
Setelah menempuh perjalan cukup lama, akhirnya sampai juga Willdan dan Elsa di mension milik Sendy yang sangat mewah di negara tetangga, tepatnya di Amerika Serikat.
"Lihatlah, mah. Rumah Sendy, bak istana raja. Luas sekali dan bersih serta nyaman." Willdan sangat terpesona melihat seisi ruangan rumah milik Sendy.
Elsa hanya tersenyum kecut tak menanggapi perkataan dari Willdan, dia terus saja mengingat Sendy.
Bisa-bisanya riang gembira di atas derita Sendy, perilakumu tak sepadan dengan apa yang Sendy korbankan padamu," gerutu Elsa di dalam hati.
Willdan terus saja berkeliling mengitari seisi ruangan di dalam rumah tersebut. Pelayan rumahnya juga tidak hanya satu, membuat Willdan merasa heran.
"Busyet, berapa banyak uang yang Sendy keluarkan setiap bulannya untuk membayar gaji para pelayan di sini. Pemborosan saja, nanti aku akan kurangi pelayan di rumah ini," niat hati Willdan awal masuk rumah Sendy sudah tidak baik.
Saat Willdan, semua pelayan telah berjejer untuk menyapa kedatangannya. Sehingga Willdan tahu berapa jumlah pelayan yang ada di rumah tersebut.
Willdan bersikap tak ramah pada para pelayan, berbeda dengan Sendy yang peramah dan suka bercanda.
Bisik-bisik dari para pelayan mulai terdengar, membuat Willdan geram.
"Kenapa kalian bisik-bisik, apa kalian membicarakan hal buruk padaku? nggak sopan di depan majikan seperti ini, bagaimanapun aku ini majikan kalian. Karena aku kakak kandung pemilik rumah mewah ini," Willdan berkata lantang di depan para pelayan.
Sikap Willdan membuat Elsa menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang.
"Willdan, kita baru datang. Lagi pula kita cuma numpang di sini, mereka itu pelayan Sendy. Jadi kamu nggak bisa seenaknya pada mereka, karena bukan kamu yang bayar mereka tetapi Sendy," Elsa mencoba mengingatkan Willdan.
"Mah, kok malah jadi membela mereka. Mereka ini cuma pelayan tapi bertingkah nggak sopan pada kita," Willdan berkata ketus.
"Willdan, yang nggak sopan dan kurang ajar itu kamu. Berani membentak mamah. Kamu mengatakan mereka nggak sopan? lalu dimana nggak sopannya, mereka dari tadi diam tak berkata apapun. Mereka berbisik belum tentu mengatakan hal buruk tentangmu. Kamu merasa seperti itu, karena perbuatanmu yang buruk!" Elsa geram seraya mendengus kesal.
__ADS_1
"Sebenarnya mamah malas tinggal bersamamu, tahu akan seperti ini mamah nggak ikut," Elsa menatap sinis pada Willdan.
"Aku malah senang mamah nggak ikut, jika ternyata hanya merepotkan saja. Tahu seperti ini, aku tinggalin saja mamah di Indonesia," Willdan menyeringai licik.
"Dasar anak durhaka, tak tahu di untung. Dulu kamu nggak seperti ini, semakin bertambah usiamu bukannya kamu semakin lebih baik, tapi malah semakin lebih buruk saja," perlahan dari mata Elsa mengeluarkan buliran bening yang tak bisa lagi di bendung.
Melihat Elsa menangis, hati Willdan merasa iba. Dia merengkuh Elsa dalam pelukannya.
"Mah, maafkan aku. Aku nggak bermaksud membuat mamah sedih, dan nggak bermaksud membentak mamah." Willdan mengusap pelan punggung Elsa.
"Ya sudah, cobalah untuk kembali menjadi Willdan yang dulu. Saat kamu bersama Kristin, kamu sangat baik," Elsa menyadarkan akan kekeliruan Willdan.
"Kenapa pula mamah menyebut wanita sialan itu! benci aku setiap mendengar namanya," batin Willdan mendengus kesal.
Elsa saat ini telah menyadari kekeliruannnya, dia menyesal selalu mendukung tindakan salah anak-anaknya. Perlahan Elsa menjatuhkan pantatnya di sofa. Pikirannya menerawang entah kemana.
