Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Gagal


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian, keluarga Yesi telah sampai di mension milik Alberto. Dalam hati Yesi penuh dengan rasa bahagia.


"Tidak salah lagi, pasti Albert ingin meminta maaf padaku. Dan ingin melanjutkan rencana pernikahannya denganku, hingga mengundangku dan orang tuaku." Batin Yesi sumringah.


"Duduklah, biar aku panggilkan Alber dan Mickel." Mommy Rachel mempersilahkan duduk pada Yesi dan orang tuanya.


Mommy Rachel melangkah ke dalam untuk memanggil Alberto dan Daddy Mickel.


"Tumben nech, kemari?" Mickel menyalami orang tua Yesi.


"Aku yang undang mereka kemari, dad." Sela Alberto.


"Kok kamu nggak berbicara dengan daddy?" Mickel menatap tajam Alberto.


"Sudahlah, dad. Lebih baik kita duduk dan dengarkan apa yang ingin Albert katakan." Mommy Rachel memberi saran.


Daddy Mickel menjatuhkan pantatnya ke sofa. Setelah semua duduk dengan nyaman, barulah Alberto mulai membuka pembicaraan.


"Om, tante. Maaf jika Albert tiba-tiba meminta kalian datang kemari. Karena Albert ingin membicarakan hal yang berhubungan dengan Yesi." Alberto melirik Yesi.


Yesi salah tingkah dan tersenyum genit pada Alberto.


"Nggak usah sungkan, Albert. Katakan saja, aku sudah siap mendengar kabar bahagia darimu." Tiba-tiba Yesi berkata.


"Hust, nggak sopan menyela pembicaraan orang!" Tegur Irwan menatap tajam Yesi.


"Habisnya Albert terlalu bertele-tele, terlalu lama. Ngomong saja seperti sedang berpidato!" Yesi merajuk kesal.


"Yesi, tolong jangan menyela apa yang aku ucapkan. Karena aku belum selesai berbicara, bukannya kamu gadis berpendidikan? harus tahu etika," Alberto menatap tajam Yesi.


Setelah mendapat teguran dari Irwan dan Alberto, Yesi diam tak berkata lagi.


"Langsung saja ya, biar aku nggak di kira sedang berpidato. Om tante pasti sudah tahu apa yang telah di lakukan Yesi. Dia telah menghasut daddy dengan kata-kata buruk. Tolonglah, supaya Yesi tidak melakukannya lagi. Dan aku ingin, Yesi disini menjernihkan permasalahan." Alberto melirik sinis pada Yesi.

__ADS_1


"Apa maksud ucapanmu, Albert? aku sama sekali tidak pernah menghasut Om Mickel," Yesi sangat marah dan melotot pada Albert .


"Daddy, tolong jelaskan pada semua. Apa yang Yesi ceritakan pada daddy tentang Kristin." Alberto menatap tajam pada Daddy Mickel.


"Yesi tak bercerita apapun, dia cuma memberitahu jika Kristin itu kerja sebagai direktur di sebuah perusahaan. Yesi nggak berkata apa-apa lagi," Daddy Mickel berkata sejenak.


"Sekarang Om Irwan jelaskan pada semua, apa yang om tahu tentang Kristin," Alberto menatap Irwan.


"Kristin itu seorang wanita pemilik dua perusahaan besar, dia seorang presiden direktur. Bahkan saat ini aku juga sedang menjalin kerja sama dengannya. Yesi juga tahu siapa Kristin, jadi yang dikatakan Yesi tentang Kristin itu nggak benar," kata Irwan melirik sinis pada Yesi.


"Wan, apa kamu nggak salah ngomong tentang Kristin?" Mickel masih tak percaya.


"Bukankah aku juga telah berkata di telpon, jika Yesi itu berbohong demi untuk tujuannya sendiri. Kenapa kamu masih saja bersikeras dan percaya dengan apa yang di katakan oleh anakku?" Irwan mencoba menjelaskan kembali.


"Yesi, aku minta di hadapan semuanya. Kamu mengatakan yang sejujurnya tentang Kristina." Alberto menatap tajam Yesi.


"Sial, aku pikir di undang kemari untuk membahas hubunganku dengannya. Malah seperti ini," batin Yesi kesal.


"Kenapa kamu diam saja, Yesi. Apa kamu malu jika kebohonganmu terbongkar disini?" Alberto memojokkan Yesi.


