
Baru saja di bicarakan oleh Kristina, telpom berdering dari kantor polisi. Meminta untuk Kristina dan Yesi segera datang ke kantor polisi, untuk memperkuat laporannya.
"Ka Albe, bagaimana ini? aparat polisi meminta aku datang bersama Yesi ke kantor polisi. Sedangkan saat ini Yesi dalam perjalanan ke LA?" Kristina merasa sedikit bingung.
"Jangan gelisah dulu, sayang. Sebaiknya kita ke kantor polisi dulu, dan kita bicara apa adanya mengenai Yesi pada aparat polisi." Alberto menenangkan hati Kristina yang sedikit panik.
"Baiklah, ka. Temani aku ya," rengek Kristina menaik turunkan alisnya.
"Pastinya dong, sayang." Alberto tertawa seraya mencolek hidung Kristina.
Mereka lekas bergegas menyambangi kantor polisi. Setelah sampai, Kristina menyampaikan segalanya tentang Yesi di bantu oleh Alberto.
Karena Alberto adalah orang ternama dan salah satu orang penting, aparat polisi tidak mempermasalahkan ketidak hadiran Yesi.
"Tengkyu ya, Ka Albe. Berkat bantuan kakak, urusan di kantor polisi cepat terselesaikan." Kristina menyunggingkan senyum kelegaan.
"Apapun akan aku lakukan untuk belahan jiwaku ini," Alberto mengedipkan matanya.
"Hem, masa sih." Goda Kristina seraya menggelitik pinggang Alberto.
Sepulang dari kantor polisi, Alberto dan Kristina kembali ke kantornya masing-masing. Kini mereka fokus dengan urusan kantornya.
Berbeda dengan Yesi yang sedari tadi murung di dalam pesawat. Sama sekali tidak ada senyum ramah pada tante dan om nya.
"Pap, lihatlah ponakanmu yang manja itu. Dia sama sekali tidak ada ramah tamahnya pada kita, nggak ada sedikitpun senyum untuk kita." Bisik Mikha seraya melirik sinis pada Yesi.
"Beginilah, mam. Jika mendidik anak terlalu di manjakan, hasilnya ya seperti Yesi yang selalu membuat ulah. Padahal dari dulu aku selalu menegur cara Mas Irwan mendidik Yesi. Tapi malah selalu memarahiku dengan mengatakan aku lebih muda tak pantas mengajarinya cara mendidik anak." Marwan balas berbisik pada Mikha.
"Adakalanya kita perlu mendidik anak sedikit keras, sehingga ketika dewasa anak menjadi tahu yang namanya disiplin dan tanggung jawab sehingga tidak selalu berulah," kata Marwan kembali.
"Apakah kita mampu, pap. Merubah sifat Yesi agar lebih baik, sedangkan dia kan sudah dewasa bukan anak kecil lagi. Kalau saat ini Yesi masih kanak-kanak kita akan lebih mudah membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik," Mikha merasa ragu.
"Apa salahnya kita mencobanya, janganlah pesimis dulu. Aku juga iba terhadap Mas Irwan yang hanya memiliki satu keturunan tapi malah mengecewakan." Marwan berusaha meyakinkan Mikha.
__ADS_1
"Baiklah, pap. Mam juga akan bantu pap dalam mendidik Yesi yang keras kepala dan manja. Kalau kita kewalahan, minta tolong saja pada tiga lelaki kita." Mikha menghela napas panjang.
Setelah menempuh 18 jam 25 menit perjalanan penerbangan, akhirnya sampailah Yesi di LA. Di rumah mewah besar milik Marwan.
Rumah yang hanya di huni oleh Marwan dan Mikha, karena ketiga anaknya telah memilik rumah sendiri-sendiri.
"Bawa kopermu ke kamarmu yang ada di lantai atas dekat tangga." Mikha menyerahkan koper Yesi.
Yesi hanya diam saja seraya membawa kopernya ke kamar yang telah di siapkan oleh Mikha untuknya.
"Hem, untung ke tiga anak pria Om Marwan tidak tinggal di sini. Aku bisa mati muda jika ketiga anaknya berada di rumah ini. Secara mereka suka usil dan suka bikin ulah, bisa setiap hari aku di kerjain oleh mereka." Batin Yesi seraya merebahkan badannya di pembaringan.
