
Perkataan Sendy semakin pedas, membuat Alberto tak bisa lagi menahan amarahnya. Dia menarik kerah baju Sendy, dan melotot padanya.
Apakah Willdan yang menyuruhmu kemari, seorang pria pecundang dan pengecut!" Alberto menggertakkan giginya seraya menggoncang tubuh Sendy.
"Ternyata anda tak jauh lebih buruk dari kakak aku. Kasar, pemarah, beda sama kakakku. Nggak salah Ka Kristin memilih pria seperti ini?" Sendy melirik sinis pada Kristina.
"Ka Albe, sudah hentikan. Janganlah seperti anak kecil, kenapa gampang sekali termakan emosi?" Kristina menghampiri Alberto.
Kristina meminta pada Alberto untuk melepaskan cengraman pada kerah baju Sendy. Secara kasar Alberto melepaskan cengkramannya dan menghempaskan tubuh Sendy.
"Sialan, aku nggak akan lupa peristiwa ini. Aku juga akan membuat hidpumu hancur begitu juga hidup Kristina. Tunggu sebentar lagi, kalian berdua akan sama-sama hancur olehku." Gertak Sendy di dalam hati.
"Sendy, jika sudah tidak ada lagi kepentingan, sebaiknya kamu pulang. Daripada nanti tambah besar urusannya." Kristina meminta Sendy untuk pulang.
"Sebenarnya aku ingin langsung mengajak Kristin bekerjasama, tapi sepertinya waktu kurang tepat. Besok saja aku datangi kantornya." Batin Sendy.
__ADS_1
"Heh, kamu tuli ya! di suruh pulang malah bengong!" Bentak Alberto mengagetkan lamunan Sendy.
"Baiklah, Ka Kristin. Tapi lain waktu aku akan datang lagi kemari untuk menjenguk ponakanku." Sendy mencoba tersenyum pada Kristina, walaupun sebenarnya saat ini hatinya sangat kesal.
Sendy melangkah pergi begitu saja, tanpa menghiraukan tatapan sinis Alberto padanya.
Seperginya Sendy, Alberto masih saja diam karena masih kesal pada Sendy.
"Ka Albe, bisakah untuk berlatih tidak cepat emosi. Itu nggak baik loh, aku minta maaf jika menyinggung perasaanmu." Kristina menegur Alberto seraya mengusap bahunya.
"Bukannya selama ini aku tak pernah seemosi ini, jangan salahkan aku tapi salahkan adik mantan suamimu!" Alberto masih saja kesal.
Mereka berjalan berdampingan, Kristina mengapit lengan Alberto. Mereka melangkah menuju mobil Kristina. Seperti biasa Rony hanya mengawal dengan mobil milik Alberto.
Sesampainya di kantor Kristina, barulah Alberto pergi ke kantor sendiri dengan menggunakan mobilnya yang di kemudikan oleh Rony.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Kristina dan Alberto, diam-diam Sendy mengikuti mobil Kristina.
"Aman, pria arogan itu telah pergi. Sebaiknya sekarang saja aku ke kantor Kristin, lebih cepat lebih baik. Tak perlu menundanya lagi." Sendy keluar dari mobil melangkah masuk ke kantor Kristina.
Kristina yang baru saja menjatuhkan pantatnya di kursi kerjanya kaget saat melihat kedatangan Sendy.
"Sendy, ada keperluan apa lagi. Pikirku malah sudah pulang ke rumah?" Kristina mengernyitkan alisnya.
"Maaf ya, Ka. Tadi saat di rumahmu, sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Namun ada pacar kakak." Sendy menyeringai tersenyum.
"Bicaralah, karena waktuku tak banyak. Sebentar lagi akan ada deadline." Kristina fokus dengan semua berkas-berkasnya.
"Sombong banget nech orang, mentang-mentang sudah sukses," batin Sendy.
"Ka Kristin, aku ingin menawarkan kerjasama denganmu. Apakah kakak bersedia menjalin kerja sama denganku?" tanya Sendy menatap Kristina yang sedang sibuk.
__ADS_1
"Kerja sama? aduh, maaf. Sepertinya aku tidak bisa, Sendy. Karena aku sudah terlalu repot dengan dua perusahaan yang memiliki klien banyak. Sekali lagi aku minta maaf." Kristina menolak tawaran dari Sendy.
*********