Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Tak Tahu Diri


__ADS_3

Mereka mengikuti mobil petugas aparat polisi menuju kantor polisi. Setelah sampai di kantor polisi, Yesi sempat di mintai keterangan.


Kristina di tetapkan sebagai saksi, dan Yesi di tetapkan sebagai korban, serta sopir taxi ditetapkan sebagai tersangka tindak kejahatan.


Setelah beberapa menit berapa di kantor polisi, mereka di ijinkan pulang.


"Albert, tolong antar aku pulang." Yesi bergelayut manja pada Albert.


"Baiklah, kamu akan di antar pulang oleh Rony dan Rere." Alberto menepis tangan Yesi.


"Aku inginnya di antar olehmu." Rengek Yesi manja.


"Kamu itu benar-benar wanita tak punya hati nurani, sudah di tolong oleh Kristin bukannya mengucapkan terima kasih dan meminta maaf atas semua kesalahanmu itu. Malah bertindak seperti ini, dasar nggak tahu malu!" Alberto menjauhi Yesi.


"Siapa suruh Kristin menolongku, itu atas kemauannya sendiri." Yesi melirik sinis pada Kristina.


"Huh, dasar muka tembok!" tiba-tiba Rere melotot pada Yesi.


"Kamu lihat, Kristin! harusnya tadi kamu nggak usah menolongnya, biar itu buat pelajaran baginya!" Rere berkata dengan lantangnya seraya melotot pada Yesi.


"Heh, kamu nggak usah ikut berkata! karena kamu cuma anak buah, cuma bawahan nggak lebih dari itu!" Yesi balas melotot pada Rere.


"Diam! nggak usah kamu banyak cakap, Yes. Harusnya kamu bersyukur telah lolos dari kejahatan. Pulanglah, kalau kamu nggak mau di antar Rony, ya sana pulang naik taxi on line lagi!" Kristina bergelayut di lengan Alberto.


"Ka, ayuk antar aku pulang." Kristina mengajak Alberto melangkah pergi meninggalkan Yesi.


"Re, Ron. Kami pulang dulu, ya." Pamit Alberto.


"Sebenarnya aku malas mengantar pulang seorang wanita yang tak tahu berterima kasih." Rony melirik sinis pada Yesi.


"Benar juga, padahal tadi aku sudah melarang Kristin untuk tidak menolong wanita tak tahu diri ini! biar nyaho tuh di garap sama si sopir taxi tadi!" Rere mencibir menatap tajam pada Yesi.


"Heh, kalian berdua tidak punya etika dan sopan santun. Derajatku sama kalian itu bagai langit dan bumi. Kalian cuma bawahan, nggak usah sombong." tiba-tiba Yesi berkata dengan lantangnya.


"Kalau begitu nggak usah berbaur dengan kami, pulanglah sendiri!" bentak Rony.


"Baik, siapa takut." Yesi begitu angkuhnya.


Namun saat Rony menyalakan mesin mobilnya, Yesi lekas masuk dalam mobil.

__ADS_1


"Heh, untuk apa kamu naik mobilku! kamu bilang kita nggak sederajat, dan kamu bilang nggak takut kalau pulang sendiri." Rony menendengus kesal.


"Sudah, nggak usah banyak bicara. Bukannya kamu harus menjalankan apapun yang Albert perintahkan. Apa kamu mau aku adukan?" Yesi mencoba mengancam Rony.


"Sudahlah, Ron. Percuma ngomong dengan


wanita tak tahu diri seperti dia." Rere melirik sinis pada Yesi.


"Awas ya kalian berdua, aku pastikan kelak akan menyesal!" Yesi mengancam Rere dan Rony.


Sementara Alberto terus saja menatap sang pujaan hati.


"Sayang, aku kok baru tahu kalau kamu pintar bela diri?" Alberto berdecak kagum.


"Aku masih tahap belajar kok, ka. Belum pintar, aku belajar bela diri saat aku resmi bercerai dengan suamiku," Kristina menyunggingkan senyum.


"Tapi aku benar-benar di buat takjub olehmu," Alberto mengedipkan matanya.


"Sudahlah, ka. Nggak usah memuji terus entar aku terbang tinggi kan kalau jatuh sakit," kata Kristina terkekeh.


"Sebelum kamu jatuh, akan aku tangkap dalam pelukanku," goda Alberto terkekeh pula.


