
"Memang mamah barusan telpon bicara apa padamu, kok tiba-tiba mengajak kakak menonton televisi? harusnya kamu tanya, acara televisi apa yang di maksud mamah itu," ucap Willdan menyarankan.
"Sudahlah, kak. Sebaiknya aku pulang saja untuk menanyakan hal ini pada mamah, karena saat telpon sepertinya acara televisi itu sangatlah penting." Sendy lekas bangkit dari duduknya segera berlalu pergi dari ruangan Willdan.
Sendy lekas melajukan mobilnya menuju ke rumah, untuk menanyakan apa yang sebenarnya di maksud oleh Elsa saat menelpon dirinya. Hanya sekejap, Sendy telah sampai di rumah.
"Mah-mamah, di mana sih?" Sendy mencari keberadaan Elsa.
"Ada apa, nak? mamah sedang di dapur," ucapnya sedikit teriak.
Sendy melangkah menuju ke dapur untuk menemui Elsa.
"Ada apa sih, berteriak?" Elsa mengernyitkan alisnya.
"Mah, ikut aku sebentar yuk ke ruang tengah," Sendy merangkul Elsa.
Elsa melangkah berdampingan bersama Sendy ke ruang tengah. Keduanya bersama-sama menjatuhkan pantatnya di sofa. Setelah mereka duduk dengan nyaman, barulah Sendy mulai berkata.
"Mah, tadi saat mamah telpon. Aku langsung menyalakan tevisi, tapi sama sekali nggak ada acara yang menarik. Maksud mamah, acara televisi apa sih?" Sendy penasaran mengernyitkan alisnya.
"Acara jumpa pers, orang yang telah kamu jebak waktu itu," jawab Elsa singkat.
"Maksudnya bagaimana, mah? aku sama sekali nggak ngerti?" kembali lagi Sendy bertanya.
"Kekasih Kristin mengadakan jumpa pers bersama papah Yesi, bahkan mereka memutar rekaman vidio percakapanmu bersama Yesi," kata Elsa menjelaskan.
"Percakapanku bersama Yesi, aku masih nggak ngerti dengan perkataan mamah," Sendy memijat pelipisnya.
Elsa merasa geram karena Sendy tak jua mengerti apa maksud dari perkataannya.
Elsa mencoba menceritakan dari awal dia melihat acara televisi tersebut, hingga akhir. Barulah Sendy mengerti akan apa yang Elsa ceritakan. Akan tetapi dia tak gentar walaupun telah tahu jika dia akan di laporkan ke aparat hukum.
"Aku nggak takut, mah. Jika ternyata Albert melaporkanku ke polisi, paling juga polisi tidak akan percaya dengan bukti yang di berikan olehnya. Mamah nggak usah khawatir," Sendy tersenyum meyakinkan Elsa bahwa dia akan baik-baik saja.
__ADS_1
Namun Elsa tetap khawatir pada Sendy.
"Sendy, apa nggak sebaiknya kamu kembali ke Amerika Serikat. Supaya kamu aman, karena mamah nggak ingin kelak kamu benar-bensr di kejar oleh polisi," Elsa mencoba menasehati Sendy.
"Mah, sudahlah. Nggak usah di pusingin, percaya saja sama aku," Sendy malah menggoda Elsa seraya menaik turunkan alisnya.
Elsa hanya bisa menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah kembali ke dapur.
"Albert, kamu pikir bisa menang dariku. Lihat saja, sampai sejauh mana kamu bisa melawanku. Karena selama ini belum ada satu orangpun yang bisa melawanku," Sendy menyeringai sinis.
Dia terlalu percaya diri, tidak akan tersandung kasus dalam polisi.
Berbeda situasi di rumah Kristin, saat ini dia sedang berdiskusi dengan Rere.
"Re, bagaimana menurutmu? apa aku harus melapor pada polisi?" Kristina mengernyitkan alis.
"Melaporkan untuk apa, yang tersandung masalah kan Alberto bukan kamu. Harusnya dia yang melapor pada polisi," Rere malah terkekeh.
"Eh, iya juga ya. Aku saat ini bingung, Re. Ka Albe sempat bertanya tentang hubungan kita kelanjutannya bagaimana? menurutmu aku harus bagaimana, Re?" Kristina meminta saran pada sahabatnya itu.
