
Tak terasa sudah satu bulan lamanya Willdan dan Elsa berada di Amerika Serikat. Namun Willdan sangat geram karena tidak bisa bertindak sesuka hati selama di Amerika.
"Sial, kenapa Sendy membuat peraturan seperti ini? aku sama sekali tidak boleh merubah apapun, hingga pelayan yang begitu banyak ingin aku kurangi saja nggak bisa!" gerutunya mendengus kesal.
"Kalau seperti ini sama saja aku di jadikan robotnya Sendy. Karena aku tidak bisa seenaknya memakai dana perusahaan sesuka hatiku," gerutunya kembali.
"Haduh, percuma saja aku jauh-jauh kemari." Willdan menghela napas panjang seraya mendengus kesal.
Sementara kesialan sedang berada di pihak Melvin. Dimana banyak sekali penagih hutang datang padanya.
"Maaf, pak. Saya tidak tahu menahu permasalahan hutang piutang tersebut. Bukannya yang berhutang adalah Willdan, kenapa bapam menagih pada saya?" Melvin mendengus kesal.
"Memang, Tuan Willdan yang berhutang. Tapi sebelum pergi dia berpesan jika hutangnya yang akan melunasi adalah anda sebagai pemimpin perusahaan ini," kata sang bapak tersebut.
"Tidak bisa seenaknya seperti itu, sampai kapanpun saya tidak akan bersedia membayarnya karena saya sama sekali tidak berhutang," Melvin terus saja membantah.
Namun semua bukti mengarah pada Melvin, sehingga dia tidak bisa mengelak lagi. Terpaksa harus membayar hutang tersebut yang tidak sedikit jumlahnya.
Bukan hanya itu, beberapa penagih hutanh yang lain juga berdatangan menagih hutang mereka pada Melvin. Begitu juga para karyawan berdemo, karena sudah dua bulan gaji mereka belum di bayarkan.
Semua penanam saham juga ingin mencabut sahamnya yang ada di perusahaan tersebut. Namun sudah tidak ada dana untuk mengembalikannya pada mereka.
Melvin kalang kabut karena banyak sekali yang menagih hutang padanya. Dia sampai menjul mobil, rumah, namun tidak cukup untuk menutup semua hutang Willdan.
"Sialan, ternyata Willdan telah memanfaatkan aku saja. Perusahaan ini di ambang kehancuran karena terlilit hutang yang banyak," Melvin mendengus kesal seraya menghela napas panjang.
Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, semua harta bendanya telah habis tak bersisa. Kini dia harus di penjara, karena ada beberapa hutang yang tak bisa dia bayarkan.
Melvin harus menanggung kesalahan yang tidak pernah dia perbuat, karena ulah Willdan.
"Ternyata kebaikan yang Willdan lakukan padaku karena ada maksud seperti ini. Aku di jadikan sebagai kambing hitam untuk permasalahannya. Aku tak mendengar nasehat dari Sherlyn." gerutunya kembali.
Penyesalan yang di rasakan Melvin saat ini percuma saja. Karena semua telah terjadi.
__ADS_1
Di lain tempat, Yesi sedang mengeluh karena hampir setiap pagi dia mual muntah dan kepalanya sakit.
Orang tuanya merasa curiga dengan apa yang sedang menimpa pada Yesi saat ini.
"Pah, jangan-jangan Yesi hamil?" Leni panik dan gelisah.
"Jangan berpikiran buruk dulu, bisa saja Yesi sedang kurang sehat. Biar lebih jelas, kita bawa saja dia ke dokter," Irwan mencoba menenangkan hati Leni.
Yesipun bersedia di ajak ke dokter oleh orang tuanya. Karena dia juga sudah merasa nggak enak menahan sakit kepala tiap pagi.
Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di rumah sakit. Kebetulan sedang tidak banyak pasien, hingga Yesi cepat di tangani.
Ternyata apa yang di khawatirkan oleh Leni benar-benar terjadi. Yesi di nyatakan hamil 3 minggu. Orang tua Yesi sangat syok mendengarnya, namun tidak bagi Yesi. Dia malah sangat bahagia mendengar kabar kehamilannya.