Keduanya bangkit berdiri dan lekas melangkah ke halaman saat melihat mobil Alberto parkir.


"Mom, itu kan mobil Albert? ada apa lagi dia kemari, jangan-jangan Yesi berulah lagi." Irwan melangkah menghampiri mobil Alberto.


Leni juga ikut melangkah di samping Irwan.


Rony keluar dari mobil di ikuti oleh Rere dan Yesi. Tak lupa Rere dan Rony menyapa orang tua Yesi.


Sementara Yesi sama sekali tak mengucapkan terima kasih, dia berlalu pergi begitu saja. Membuat orang tuanya sangat tak enak hati.


"Terima kasih, Nak Rony dan Nak Rere. Telah mengantar anak kami sampai rumah dengan selamat." Kata Irwan tersenyum ramah.


"Sama-sama, Tuan Irwan. Kalau begitu kami permisi, karena telah di tunggu oleh Tuan Albert." Pamit Rony menangkupkan kedua tangannya di dada.


Begitu pula dengan Rere ikut pula berpamitan.


Selepas kepergian Rere dan Rony, Irwan dan istrinya lekas melangkah masuk. Mereka mendapati Yesi sedang duduk murung di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Yesi, kamu gadis berpendidikan tinggi. Tapi kamu sama sekali tak punya sopan santun dan etika, nggak mau mengucap terima kasih sama sekali pada Nak Rony." Irwan menatap tajam pada Yesi.


"Untuk apa pula, derajatku lebih tinggi dari pada mereka." Yesi berkata dengan lantangnya.


"Dasar, anak susah di atur! Jika papah tahu sifatmu seperti ini, nggak akan papah sekolahkan kamu ke jenjang yang tinggi, percuma saja! jam segini baru pulang, untung kami masih punya rasa sayang sehingga menunggu kepulanganmu!" Bentak Irwan.


"Papah nggak usah menyalahkan aku terus, kenapa pula papah pulang duluan. Asal papah tahu, tadi aku nyaris celaka dan hampir hilang kehormatanku oleh sopir taci on line gadungan!" Yesi berkata dengan lantang.


"Ya, Tuhan. Tapi kamu nggak sampai di sakiti kan, nak? terus bagaimana kamu bisa selamat tanpa luka sedikitpun?" tanya Leni penasaran.


"Ada yang menolongku, hingga aku tak di apa-apakan oleh sopir taxi gadungan itu." Jawab Yesi.


"Siapakah orang yang telah berbaik hati menolongmu itu, bisakah kamu kenalkan pada kami?" Leni tambah penasaran dengan orang yang telah menolong Yesi.


"Aku nggak kenal, begitu dia menolongku. Dia pergi begitu saja tanpa sepatah katapun." Jawab Yesi berbohong.


Sementara Irwan merasa penasaran dengab cerita Yesi. Dia melangkah masuk dalam kamar dan lekas menelpon Alberto


πŸ“±" Nak Albert, maaf om mengganggu sebentar."


πŸ“±" Nggak kok, om. Memangnya asisten saya belum sampai dalam mengantar Yesi, om?"


πŸ“±" Sudah kok, om ingin bertanya sesuatu mengenai orang yang telah menyelamatkan Yesi. Apakah, Nak Albert mengetahuinya?"


πŸ“±" Memang Yesi tidak bercerita pada om, siapa orang yang telah berjasa menyelamatkan nyawanya?"


πŸ“±" Makanya om bertanya padamu, karena Yesi bilang tidak kenal dengan orang tersebut dan orang tersebut pergi begitu saja setelah menolongnya."


πŸ“±" Terlalu banget Yesi, asal om tahu. Yang menolong Yesi adalah Kristin, tapi saat di tolong juga Yesi sama sekali tak mengucapkan terima kasih."


πŸ“±" Ya, Tuhan. Maafkan Yesi, Nak. Dan sampaikan maaf serta terima kasih om ke Nona Kristin. Nanti om akan nasehati Yesi."


Setelah sejenak mencari informasi lewat Alberto tentang orang yang telah berjasa menolong Yesi, Irwan mendengus kesal.


"Dasar anak tak tahu diri dan keras kepala!" gerutu Irwan seraya melangkah ke ruang tamu untuk menegur Yesi.


*******


Mohon maaf bila karya masih remahan rengginang karena tahap belajarπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2