"Huft, ya juga sih. Aku bisa mengerti kok, cuma hatiku masih gelisah." Kristina tertunduk malu.
"Hem, sepertinya kamu masih sangat mencintai Albert?" goda Rere mengedipkan matanya.
"Ist, apaan sih." Pipi Kristina bersemu merah.
Sementara saat ini Yesi sedang murung, secara tidak sengaja dia melihat live jumpa pers di youtube.
"Kenapa papah dan Albert mengadakan jumpa pers tidak memberi tahuku. Bahkan aku sama sekali nggak tahu, jika waktu itu percakapanku dengan Sendy telah di rekam. Kalau sudah seperti ini, pasti usahaku gagal lagi untuk memiliki Albert." Yesi melemparkan ponselnya ke kasur.
Dia bangkit dari pembaringan untuk menemui Irwan meminta penjelasan padanya tentang jumpa pers yang telah di adakan olehnya bersama Alberto.
Yesi menemui Irwan yang sedang bersantai di teras halaman bersama Leni.
__ADS_1
"Pah, kenapa membohongi aku? ternyata papah mengikutiku saat aku menemui Sendy, dan diam-diam merekam percakapan kami?" Yesi mengerucutkan bibirnya.
"Memangnya kenapa, papah sengaja melakukan hal itu, karena jika papah jujur pasti kamu akan mengacaukan rencana papah," Irwan menatap sinis Yesi.
"Pah, dengan adanya jumpa pers itu. Sama saja papah menjatuhkan reputasi anak sendiri," Yesi berkata lantang.
"Itu sudah resikomu sendiri. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab, sudah berpuluh kali papah nasehati tapi tak pernah kamu dengarkan." Irwan bangkit dari duduknya berlalu pergi dari hadapan Yesi dan Leni.
"Mamah, lihat kan? papah nggak pernah sekalipun membela anaknya sendiri," Yesi mengerucutkan bibirnya.
"Yesi, harusnya kamu itu sudah bisa bersifat dewasa dan tidak ceroboh asal bertindak menurut egomu sendiri. Kamu pikir, kami sebagai orang tua tidak malu melihat vidiomu bersama Albert? kami sangat malu, apa lagi papahmu dia lebih malu pada seluruh klien bisnisnya," Leni mencoba menyadarkan Yesi akan kekeliruannya.
Namun Yesi tetap pada pendiriannya, pada pemikirannya sendiri.
"Mah, kenapa malah membela papah?" Yesi mengerucutkan bibirnya.
"Memang susah bicara sama kamu, secara halus kamu nggak juga sadar apalagi secara kasar kamu malah bertindak lebih fatal," Leni menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang.
Lenipun bangkit dari duduknya, dia berlalu pergi meninggalkan Yesi sendiri. Leni menyusul Irwan ke kamarnya.
"Mah, papah bingung sekali. Kedepannya mau bagaimana dengan anak semata wayang kita. Bagaimaba pula dengan perusahaan papah, mah." Irwan berkeluh kesah seraya memijit pelipisnya.
"Sabar, pah. Semoga saja ada keajaiban buat anak kita, sehingga dia benar-benar berubah," Leni menghibur Irwan seraya mengusap bahunya berkali-kali.
"Umur kita sudah tidak muda, mah. Tapi anak kita masih saja bersikap seperti anak-anak," kembali lagi Irwan berkeluh kesah.
"Pah, sudah. Jangan terlalu di pikirkan, nanti hipertensi papah kambuh lagi." Leni kembali lagi menasehati Irwan.
"Sebaiknya di bawa istirahat saja, pah." Saran Leni.
Irwan merebahkan tubuhnya di pembaringan dan perlahan memejamkan matanya. Sementara Leni memijit kaki Irwan.
Berbeda dengan Yesi yang selalu gelisah memikirkan jumpa pers yang telah di adakan oleh papahnya.
__ADS_1
"Aku pasti malu, jika aku keluar rumah. Gara-gara Sendy juga papah. Duh, semua orang pasti mencelaku," gerutu Yesi seraya terus memijit pelipisnya.
******