicara hal penting padamu."
📱" Apa perlu kita bertemu?"
📱" Nggak usah, mending kamu bersiap-siap saja. Aku ingin mengundangmu dan orang tuamu ke acara pesta yang akan di adakan nanti malam di mensionku pukul 7 malam."
📱" Pesta, dalam rangka apa?"
📱" Hanya ingin mengucap syukur saja karena perusahaanku semakin hari semakin maju."
📱" Baiklah, Albert. Aku pasti datang."
📱" Harus datang, karena aku juga ingin memberikan surprise padamu nanti malam saat di acara pesta di mulai."
📱" Serius, Albert. Baiklah kalau begitu aku juga akan memberitahu orang tuaku."
Kemudian telpon di matikan oleh kedua belah pihak. Yesi sudah membayangkan hal-hal yang indah. Dia langsung bangkit dari kasur dan keluar kamar untuk memberitahu pada orang tuanya.
__ADS_1
"Mah, pah." Yesi berlari kecil mencari keberadaan orang tuanya yang ternyata ada di paviliun belakang.
"Ada apa, sepagi ini teriak-teriak?" tanya Irwan.
"Tumben, sepagi ini kamu sudah bangun?" tanya Leni.
"Sudah kalian diam dulu, aku ingin bicara penting pada kalian. Aku terbangun karena Albert telpon, dan dia mengundang kita ke acara pestanya nanti malam pukul 7. Bahkan Albert bilang akan memberi surprise padaku." Yesi bercerita dengan sangat riang.
"Pesta? jangan-jangan seperti waktu itu lagi, kamu berbuat onar!" Irwan melirik sinis pada Yesi.
" Kapan papah berprasangka baik padaku, selalu saja berprasangka buruk!" Yesi mendengus kesal seraya melirik sinis pada Irwan.
"Karena kamu memang tidak pernah berbuat baik, ya jelas papah selalu menilai buruk. Karena kamu tak pernah mendengarkan sedikit saja nasehat dari papah," Irwan tersenyum sinis pada Yesi.
"Terserahlah, yang penting aku sudah menyampaikan apa yang Albert perintahkan saat dia tadi menelpon!" Yesi mendengus kesal seraya berlalu pergi begitu saja.
Berbeda situasi di mension Alberto, saat ini dia sedang sibuk mempersiapkan pesta yang akan diadakan nanti malam.
Dia sengaja mengundang banyak orang terutama para kolega bisnisnya.
"Nak, sepertinya kamu akan mengadakan perayaan? bukannya ultahmu satu bulan lagi?" Mommy Rachel mengernyitkan alis.
"Dasar pemborosan, mending uangmu kamu pergunakan untuk hal yang lain." Cibir Daddy Mickel.
"Untuk masalah beramal, itu sudah aku lakukan tanpa sepengetahuan daddy. Bahkan ini adalah nomor satu yang selalu aku utamakan," Alberto menahan geramnya pada Daddy Mickel.
"Sepertinya kalau nggak ajak berantem rasanya nggak puas tuh daddy," batin Alberto.
Berbeda pula situasi di apartement Kristina, pagi-pagi sekali Mr X telah bertamu. Padahal sudah di usir oleh security namun bersi keras ingin bertemu Kristina. Hingga akhirnya security menyerah dan memanggil Kristina.
"Darimana anda bisa tahu rumah saya, dan untuk apa anda ingin bertemu dengan saya?" Kristin menatap tajam Mr X.
"Kenapa aku nggak di persilahkan duduk, apa kita akan ngobrol dengan berdiri seperti ini?" Mr X menyunggingkan senyum.
"Hem, silahkan duduk. Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk mengobrol," Kristina melirik sinis.
Mr X menjatuhkan pantatnya di sofa teras, begitu pula dengan Kristina.
__ADS_1
"Kristin, sejak kejadian itu aku tak bisa tidur nyenyak dan tak bisa makan enak, kerjapun tidak fokus sama sekali. Maksud kedatangan saya kemari ingin meminta maaf padamu, aku ingin mengakui jika kejadian itu adalah sekedar rekayasa. Dan aku bersumpah kalau aku sama sekali tidak melakukan hal yang tak terpuji padamu," Mr X akhirnya mengaku dengan sendirinya.
"Hem, seperti yang aku duga," Kristina mendengus kesal.
"Untuk apa kamu minta maaf padaku, bukankah kamu senang telah berhasil menghancurkan hubunganku dengan kekasihku!" Kristina menatap tajam pada Mr X.
"Aku meminta maaf karena aku ingin kita menjalin kerja sama lagi dan kamu bersikap baik lagi padaku, aku ingin terus bersahabat denganmu," Mr X menatap Kristin sendu.
"Baiklah, aku bersedia memaafkanmu dan menjalin kerja sama denganmu kembali. Namun kamu harus benar- benar membersihkan namaku, karena kemungkinan besar Yesi telah menyebarkan semua foto-fotoku bersamaku ke semua orang."
"Aku minta kamu mengakui semua rekayasamu di hadapan semua orang, nanti malam di acara pesta seseorang. Nanti aku kirim alamatnya padamu."
Demikian permintaan dari Kristina pada Mr X.
"Baiklah, aku bersedia memulihkan nama baikmu di hadapan semua orang. Aku pastikan nanti malam aku akan datang di pesta temanmu itu," kata Mr X meyakinkan Kristina.
Setelah itu Kristina mengirim alamat mension Alberto ke notifikasi chat pesan pada ponsel Mr X.
"Alamat sudah aku kirim, nanti malam aku akan shre lok juga biar kamu nggak bingung dan cepat sampai ke lokasi tujuan," kata Kristina singkat.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi. Terima kasih atas kesediaannya memaafkan saya." Mr X bangkit dari duduknya dan segera pergi dari apartement Kristina.
******
Waktu yang di nanti telah tiba, semua tamu undangan telah datang. Dari semua teman bisnis Alberto hingga teman masa sekolah, bahkan Yesi dan orang tuanya juga telah datang.
Mr X menepati janjinya, datang pula ke mension Alberto. Walaupun sangat enggan ketika mengetahui pesta yang di hadirinya adalah pestanya Alberto.
"Jika bukan demi Kristin, aku nggak sudi datang kemari. Tapi aku ingin bersaing secara jujur, tidak dengan menjebak Kristin kembali. Masih banyak kesempatan merebut Kristin dari tangan Alberto, dan masih bisa aku meluluhkan hatinya," batin Mr X.
Dengan rasa canggung, Mr X di temani asistennya berbaur dengan orang-orang yang ada di pesta Alberto.
Begitu pula orang tua Alberto ikut pula hadir untuk menyambut para tamu yang datang. Namun Mickel merasa tak senang saat melihat kedatangan Kristina.
"Untuk apa janda beranak satu itu kemari juga!" batin Mickel mendengus kesal.
Saat Mickel akan meninggalkan acara pesta yang baru saja akan di mulai, Alberto menghadangnya. Dan melarang Mickel untuk meninggalkan pesta tersebut.
__ADS_1
******
Mohon dukungan like, vote, favorit..