Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Mencoba Kabur


__ADS_3

Marwan dan Mikha saling berpandangam seraya bebarengan menghela napas panjang.


"Memang susah mendidik orang yang keras kepala dan egois sepertimu. Kamu sama sekali tak pernah menyadari akan kesalahanmu!" Marwan mendengus kesal seraya berlalu pergi dari kamar Yesi.


Begitu pula dengan Mikha, diapun akan mengikuti langkah suaminya untuk keluar dari kamar Yesi. Namun Yesi menahannya.


"Tante, tolong belikan aku isi pulsa. Karena pulsa ponselku habis." Dengan entengnya berkata tanpa ada rasa malu sedikipun.


"Satu lagi, tante. Tolong beri aku satu porsi lagi makanannya karena aku masih sangat lapar." Seraya melahap makanannya begitu cepat.


"Ok, tapi untuk semua itu tidaklah gratis. Kamu harus mau mengerjakan segala tugasmu di sini. Jika tidak kami akan membatasi apa yang kamu inginkan." Mikha menyeringai sinis.


"Tidak mau!" Yesi mendengus kesal seraya membanting sendok dan garpu di piringnya.


"Baiklah kalau tidak mau." Mikha kemudian berlalu pergi.


Tak lupa mengunci kembali pintu kamar Yesi.


"Dasar keras kepala, baiknya di apakan itu anak ya? supaya benar-benar berubah." Gerutu Mikha seraya mengunci pintu kamar Yesi.


Mikha melangkah menuju ruang tengah menemui suaminya yang sedang asik menonton bola.


"Pap, ponakanmu meminta isi pulsa. Dia bilang pulsa habis, namun saat mam kasih penawaran dia nggak mau malah nada bicaranya tinggi." Mikha menjatuhkan pantatnya di sofa sebelah Marwan.


"Biarkan saja, pap juga heran. Sifatnya kok parah banget, bagaimana jika kelak dia memimpin perusahaan menggantikan Mas Irwan?" Marwan menghela napas panjang.


"Membingungkan, punya anak cuma satu tapi cara mendidiknya salah ya jadinya seperti ini." Mikha geleng-geleng kepala.


"Apa kamu sudah ceritakan pada Mas Irwan tentang perilaku Yesi saat di sini, pap?" Mikha menatap sendu suaminya.


"Belum, mam. Yesi kan belum lama tinggal dengan kita. Sembari kita lihat dulu kedepannya seperti apa." Jawab Marwan.


"Hem, gitu ya. Ya sudah terserah pap saja." Mikha bangkit dari duduknya berlalu kembali ke kamar Yesi.


Mikha kembali ke kamar Yesi hanya untuk mengambil piring dan gelas yang kotor.


"Sudah makannya." Mikha membereskan nampan yang berisikan piring dan gelas kotor.


"Tante, aku masih lapar. Tega banget sih, kasih makan ke ponakan sedikit sekali. Mana pulsa yang aku minta, kok nggak di belikan juga?" Yesi mendengus kesal menatap tajam Mikha.


"Kalau kamu mau makan lagi, cuci piring bekas makanmu ini. Dan kalau kamu ingin pulsa, rapikan tempat tidurmu dan cuci baju kotormu sendiri," Mikha berkata.


"Hem, baiklah." Yesi merapikan tempat tidurnya.


"Sekarang kamu ikut tante ke dapur dan bawalah pakaian kotormu." Perintah Mikha.


Yesi menuruti kemauan Mikha demi bisa makan satu piring lagi dan demi bisa mendapatkan pulsa.

__ADS_1


Yesi mengikuti Mikha ke dapur dengan membawa pakaian kotornya. Setelah sampai di dapur, Mikha memerintah Yesi terlebih dahulu merendam pakaian kotornya.


"Kamu rendam pakaianmu dulu, di ember itu. Ini deterjennya, kira-kira saja. Jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit. Setelah itu kamu cuci piring dan gelas ini." Mikha menunjukkan nampan yang berisikan gelas dan piring kotor.


Yesi menuruti perintah Mikha dengan merendam pakaian kotornya sendiri. Setelah itu mencuci piring dan gelas yang semula di pakainya untuk makan.


Beberapa detik setelah mencuci piring dan gelas, Yesi mencuci pakaiannya yang tadi di rendam. Namun Mikha tak mengijinkan memakai mesin cuci.


"Tante, masa aku mencuci pakai tangan. Nanti tanganku bisa kasar, kuku aku rusak, cat kuku juga jelek." Yesi mendengus kesal.


"Ya sudah kalau nggak mau, pakaianmu akan selamanya di rendam dan tante juga nggak akan memberimu pulsa apa lagi makan." Mikha berlalu pergi.


Namun lagi-lagi Yesi memanggil.


"Tante, tunggu. Iya ini aku cuci pakai tangan, tapi tolong ajari aku. Sekalian nanti ajari cara jemur pakaiannya." Yesi langsung jongkok dan mencuci pakaiannya sendiri dengan tangan.


Setelah beberapa menit mencuci, Yesi di ajari oleh Mikha cara menjemur pakaian yang baik. Barulah Mikha memberi Yesi makan kembali, ketika Yesi selesai dengan urusan baju kotornya.


"Tante, makannya mana?" Yesi menagih makanan yang di janjikan oleh Mikha.


"Yuk kita ke ruang makan." Ajak Mikha melangkah ke ruang makan di ikuti oleh Yesi.


"Duduklah, dan ambillah makanmu sendiri." Mikha mengambilkan piring serta sendok.