"Kenapa aku baru menyadari kesalahanku saat ini di kala Sendy telah berada dalam jeruji besi. Begitu bodohnya aku, menghasut Sendy dengan mengatakan hal buruk tentang Kristin padanya."
"Aku bukan ibu yang baik, karena aku membiarkan kedua anakku berjalan melenceng. Bukannya aku menegur mereka dan meluruskannya. Tapi aku malah membenarkan apa yang mereka lakukan."
"Semua sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Sulit bagiku untuk memperbaikinya, karena Sendy sudah terlanjur masuk penjara. Willdan sudah menjadi orang yang tamak dan kejam."
"Aku sudah tak bisa menasehati Willdan, karena dia sangatlah keras kepala."
Elsa terus saja bengong, melamun, dan menyalahkan diri sendiri untuk semua yang terjadi pada kehidupan kedua anaknya.
Elsa merasa semua sudah tak dapat di perbaikinya, dia merasa putus asa. Dia ingin kembali ke Indonesia untuk meluruskan segalanya.
__ADS_1
Dia ingin sekali menemui Sendy untuk mengatakan yang sebenarnya. Karena selama Sendy tinggal di Indonesia, Elsa telah meracuni pikirannya dengan segala cerita bohong tentang Kristina.
"Aku ingin kembali ke Indonesia, tapi aku baru sampai di AS ini. Apa aku sebaiknya minta tolong pada orang kepercayaan Sendy? tapi bagaimana cara menghubunginya?" gerutu Elsa dalam hati.
Willdan merasa heran, karena dia memperhatikan Elsa yang cukup lama melamun dan pandangannya kosong.
"Mah, apa mamah baik-baik saja? atau ada yang sedang di pikirkan?" Willdan bersimpuh di depan pangkuan Elsa seraya menggenggam jemari Elsa.
"Kamu nggak perlu mengkhawatirkan mamah, urusi saja dirimu sendiri. Renungi dan koreksi diri, apakah yang kamu lakukan sudah benar atau belum?" Elsa berkata ketus seraya pandangan mata entah kenapa.
"Mah, jangan banyak pikiran. Sebaiknya kita makan saja, yuk?" Willdan mencoba membujuk Elsa yang sedang ngambek.
"Mamah belum lapar, sebaiknya kamu makan sendiri saja. Mamah akan istirahat, karena kepala mamah pening." Elsa menepis genggaman tangan Willdan.
Dia bangkit dari duduknya seraya melangkah menuju kamarnya. Dan perlahan dia membaringkan tubuhnya di kasur, namun matanya tak langsung terpejam melainkan menerawang langit-langit kamar, dan kembali lagi buliran bening keluar dari matanya.
Kali ini dia teringat pesan terakhir dari almarhum suaminya, saat sebelum meninggalnya telah berpesan supaya mendidik kedua anaknya ke jalan yang lurus dan benar. Sepintas dia merasa bersalah pada almarhum suaminya karena tak menepati janjinya.
"Pah, aku minta maaf telah melupakan semua pesan terakhirmu. Pasti kamu saat ini sedang bersedih di alammu, melihat kehidupan kedua anak kita."
"Entah kenapa aku telah lalai mendidik anak-anaku dengan benar. Aku selalu saja mengikuti dan mendukung tindakan salah anak-anak kita. Sekali lagi aku minta maaf, pah."
Terus saja Elsa menyalahkan diri sendiri, hingga begitu lama dia merenungi kesalahannya sampai tak sadar matanya terpejam begitu saja.
Kini dia terlelap dalam tidurnya dengan mata yang basah oleh air mata. Tak berapa lama, Willdan masuk ke kamar Elsa.
Willdan mengusap pipi Elsa dengan tisu, karena tersisa air mata yang menetes.
__ADS_1
"Mah, seharusnya mamah senang tinggal di sini. Kenapa malah dari awal sampai sini, mamah murung dan bahkan sesekali menangis. Aku tak habis pikir dengan mamah," gerutunya seraya melangkah keluar dari kamar Elsa dan tak lupa menutup pintu kamarnya.
*******