
Alberto bertindak cepat dengan meminta Rony untuk menyelidiki keberadaan Willdan saat ini dimana.
Di samping Rony adalah asisten pribadi Alberto, dia juga memiliki banyak anak buah.
"Ron, sekarang juga kamu perintah anak buahmu yang paling handal untuk menyelidiki tentang Willdan mantan suami Kristin!" perintah Alberto.
"Baik, Tuan. Segera laksanakan tugas." Rony lekas menelpon anak buah terhandalnya dan tak lupa mengirim foto serta identitas lengkap Willdan ke notifikasi chat pesan pada ponsel anak buahnya.
Hanya beberapa menit saja, Rony berkomunikasi dengan anak buahnya. Dan anak buahnya juga gerak cepat lekas menyelidiki dimana keberadaan Willdan saat ini.
Setelah beberapa jam penyelidikan, anak buah Rony telah mengetahui semua tentang Willdan dan lekas mengabarkannya pada Rony.
Rony juga lekas memberitahu Alberto.
"Maaf, Tuan. Ijinkan saya mengganggu waktunya sebentar, karena saya ingin memberitahu tentang tarjet," Rony menundukkan kepala.
"Baiklah, cerita saja pasti aku dengarkan." Alberto menutup berkas yang sedang di crk olehnya untuk sejenak fokis mendengar apa yang Rony katakan.
"Sekarang ini Willdan sudah bekerja di suatu perusahaan baru milik Nona Yesi. Dan menjabat sebagai direktur utama. Bahkan Willdan mendapatkan infestasi berupa apartement mewah dan mobil," Rony menunjukkan semua bukti foto.
Dari foto saat Willdan keluar dari sebuah apartement, foto saat keluar masuk mobil, bahkan foto saat sedang berada di depan kantor Yesi yang baru. Ada pula foto Willdan yang sedang bersama Yesi.
Semua bukti foto tersebut di lihat oleh Alberto secara seksama.
"Untuk apa juga Willdan bekerja sama dengan Yesi? sepertinya memang mereka bukan resmi bekerja sama dalam bidang usaha, tapi dalam hal yang lain," batin Alberto.
Alberto sedang menyusun rencana untuk membuka kedok Willdan di hadapan Kristina.
"Sementara aku pura-pura saja nggak tahu tentang semua ini. Supaya semua terbongkar secara langsung di hadapan Titin, dengan begitu baik Willdan maupun Yesi akan sangat malu," batin Alberto.
Esok harinya, Alberto menyambangi kantor Irwan.
__ADS_1
"Tumben kamu kemari, nak?" Irwan menepuk bahu Alberto.
"Iya, om. Saya sengaja kemari karena ingin mampir sebentar. Bagaimana kondisi kesehatan, om. Saya sempat dengar katanya om sedang kurang sehat?" Alberto sengaja menyelidik.
Karena dia penasaran tentang apa yang di katakan Kristin waktu itu mengenai kesehatan Irwan.
Dimana Yesi berkata jika saat ini Irwan sedang sakit keras dan hidupnya tidak akan lama lagi.
"Om selalu fit, sehat. Om tidak punya penyakit yang serius karena selalu menjaga pola makan dan rajin olah raga setiap hari. Kalau sakit paling cuma masuk angin, memang siapa yang mengatakan saya sedang kurang sehat?" Irwan balik bertanya.
"Yesi sendiri yang mengatakan jika om sedang kurang sehat, malah sempat mengatakan jika om punya riwayat penyakit yang serius," Jawab Willdan sekenanya.
"Ah, ada-ada saja. Mungkin Yesi sedang bercanda padamu," Irwan terkekeh.
"Iya mungkin, om. Tapi saya yang menganggapnya serius karena saya telah menganggap om seperti orang tua kandung saya," Alberto terkekeh juga.
"Hem, benar juga tebakanku. Yesi ingin memperdaya Kristin dengan mengatakan papahnya sakit keras, sehingga Titin percaya dan akan melepasku begitu saja. Tapi aku tidak akan menjauh dari Titin," batin Alberto.