"Sebutkan saja syaratnya, jika aku mampu pasti aku penuhi." Alberto menimpali.


"Kamu sangat mampu dan bisa memenuhi syarat dariku, syaratnya gampang kok. Kamu tinggal bilang saja bersedia penuhi syarat dariku," Yesi kembali berkata.


"Nggak usah di bikin lama, tinggal sebutkan saja apa susahnya!" Alberto mendengus kesal.


"Jika kamu nggak mau berkata ya sudah, aku juga nggak ingin buang-buang waktu berhargaku. Dan jika kamu tetap tak msu mengakui salahmu tentang perkataan dustamu, aku juga nggak akan permasalahkan." Alberto bangkit dari duduknya.


"Om, tante. Albert permisi karena masih banyak yang harus di kerjakan. Dan tolong nasehatin Yesi supaya menjadi wanita yang jujur dan jangan bermuka dua. Alberto pergi begitu saja.


Sementara Mickel merasa geram dengan tingkah Alberto.


"Wan, tolong maafkan anakku." Mickel menghela napas panjang.

__ADS_1


"Kamu nggak perlu minta maaf, apa yang di lakukan oleh Albert nggak salah. Harusnya aku yang minta maaf atas apa yang Yesi lakukan." Irwan tersenyum kecut.


"Satu yang aku pinta darimu, percayalah dengan apa yang aku katakan tentang Kristin. Kamu jangan melihat dia dari status jandanya, tapi lihatlah dari hatinya. Dia wanita mandiri yang sangat hebat dan baik. Suatu saat pasti kamu akan menyesal jika kamu terus saja mengatakan hal buruk tentangnya," Irwan mencoba menasehati Mickel.


"Aku heran sama kamu, seharusnya kamu mendukung sepenuhnya anakmu dan berusaha mewujudkan impiannya. Tapi kamu masih saja membela wanita yang baru kamu belum lama." Mickel berkata sedikit menyindir pada Irwan.


"Terserah apa yang kamu katakan, percuma juga aku menjelaskan panjang lebar jika kamu tak bisa menelaah semua perkataanku. Maaf, kami pamit pulang." Irwan mengajak Leni bangkit dari duduknya.


Kemudian mereka pulang tanpa mengajak Yesi.


"Hem, sampai kapanpun aku nggak akan sudi berkata yang sebenarnya tentang Kristin. Aku sengaja melakukan ini karena aku nggak ingin Kristin berbahagia bersama Albert. Biar saja mereka berdua tak bisa saling memiliki satu sama lain. Dengan begitu mereka merasakan apa yang aku rasakan." Batin Yesi menyeringai licik.


Yesi berlari kecil mengejar orang tuanya yang telah jauh melangkah. Mereka kembali ke rumah.


Setelah sampai di rumah, Mamah Leni mencoba menasehati Yesi.


"Nak, duduklah. Mamah ingin ngobrol sebentar denganmu." Mamah Leni menyunggingkan senyum.


"Ada apa sih, mah? jangan bilang mamah mau membahas masalah tadi." Yesi menjatuhkan pantatnya di sofa.


"Nak, bersikaplah layaknya seorang wanita. Kamu ini gadis berpendidikan, tapi tingkahmu tak lebih dari seorang pecundang. Mamah dan papah malu, jika kamu masih saja bersikap seperti ini. Kamu harus ingat, nak. Setiap perbuatan pasti ada balasannya." Mamah Leni mencoba menasehati.


"Tuhkan, itu mulu yang mamah dan papah katakan. Bosen aku mendengarnya." Yesi bangkit dari duduknya melangkah ke kamar.


"Ya, Tuhan. Mau sampai kapan anakku bersikap seperti ini. Aku ingin sekali punya anak yang baik dan sopan," Mamah Leni menghela napas panjang.


Sementara saat ini Kristina sedang disibukkan dengan urusan kantornya. Karena dia sedang ada klien baru lagi.


Seorang pria muda dan tampan berketurunan Indo campur Eropa. Yang belum lama tinggal di Indonesia.


"Hallo, Mr. X. Bagaimana dengan kerja sama kita?" Kristina menyalami Mr. X


"Fix, Nona cantik. Aku akan menjalin kerja sama dengan pengusaha muda nan cantik jelita seperti anda." Mr X memuji Kristina.

__ADS_1


********


Mohon dukungan like,vote,favorit.


__ADS_2