Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Tipu Daya Yesi


__ADS_3

Di dalam hati, Yesi menyeringai puas. Karena usahanya untuk menjebak Alberto berhasil.


"Lain kali, kamu harus hati-hati." Perlahan Alberto melepaskan topangan tangannya pada tubuh Yesi.


"I-iya, maaf ya." Yesi berpura- pura panik dan khawatir.


"Ya sudah, kalau begitu aku pamit pulang. Kita bisa melanjutkan besok di kantor saja. Karena aku nggak ingin mengganggu waktu istirahatmu. Pastinya kamu kan cape baru pulang dari Luar Negeri." Yesi berpamitan pulang dengan suasana hati berseri.


"Ok, hati-hati di jalan." Alberto tersenyum kecut.


Segera Alberto masuk dalam rumah dengan pikiran yang masih kacau karena di pelupuk mata masih saja terbayang peristiwa tadi pagi antara Willdan dan Kristina.


Berbeda dengan Yesi yang saat ini telah berada di mobilnya. Dia bertanya pada anak buahnya yang berprofesi menjadi sopir pribadi.


"Coba aku ingin lihat hasil bidikan kameramu, bagus atau tidak." Yesi menengadahkan tangannya.


Anak buah Yesi memperlihatkan semua foto hasil bidikan kamera ponselnya.


"Hem, kerja yang sangat bagus. Jangan lupa semua foto itu kirim ke nomor ponsel yang tadi aku berikan padamu. Nanti aku transfer bonus untukmu karena cara kerjamu yang sangat bagus." Yesi melihat semua foto-foto tersebut.


Setelah itu menyerahkan ponselnya pada anak buahnya kembali. Anak buah Yesi lekas mengirim semua foto tersebut pada ponsel Kristina dengan sedikit tulisan yang sangat menyakitkan.


"Kamu sungguh jahat, telah menghancurkan pertunangan orang lain. Lihatlah kebersamaan mereka! Dasar janda kegatelan!" Demikian kata-kata kasar yang di kirimkan ke ponsel Kristina.


Tak berapa lama semua notifikasi chat pesan dari anak buah Yesi terkirim ke ponsel Kristina. Sejenak Kristina membuka ponselnya, dan betapa terkejutnya saat melihat semua foto dan sebuah kata-kata yang masuk dalam notifikasi chat pesan.

__ADS_1


"Nomor asing mengirimkan semua foto ini dan kata-katanya begitu kasar padaku. Apa maksud semua ini, aku harus bertanya pada Yesi. Agar semua jelas." Kristina menelpon nomor ponsel Yesi dan mengajaknya bertemu saat itu juga.


📱" Hay, Yes. Bisa kita bertemu sebentar di cafe yang biasa kita nongkrong?"


📱" Bisa banget, Kristin. Aku langsung jalan ya ke cafe."


📱" Baiklah, aku juga akan langsung meluncur."


Yesi dan Kristina bersamaan meluncur ke cafe dimana mereka biasa nongkrong bareng. Hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai bersamaaan.


Segera Yesi dan Kristin memilih tempat duduk yang strategis. Yesi pura-pura bertanya dahulu.


"Tumben, pagi-pagi ajak bertemu. Memangnya ada apa, Kristin?" Yesi menatap Kristina.


"Lihatlah ini, barusan ada seseorang mengirim semua foto ini padaku. Bahkan dengan chat pesan yang sangat kasar. Aku ingin minta penjelasan denganmu,Yesi." Kristina menunjukkan semua foto yang ada di ponselnya.


"Sejak kita kenal, kamu sama sekali tak pernah bercerita tentang jati diri pria yang memutuskan tunangan secara sepihak. Jujur, sudah lama aku tahu jika kamu kenal dengan Ka Albe. Tapi aku sengaja tak bertanya denganmu. Aku pikir kamu akan terlebih dulu jujur cerita padaku. Yesi, apa memang yang di foto ini benar adanya? kalau selama ini yang bertunangan denganmu adalah Ka Albe?" Kristina menatap menyelidik pada Yesi.


"Maafkan aku, Kristin. Bukan aku menutupi semua darimu, tapi semua yang di foto itu memang benar adanya. Itu foto tadi pagi saat aku di rumah Albert. Heran, siapa pula yang begitu lancang memotretku," kata Yesi seolah tak tahu.


