
Alberto menelpon Rony untuk bersiap-siap ke rumah Kristina tanpa sepengetahuan dari orang tuanya dan Yesi.
"Mending aku ke rumah Titin, dari pada di sini malah bikin emosi melihat Yesi yang sangat centil." batin Alberto seraya melangkah pergi.
"Nak, tunggu." Daddy Mickel menahan kepergian Alberto.
"Ada apa sih, dad?" Alberto menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Daddy Mickel.
"Daddy cuma mau mengingatkan, jangan pulang larut malam karena nanti kita ada acara makan malam bersama orang tua Yesi," kata Daddy Mickel .
"Hem, Albe usahakan tapi nggak janji." Kembali Alberto melanjutkan langkah kakinya menuju mobilnya.
Namun tanpa sepengetahuan Alberto, Yesi telah menghubungi anak buahnya untuk mengikuti kemana pun Alberto pergi.
"Aku ingin lihat, apakah kamu memang benar-benar pergi bertemu klienmu atau berbohong," batin Yesi.
"Kamu bisa dengan mudah membodohi orang tuamu, tapi tidak denganku. Karena jika aku tahu, kalau saat ini kamu bertemu dengan wanita lain, aku pastikan kamu akan menyesal. Karena aku akan menyakiti siapa pun yang menghalangi langkahku untuk bisa memilikimu seutuhnya, Alberto." batin Yesi kembali.
"Ron, kamu yakin kan? jika saat ini tidak ada yang mengikuti kepergian kita? karena Yesi itu licik akalnya," tanya Alberto.
"Tenang saja, tuan. Semua sudah aku atur sebaik mungkin, misalkan saat ini Non Yesi menyuruh seseorang mengikuti tuan. Dia tidak akan bisa mendapatkan jejak, tuan." kata Rony meyakinkan Alberto.
"Bagus, karena aku nggak ingin hubunganku dengan Kristin tercium oleh Yesi dulu. Sebelum aku benar-benar bisa mendapatkan hati Kristin," kata Alberto.
"Karena Yesi orang yang sangat berbahaya, terlihat cantik tapi sebenarnya menyeramkan. Dia bisa melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan," kata Alberto kembali.
"Tuan tenang saja, kita akan mengecoh anak buah Non Yesi." Kata Rony antusias.
"Baiklah, aku percayakan semuanya padamu." kata Alberto.
"Kita akan ke suatu tempat terlebih dulu, tuan. Nanti tuan masuk ke ruang itu dan keluar dari pintu lain dimana telah menunggu salah satu orang kita." Kata Rony.
Berapa menit perjalanan, sampailah di suatu tempat yang telah di atur oleh Rony. Alberto masuk ke sebuah mirip cafe dan keluar dari pintu belakang, dengan mengenakan baju yang berbeda sesuai dengan saran Rony.
__ADS_1
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju ke rumah Kristina.
"Ka Albe, sore-sore kemari?" Kristina menyunggingkan senyum melihat kedatangan Alberto.
"Iya, Titin. Boleh kan aku ingin main ke rumahmu yang sejuk ini, karena di puncak gunung." Alberto menaik turunkan alisnya.
"Ya, boleh. Kebetulan aku habis masak banyak, yuk kita makan bareng. Kiranya Ka Albe suka masakanku nggak ya?" tanya Kristina mengerutkan alis.
"Jelas suka, nggak usah khawatir." kata Alberto meyakinkan Kristina.
Mereka langsung menuju meja makan untuk makan bersama, dan apa yang di katakan oleh Alberto benar adanya. Dia makan begitu lahapnya seperti orang yang telah lama tidak makan.
"Bagaimana masakanku, ka?" Kristina menatap Alberto.
Alberto hanya mengacungkan ibu jari seraya terus melahap makanannya, bahkan Alberto tak sungkan untuk menambah porsi makanannya.
Kristina hanya tersenyum saat melihat Alberto makan.
Berbeda situasi di kontrakan Willdan, saat ini Mamah Elsa sedang emosi tingkat dewa.