"Tante, ambilin dong. Aku kalau di rumah biasa mamah yang menyiapkan, aku tinggal makan saja." Rengek Yesi manja.


"Itu juga sudah di siapkan di depanmu, tinggal kamu pilih menunya sendiri. Kamu punya tangan untuk apa, sudah dewasa kok pikiran seperti anak kecil. Kalau kamu saja masih manja, bagaimana kelak kalau kamu punya suami dan anak?" Mikha melirik sinis pada Yesi.


"Berpikirlah dewasa, Yesi. Jika kamu makan saja masih di layani orang tua. Apa kelak suamimu juga yang melayanimu, mengambilkan makananmu? padahal tugas seorang istri itu melayani bukan di layani."


"Tindakan mamahmu itu salah, memanjakanmu itu tidak benar. Berpikirlah realistis, apa selamanya kamu akan selalu tergantung pada orang tua?"


"Harusnya seusia kamu malah sudah bisa menjadi wanita yang mandiri dan dewasa. Dan bisa bergantian melayani orang tua, membahagiakan mereka di usia tuanya."


"Pada hakekatnya setiap manusia akan kembali ke pada pangkuan Ilahi. Nggak selamanya hidup. Jika kamu terus bergantung pada orang tuamu, bagaimana jika mereka telah tiada?"


"Makanya sebelum terlambat, belajarlah mandiri mulai sekarang."


Demikian nasehat Tante Mikha panjang lebar pada Yesi yang saat ini sedang menikmati makannya.


Yesi seperti tak menghiraukan semua nasehat yang barusan di ucapkan oleh Tante Mikha.


"Yesi, apa kamu mendengarkan yang barusan tante ucapkan?" Mikha menatap tajam Yesi yang sedang sendawa karena kekenyangan.


"Tante, jadi orang jangan cerewet bisa nggak? contohlah mamahku, pendiam nggak banyak kata." Yesi bangkit dari duduknya.


Saat Yesi akan pergi begitu saja, Mikha mencegahnya.

__ADS_1


"Eits, mau kemana? bereskan dulu meja makan, dan cucilah kembali piring kotormu." Mikha mencekal tangan Yesi.


Yesi mendengus kesal sembari membereskan meja makan dan membawa piring kotor serta gelas kotor ke dapur. Sesampainya di dapur, Yesi mencucinya.


"Sudah selesai, sekarang isikan pulsa ponselku lima ratus ribu." Yesi berlalu pergi begitu saja.


"Banyak amat lima ratus ribu, kebiasaan hidup berfoya-foya dan pemborosan." Gerutu Mikha seraya geleng-geleng kepala.


Mikha sampai melupakan untuk mengurung kembali Yesi di dalam kamar. Dia lekas mengisi pulsa ponsel Yesi, akan tetapi cuma seratus ribu saja.


Saat ini Yesi telah berada di kamar dan merebahkan badannya di pembaringan.


"Ini baru namanya makan, perut terasa kenyang. Eh ponselku berbunyi, pasti Tante Mikha telah mengisi pulsa ke ponsel aku." Yesi meraih ponselnya seraya tersenyum.


"Apa-apaan ini, dasar orang kaya pelit! masa isi pulsa cuma seratus ribu!" Yesi melempar ponsel ke pembaringan.


Namun sejenak matanya tertuju pada pintu kamar yang terbuka. Akal liciknya mulai keluar.


"Hem, kenapa aku nggak pergi saja dari rumah ini secara diam-diam. Tapi aku sama sekali nggak punya uang." Sejenak otaknya berpikir kembali.


Yesi kembali tersenyum licik, dan sesekali melihat perhiasan yang kini sedang dia kenakan.


"Aku kan masih punya perhiasan, bisa aku jual. Yahh pintar juga otakmu, Yes." Segera Yesi memberekan semua pakaiannya ke dalam koper kembali.


Dia bergerak cepat supaya lekas bisa keluar dari rumah Om Marwan dan Tante Mikha. Setelah semua beres, dia menyeret kopernya pelan-pelan keluar dari kamar tersebut.


Dengan berjalan sangat hati-hati, dia memilih lewat pintu belakang dapur.


"Pasti saat ini om dan tante ada di ruang tengah atau teras depan, sebaiknya aku lewat dapur saja." Batin Yesi seraya sesekali tengok kanan kiri untuk mengecek keadaan sekeliling.


Namun kali ini keberuntungan tidak sedang berpihak padanya. Karena pada saat Yesi telah sampai di pintu dapur, malah dia berpapasan dengan Mikha.


"Hey, mau kemana kamu!" Mikha berkacak pinggang menghadang Yesi di pintu dapur.


Yesi celingukan bingung dan panik.


"Mampus dech, sial banget sih. Kenapa pula Tante Mikha tiba-tiba ada di pintu keluar dapur!" Batinnya seraya terus tertunduk lesu.


Yesi hanya diam tak bisa berkata apa-apa lagi. Bibirnya kelu, jantungnya berdebar kencang, serta dia terlihat nampak gugup dan gelisah.


"Pap, cepat ke dapur sekarang!" Mikha teriak dengan lantang memanggil Marwan.


"Ada apa sih, mam." Marwan melangkah datang terburu-buru ke arah dapur.


Saat Marwan melihat Yesi dengan kopernya, langsung saja dia berkacak pinggang menghampiri Yesi.


"Hem, mau coba kabur kamu! apa nggak mikir, saat ini kamu nggak punya uang sepeserpun! mau kamu jadi gelandangan di luar sana!" Marwan melotot dan mendengus kesal.

__ADS_1


*******


Mohon dukungan like,vote,favorit.


__ADS_2