
Yesi bingung dan malu, karena kebusukannya telah terbongkar. Kini semua mata menatap sinis padanya.
Selagi diam melamun, Alberto telah mengagetkannya dengan perkataannya.
"Nona Yesi, kenapa saya perhatikan dari tadi anda hanya diam saja? apa anda sudah kehabisan kata-kata untuk membela diri anda?"
"Nona Yesi, saya harap anda juga bisa bersikap seperti MR X . Mau mengakui kesalahan anda di sini, dan berjanji tidak akan mengulangnya lagi. Serta anda meminta maaf secara pribadi pada Nona Kristin.
Demikian perkataan lantang Alberto yang sempat membuat Yesi terhenyak kaget dari lamunannya.
Yesi tak menjawab perkataan dari Alberto, dia hanya diam saja. Membuat Alberto geram.
"Nona Yesi, anda masih belum bersedia mengakui kesalahan anda? dan tak bersedia meminta maaf pada Nona Kristin?" Alberto menatap sinis Yesi.
"Hello, sampai kapanpun saya tidak akan meminta maaf pada janda beranak satu itu. Karena saya nggak bersalah, dialah yang telah merebutmu dariku. Apa aku salah, mencoba mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku? apa aku salah, memperjuangkan cintaku?" Dengan lantang dan percaya dirinya Yesi berkata.
Kristina yang mendengar ucapan Yesi menjadi tergerak hatinya ingin membalas semua perkataan yang Yesi katakan tadi.
Dia lekas berjalan menuju ke depan, dan menghampiri Yesi.
"Nona Yesi, saya memang seorang janda beranak satu. Tapi moral saya lebih baik daripada anda yang berstatus lajang."
"Di sini tidak ada yang namanya di rebut maupun merebut, karena status Alberto adalah single bukan milik siapa-siapa jadi jangan berkata dia adalah milikmu."
"Jika memang kamu benar-benar mencintai dan menyayangi Alberto, mari kita bersaing secara benar."
"Tunjukan segala sisi positifmu, bukan dengan mencurangi aku yang hanya membuat dirimu terkesan buruk di mata Alberto."
"Bukannya Alberto mencintaimu, malah dia akan semakin membencimu bahkan menjauhimu."
__ADS_1
"Nona Yesi, jika anda merasa gengsi untuk meminta maaf padaku. Ya sudah, aku bisa memahami. Tapi setidaknya, akuilah kesalahanmu di depan semua orang dan jangan berkilah terus."
"Kalau kamu masih seperti ini, aku sudah tidak mentolelir. Karena perbuatanmu ini bukanlah yang pertama kalinya namun sudah beberapa kali kamu mencoba menjatuhkanku."
"Aku minta maaf jika kali ini aku akan menggunakan jalur hukum untuk menyeretmu ke penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik ".
Panjang lebar Kristina berucap seraya terus menatap tajam pada Yesi. Kemudian Kristina pergi dari hadapan Yesi dan Alberto.
Semua tamu mencemooh Yesi yang tak bersedia meminta maaf pada Kristina. Banyak hujatan dan hinaan keluar dari mulut para tamu undangan.
"Mah, kamu lihat tingkah anakmu." Bisik Irwan pada Leni.
Leni hanya diam saja saat suaminya berbisik padanya. Berbeda dengan Irwan yang segera mengambil tindakan. Dia segera melangkah ke depan di hadapan semua orang.
Irwan berdiri tepat di samping Yesi dan Alberto.
"Padahal saya dan istri selalu mengajarkan hal yang positif, tapi entah kenapa anak saya ini tak pernah mendengar apa lagi menjalankan segala apa yang saya ajarkan."
"Jujur, sebenarnya saya malu adanya kejadian ini. Karena memang ini bukan pertama kalinya anak saya bertindak bodoh seperti ini. Sekali lagi saya minta maaf atas nama anak saya. Jika Nona Kristin ingin membawa permasalahan ini ke jalur hukum, silahkan saja. Karena mulai ini saya sudah lepas tangan padanya."