"Memangnya kamu tahu dan kenal dengan Albert. Aku pikir selama ini yang kamu ceritakan tentang Ka Albe adalah bukan Alberto, makanya aku diam saja dan tak merespon. Kalau aku tahu pasti aku jujur jika sebelum Albert bersamamu, dia telah beberapa tahun berpacaran denganku," kata Yesi memasang wajah sedih.


"Yesi, aku minta maaf. Aku tidak tahu jika Ka Albe adalah tunanganmu, karena dia pernah berkata padaku jika kalian hanya sebatas di jodohkan. Dan dia menolak perjodohan itu," Kristina mengusap lengan Yesi.


"Dia bohong, Kristin. Kami bukan di jodohkan, tapi kami saling mencintai dan telah memadu kasih selama dua tahun. Setelah itu kami memutuskan bertunangan, namun beberapa bulan terakhir Albert bersikap dingin padaku. Dan secara sepihak memutuskan pertunangan kita begitu saja," tiba-tiba Yesi beraksi dengan meneteskan air mata palsunya.

__ADS_1


"Albert memang sempat bilang, jika dia telah mencintai wanita lain. Wanita yang dulu pernah di cintainya waktu masih kanak-kanak. Tapi aku sama sekali tak tahu jika wanita yang Albert maksud adalah kamu," kembali lagi Yesi menitikkan air matanya.


"Ya, Tuhan. Aku merasa bersalah sekali pada Yesi, gara-gara aku hubungan mereka berdua hancur. Ka Albe sungguh keterlaluan, telah membohongi aku!" batin Kristina geram.


"Yes, aku sama sekali nggak tahu jika kamu telah menjalin hubungan dengan Ka Albe, sekali lagi aku minta maaf," Kristina kembali mengusap lengan Yesi.


"Nggak usah minta maaf, aku bisa memahamimu kok. Tapi aku ada permintaan, apakah kamu bersedia mengabulkan permintaanku. Ini demi papahku" Yesi masih akting wajah sedih.


"Papahmu saat ini sakit keras, kamu lihat kan foto itu memang belum lama. Itu foto tadi pagi. Papahku sengaja terus menjalin kerja sama dengan Albert dengan harapan Albert akan kembali padaku. Karena di sisa umurnya, papah ingin melihatku menikah dengan Albert," Yesi menitikkan air mata kembali.


"Ya, Tuhan. Aku kira selama ini Tuan Irwan sehat saja, tidak mempunyai masalah dalam kesehatannya." Kristina masih belum percaya.


"Jika papahku dalam kondisi sehat, nggak mungkin terus memaksaku untuk membantu mengurus perusahaannya," Yesi tertunduk lesu.


"Baiklah, Yesi. Aku akan berusaha membantumu untuk bisa kembali bersama Ka Albe, sebagai tanda permintaan maafku karena aku telah lancang mencintai tunanganmu, sekali lagi aku minta maaf." Kristina menatap sendu Yesi.


"Apa ucapanmu bisa aku pegang, dan kamu benar-benar akan ikhlas melepas Albert untukku?" Yesi belum merasa yakin.


"Iya, Yes. Aku nggak mau di tuduh dan di cap sebagai janda kegatelan yang telah menghancurkan pertunangan gadis lain. Dan aku juga nggak mau terjadi apa-apa pada Tuan Irwan jika mengetahui kalau Ka Albe pernah menjalin hubungan denganku, kata Kristina meyakinkan Yesi.


"Kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan cerita pada papahmu tentang hal ini. Sekali lagi aku ucapksn terima kasih padamu, aku bersyukur bisa kenal dan bahkan bisa berteman dengan wanita sebaik dirimu, Kristin. Yesi menggenggam jemari Kristins.


Dalam hati Yesi sangat bahagia karena sandiwaranya berhasil dan tak sia-sia.


"Ternyata gampang juga menghancurkan hubunganmu dengan Albert, tak perlu dengan cara kasar. Hanya sedikit sandiwara saja, kamu telah luluh," batin Yesi.

__ADS_1


****


Mohon dukungan like, vote, favoritnya.


__ADS_2