"Asik, aku hamil." Yesi bersorak kegirangan.
"Kamu sudah nggak waras ya!" Irwan berkata sinis.
"Ih, papah kok begitu? aku akan merasa beruntung dengan kehamilan ini. Pertanda, aku akan bisa menikah dengan Albert. Ini anak Albert, pah." Yesi melangkah riang ke mobilnya.
"Punya satu anak seperti punya sepuluh anak, karena permasalahan tak ada ujung pangkalnya. Satu selesai datang lagi masalah baru, dan berlanjut terus," Irwan menyeringai sinis menatap Yesi.
"Pah, bukannya papah mengharapkan seorang cucu? tapi kenapa seperti tak suka melihat kehamilanku?" Yesi mengerucutkan bibirnya.
"Iya, papah memang mengharapkan punya seorang cucu. Tapi tidak seperti ini caranya," Irwan menghela napas panjang.
"Pah, nggak usah khawatir. Aku akan meminta Albert untuk menikahiku," Yesi sangat antusias.
"Kamu nggak tahu malu ya, setelah apa yang kamu lakukan padanya berkali-kali. Sekarang kamu akan berulah lagi!" Irwan mendengus kesal.
"Berulah bagaimana, masa aku membiarkan anakku nggak punya bapak? itu nggak akan terjadi, aku akan berusaha keras supaya Albert bersedia menikah denganku," Yesi tetap pada pendiriannya.
"Harusnya papah bantu aku, untuk meyakinkan Albert supaya dia mau bertanggung jawab atas anak ini," Yesi mendengus kesal.
__ADS_1
"Kali ini papah nggak akan turut campur lagi, sudah cape." Irwan menghela napas panjang.
"Ya sudah, kalau papah nggak mau ya sama mamah saja." Yesi mengedipkan matanya pada Leni.
"Maaf, mamah juga nggak bisa. Malu juga sama keluarga Albert," Leni menolak untuk membantu Yesi.
"Kalian memang nggak sayang sama aku, ya sudah nanti aku kerumah Albert sendiri." Yesi kembali mendengus kesal.
Setelah sampai di rumah, Yesi tidak langsung turun. Dia justru meminta pada sopir supaya mengantarkannya ke rumah Alberto.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, sampailah Yesi di depan mension Alberto. Segera dia memencet bel pintu gerbangnya.
Setelah di bukakan pintunya, Yesi melangkah dengan percaya dirinya ke rumah Albert. Sementara di teras depan rumah sedang duduk bersantai orang tua Alberto.
"Dad, lihat itu. Untuk apa lagi Yesi kemari?" Rachel mengernyitkan alis saat melihat kedatangan Yesi.
"Entahlah, mom. Semoga tidak membuat onar kembali," Mickel merasa khawatir Yesi akan berulah.
"Pagi om dan tante, Albertnya ada nggak? tanya Yesi tanpa ada rasa malu.
"Ada, sebentar lagi juga keluar. Memangnya ada apa kamu mencarinya?" tanya Mickel ketus.
"Aku ingin menyampaikan kabar gembira padanya." Yesi meletakkan kertas laporan kehamilannya di atas meja.
"Apa ini," Mickel perlahan membuka laporan tersebut.
"Aku sedang hamil, om. Saat ini usia kandunganku sudah tiga minggu," Yesi menyunggingkan senyum.
"Apa kamu yakin itu anak Albert, sedang kamu sebelumnya pernah menjajakan dirimu pada orang-orang kan, saat tinggal di luar negeri," Irwan tersenyum sinis.
"Om, kok berkata seperti itu. Di dalam perutku ini ada cucu, om. Jika om nggak suka sama aku nggak apa-apa. Tapi setidaknya jangan membenci anak yang tak berdosa ini." Yesi mengusap perutnya yang masih rata.
Tak berapa lama, Alberto keluar dari dalam rumah. Dia begitu kaget melihat kedatangan Yesi.
__ADS_1
"Untuk apa kamu kemari, ingin membuat masalah kembali!" Alberto menatap sinis pada Yesi.
*********