Demikian penuturan permintaan maaf dari Irwan pada Alberto dan Kristina. Karena Yesi sama sekali tak mau mengakui kesalahannya.
"Yesi, bukan cuma sekali kamu membuat kecewa dan malu papah. Tapi sudah berkali-kali, bahkan kamu sama sekali tak mengindahkan nasehat papah dan mamah. Mulai detik ini juga, di hadapan semua orang. Papah benar-benar akan memberimu hukuman, yakni semua fasilitas yang kamu nikmati, akan papah cabut." Irwan menatap Yesi dengan sorot mata yang tajam, setelah itu berlalu pergi dari hadapan Yesi dan Alberto.
Yesi hanya diam saja, dia masih saja keras kepala. Merasa apa yang di lakukannya tidaklah salah.
Sementara Mickel merasa tak percaya dengan apa yang telah di lakukan oleh Yesi.
"Mom, daddy sama sekali tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Yesi. Selama ini daddy pikir, Yesi seorang gadis yang manis. Yang tak pernah berulah dan selalu berkata jujur," Mickel menghela napas panjang.
__ADS_1
"Makanya daddy jangan selalu melihat orang dari luarnya saja, orang yang anggap daddy lajang, berpendidikan, ternyata berbuat selicik ini demi mendapatkan apa yang dia mau. Kristin yang seorang janda, malah ternyata seorang pemilik dua perusahaan besar di kota ini." Mommy Rachel berusaha mengingatkan Mickel.
"Iya, mom. Daddy sangat malu karena selama ini tidak mempercayai ucapan anak sendiri tetapi malah mempercayai ucapan Yesi. Padahal Kristin juga pernah menolong daddy," Mickel menghela napas panjang.
Selagi kedua paruh baya ini bercengkrama berdua di tengah maraknya pesta, datanglah kedua orang tua Yesi.
Mereka meminta maaf atas ulah Yesi yang sangat tidak terpuji. Setelah itu, orang tua Yesi juga menghampiri Kristina pula untuk meminta maaf atas tindakan tidak terpuji Yesi.
Perlahan demi perlahan, para tamu pesta pulang satu persatu. Yesi memberanikan diri menghampiri orang tua Alberto.
"Tante, om. Kalian bisa lihat kan, begitu jahatnya Kristin padaku? dia membuat rekayasa ini supaya aku buruk di mata semua orang. Om, tolong nasehati Albert supaya jangan bersikap sinis padaku," Yesi memasang wajah sedih.
"Om, gara-gara Kristin juga. Aku harus kehilangan semua fasilitas dari orang tuaku. Dia benar-telah menghancurkan semuanya. Telah mengambil Albert dan mencemarkan nama baikku di hadapan semua orang. Dan dia pula yang telah membuat orang tuaku membenciku," kembali lagi Yesi terus saja mencoba meyakinkan orang tua Alberto.
"Mom, mending kita masuk yuk." Mickel menuntun Rachel tanpa menghiraukan Yesi sama sekali.
Sementara Alberto sangat puas dengan ide cemerlang Rere dan Rony. Dia menghampiri Yesi.
"Bualanmu sudah tidak berlaku untuk daddy, menyerahlah. Dan sadarlah akan kesalahanmu, bukannya malah menambah lagi kesalahanmu. Aku ucapkan selamat, atas hasil dari apa yang kamu perbuat selama ini pada Kristin." Alberto berlalu begitu saja dari hadapan Yesi.
Kini Alberto telah bersama Kristin dan juga Rere serta Rony.
Sementara Yesi pergi meninggalkan mension Alberto. Yesi mencari keberadaan orang tuanya.
"Loh, mamah sama papah kemana? padahal tadi aku masih melihat mereka, kok sekarang sudah nggak ada. Mobilnya juga nggak ada, trus aku pulangnya bagaimana?" Yesi mendengus kesal mendapati orang tuanya sudah pulang terlebih dulu.
*********
Mohon dukungan like, vote, favorit..
__ADS_1