Sementara saat ini Marwan dan Mikha sedang merencenakan jadwal keseharian Yesi selama tinggal di rumahnya.
"Pap, tugas apa saja yang akan kita berikan pada Yesi?" Mikha mengernyitkan alis.
"Yesi kan sama sekali tak pernah bekerja keras, kita jadwalkan dia bangun pagi. Biar dia kerjakan apa-apa sendiri, pokoknya kita buat dia benar-benar bekerja keras." Kata Marwan menjelaskan.
Mereka lekas menyusun aktifitas Yesi dari pagi hingga malam dalam sebuah kertas tebal dan panjang.
Sejenak Marwan membaca dan meneliti jadwal tersebut dengan seksama.
"Sepertinya sudah cukup, mam. Bagus sekali jadwal ini, semoga dengan cara ini Yesi bisa berubah menjadi lebih baik.
********
Saat malam tiba, Marwan memberikan jadwal tersebut pada Yesi.
"Apa ini, om?" Yesi tak menerima jadwal tersebut malah bertanya.
"Makanya terima dan baca, jadi kamu tahu." Marwan berkata ketus seraya menyodorkan kertas berisikan jadwal aktifitas keseharian Yesi.
Akhirnya Yesi menerima kertas tersebut, dan sejenak membacanya dengan seksama.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, om? aku disini harus mengerjakan semua pekerjaan asisten rumah tangga!" Yesi melempar kertas tersebut.
"Aku mau pulang saja, om!" Yesi mendengus kesal.
"Pulanglah sendiri jika kamu mampu!" Marwan melotot pada Yesi.
"Om, pikir aku nggak berani pulang ke Indonesia sendiri. " Yesi berkata ketus.
"Om tahu, kamu berani pulang sendiri. Tapi mau di bayar pake apa biaya untuk pesawat terbang untuk balik ke Indonesia?" Marwan tersenyum sinis.
"Om, jangan meremehkanku. Aku punya uang kok, punya tabungan. Jangan mentang-mentang Om Marwan lebih kaya dari papah, hingga bersikap seperti ini padaku." Yesi melotot sinis pada Marwan.
"Haaa, coba saja kamu pesan tiket sekarang. Dan bayarlah pake uangmu." Marwan terkekeh saat mendengar ucapan Yesi.
Yesi segera memesan tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia, namun saat akan membayarnya tidak bisa.
"Loh, kok semua karta prabayarku tak bisa di gunakan. Tranfer bank juga nggak bisa, ada apa ini?" Yesi terus saja mencoba namun tidak berhasil.
"Hhhaaa, dasar anak manja! kamu lihat kan, tanpa uang papahmu kamu nggak bisa bertindak apapun. Semua rekeningmu telah di bekukan oleh papahmu." Marwan tersenyum sinis.
"Terima saja takdirmu tinggal disini, dan patuhi saja semua aturan yang sudah di jadwalkan di kertas ini!" Marwan melempar kertas berisikan jadwal tersebut.
"Ingat, kamu harus mematuhi dan menjalankan semua aturannya. Jika tidak baik om maupun tante tidak akan segan memberimu hukuman yang setimpal " Marwan berlalu pergi dari kamar Yesi.
Seperginya Marwan, Yesi sangat marah dan kesal.
"Sial, ternyata papah memblokir semua kartuku sehingga aku tak punya uang sepeserpun. Tega sekali papah padaku." Yesi mendengus kesal.
"Persetan dengan aturan yang ada di kertas ini! enak saja mau memperalatku sebagai asisten rumah tangga. Bodo amat, aku nggak akan sudi di perintah oleh Om Irwan maupun Tante Mikha!" Yesi *******-***** kertas tersebut.
Setelah sejenak merasa emosi yang teramat sangat, akhirnya Yesi tertidur nyenyak begitu saja.
Dia tidak memperdulikan dengan kertas yang berisikan jadwal aktifitas kesehariannya yang di remas-remas olehnya dan di buangnya begitu saja.
__ADS_1
*****
Mohon maaf jika karya masih banyak kekurangannya🙏🙏🙏🙏