"Lihat saja, Yesi. Aku pasti akan mempermalukanmu di hadapan papahmu sendiri. Karena kamu telah berkata dusta pada Titin!" Alberto sangat geram.
"Maaf, om. Boleh nggak aku ke kantor om yang baru?" Alberto sengaja memancing Irwan.
"Ya boleh donk, yuk kita kesana sekarang. Sebenarnya kantor yang baru milik Yesi bukan milik om. Malah sudah ada yang memimpin di sana." Irwan menimpali.
"Mari, om. Kita ke sana sekarang saja, karena besok atau lusa saya banyak acara," Alberto merangkul Om Irwan melangkah ke mobilnya.
Kini mereka dalam perjalanan ke kantor Yesi yang baru. Dimana Willdan yang menjabat sebagai direktur utamanya.
Hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai. Namun Irwan tidak memberitahu pada Yesi jika akan datang ke kantor yang baru bersama Alberto.
Kebetulan saat ini Yesi sedang berada di kantor tersebut, bercengkrama dengan Willdan.
__ADS_1
"Willdan, kerjamu bagus juga. Aku juga telah memperdaya Kristin, mengarang cerita kalau papahku sakit keras dan mengharapkan aku segera menikah dengan Albert. Dia percaya dengan apa yang aku ucapkan. Bahkan dia bersedia melepas Albert untukku." Yesi terkekeh.
"Aku juga puas, saat aku pura-pura pingsan di pelukan Kristin. Aku sempat melihat reaksi wajah Albert sangat emosi, dia pasti berpikiran aku dan Kristin kembali lagi," Willdan terkekeh juga.
Keduanya tak sadar jika sedari tadi ada dua pasang mata yang sangat jelas mendengar pembicaraan mereka yakni Alberto dan Irwan.
"Apa! kamu berkata dusta pada Kristin, bilang kalau papahmu ini sakit keras!" tiba-tiba Irwan muncul dan menghampiri Yesi.
"Jadi Kristin kekasih Albert, dan kamu berusaha menghancurkan hubungannya, demi untuk dirimu sendiri! bukankah papah sudah bilang, papah paling nggak suka sama orang licik!" Irwan mendengus kesal.
"Pah, ini nggak seperti yang papah kira. Pasti tadi papah salah dengar," Yesi mencoba meyakinkan Irwan.
Sementara Alberto menghampiri Willdan yang wajahnya sudah panik.
"Dasar lelaki pengecut, dimana harga dirimu sebagsi seorang lelaki. Kamu tak ubahnya seorang wanita yang bisanya memakai cara licik," Alberto melotot pada Willdan.
"Kadang aku heran sama Kristin, kenapa bisa menikah dengan lelaki pecundang sepertimu. Bukannya bertarung secara jantan denganku, jika ingin mendapatkan Kristin kembali, tapi kamu bertarung secara pengecut." Alberto mengacungkan ibu jari namun secara di balik.
Willdan tak bisa berkata apapun, berkali- kali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Oh, jadi dia ini mantan suami Kristin? jadi kamu mempekerjakan dia untuk memperdaya Kristin? hem, papah sama sekali nggak mengira jika kamu serendah ini, Yesi!" Irwan berkacak pinggang melotot pada Yesi.
"Albert, om minta maaf atas kelakuan Yesi. Jujur, om sama sekali nggak tahu akan kelakuannya. Sungguh om malu padamu," Irwan menghampiri Alberto mengusap bahunya.
"Sudahlah, om. Yang penting semua sudah jelas." Alberto mencoba tersenyum walaupun hatinya geram sekali.
"Dan kamu, saat ini juga kamu saya pecat. Dan kembalikan semua fasilitas dari kantor yang Yesi berikan padamu!" Irwan menatap sinis Willdan.
"Pah, dia ini anak buahku. Jadi yang berhak memecatnya adalah aku, bukan papah." Yesi mendengus kesal.
"Ya, papah tahu. Tapi semua ini yang punya kan papah, semua masih milik papah seutuhnya dan belum di alihkan menjadi namamu, jadi papah berhak memecat dia kapan saja," Irwan menyeringai sinis.
__ADS_1
********
Mohon dukungan like, vote, favorit..