"Sabar sedikit kenapa, mah? Willdan juga sudah berusaha mencari pekerjaan yang layak, tapi memang belum mendapatkannya," Willdan mengacak-acak rambutnya.
"Tolong, mah. Jangan terus memojokanku, karena semakin membuatku pusing saja. Harusnya mamah sebagai orang tua memberi dukungan semangat supaya aku tidak putus asa," Willdan beranjak bangkit dari duduknya dan berlalu pergi begitu saja.
****
Berbeda pula situasi di apartement Yesi, dia saat ini telah tersenyum sendiri.
"Hem, ternyata kamu benar sedang bersama klienmu Albert. Jika ketahuan bohong, aku nggak akan memaafkanmu." batinnya.
"Sebentar lagi acara makan malam, aku harus selalu tampil cantik dan mempesona supaya Albert lekas luluh padaku." Yesi kembali lagi ke salon untuk berdandan dari rambut sampai muka.
Kesehariannya yang di lakukan hanyalah memoles wajah dan tubuhnya agar selalu tampil sempurna.
__ADS_1
2 Jam berlalu...
Waktu pertemuan untuk makan malam telah tiba, walaupun Alberto sangat tidak berminat. Namun dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya hingga dia bersedia hadir.
"Aku akan hadir di acara makan malam bersama orang tua Yesi, tapi aku akan berkata jujur supaya mereka tidak teruals mengharapkanku," gerutunya seraya berpakaian.
Tak berapa lama kemudian, mereka telah berada di sebuah cafe termahal dan terkenal di kota itu.
"Bagaimana kabarmu, Albert? Lama om nggak ketemu denganmu, ternyata kamu tambah ganteng saja " puji Om Irwan.
"Biasa saja, om. Tidak ada yang berubah, om yang terlalu berlebihan dalam memuji," jawab Alberto singkat.
"Sebelum kita makan, om ingin berbicara sesuatu padamu." kata Om Irwan.
"Aku tahu, om. Tentang perjodohanku dengan Yesi, kan?" kata Albert kembali.
"Benar apa yang kamu katakan, karena dari dulu kamu selalu saja mengelak jika di ajak bertemu seperti ini." Kembali lagi Om Irwan berkata.
"Bukan saya mengelak, om. Tapi aktifitas saya yang sangat padat, juga sepertinya beberapa kali saya sudah sering berkata pada Yesi, apakah dia tidak cerita ke om?" tanya Alberto.
"Yesi tidak pernah bercerita apa pun tentangmu, dia selalu bilang hubungan kalian selama ini baik-baik saja tidak ada masalah, dan seperti alasanmu tadi. Hanya masalah waktu saja, dimana kamu selalu sibuk," Om Irwan menjelaskan apa yang pernah di katakan oleh Yesi padanya.
"Yang Yesi katakan tidak bensr, om. Jujur, saya dari awal tidak menerima perjodohan ini. Saya juga telah berusaha untuk membuka hati saya buat Yesi, tapi memang ternyata tetap tak bisa. Hati saya telah di miliki oleh orang lain yang tak bisa tergantikan oleh siapa pun," kata Alberto tegas.
"Jadi, kamu memutuskan perjodohan ini? kenapa tidak dari awal saja kamu bercerita supaya kami tidak terus berharap padamu," Om Irwan mendengus kesal.
"Bukankah tadi saya sudah bilang, jika saya sudah berbicara langsung pada Yesi. Dan meminta Yesi memberitahu om dan tante. Karena waktu itu saya tidak ada waktu luang untuk bertemu langsung dengan om dan tante," kata Alberto seraya menahan geram.
"Albe, apa yang kamu ucapkan tadi?" Daddy Mickel mengerutkan kening.
"Maaf, dad. Albe tidak bisa memaksakan hati Albe untuk cinta pada Yesi, walaupun sudah Albe coba berkali-kali. Albe juga tidak mau kita menikah tidak ada ikatan cinta sama sekali, makanya lebih baik Yesi cari pria lain saja," kata Alberto tegas.
******
__ADS_1
Mohon dukumg like, vote, fav...