
"Duduklah, aku ingin ngobrol sebentar denganmu." Perintah Alberto pada Willdan.
Willdan lekas duduk tanpa sepatah kata yang terucapkan.
"Aku ingin tanya padamu tentang satu hal, tolong kamu jawab dengan jujur." Alberto menatap tajam Willdan.
"Baik, Tuan." Jawab Willdan seraya menutupi rasa gugupnya.
"Apa kamu kenal dengan wanita bernama Kristina?" Alberto menyelidik.
"Oh itu, jelas kenallah. Dia itu mantan istri saya. Memangnya ada apa dengannya, Tuan?" tiba-tiba Willdan malah balik bertanya.
"Dasar lancang! disini saya yang bertanya, kamu tinggal menjawab! bukan malah balik bertanya! apa mau saya pecat!" Alberto melotot pada Willdan.
"Ma-aaf, Tuan." Willdan ketakutan tertunduk lesu.
"Gila, galak amat ini orang." batin Willdan.
"Coba ceritakan hubunganmu dengan Kristina, bagaimana kalian bisa berpisah." Alberto menatap tajam Willdan yang masih tertunduk.
"Kristina itu mantan istri saya, dia yang telah menggugat cere terlebih dulu." Kembali Willdan berucap.
"Apa alasan Kristina menggugatmu?" kembali lagi Alberto bertanya.
"Dia selingkuh, Tuan. Bahkan saya bangkrut juga karena ulah dia dan selingkuhannya." Willdan berkata bohong.
"Makanya sekarang saya bekerja seperti ini," Willdan pasang wajah iba.
"Hem, ternyata kamu itu lelaki pengecut dan pecundang! kamu telah berbohong padaku!" Alberto menggebrag meja seraya mendengus kesal.
"Apa maksud, Tuan? saya telah berkata yang sesungguhnya." Willdan masih saja mengelak akan kebohongannya.
"Kamu lelaki pecundang dan pengecut karena kamu tak berani mengakui kesalahanmu melainkan melempar kesalahanmu pada Kristin. Detik ini juga saya pecat kamu, karena saya tak sudi punya pekerja yang suka berbohong dan melempar kesalahan pada orang lain." Alberto mendengus kesal.
"Tuan, tolong jangan pecat saya. Karena saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Saya benar-benar mengatakan yang sejujurnya. Memang Kristin pintar bersandiwara, dengan memutar balik fakta." Kembali lagi Willdan berkata bohong.
"Cukup! pergi sekarang juga kamu dari kantor saya, dan mulai besok kamu nggak usah datang lagi di kantor ini. Dasar tukang selingkuh tapi sok suci!" bentak Alberto.
"Tapi, Tuan. Saya tidak melakukan kesalahan apa pun, kenapa saya tiba-tiba di pecat secara tidak terhormat?" Willdan masih belum sadar juga akan kesalahannya pada Alberto.
"Kamu telah berbohong pada saya, itulah kesalahan terbesarmu. Karena saya orang yang paling benci dengan kebohongan!" Alberto berkacak pinggang melotot pada Willdan.
"Tapi, Tuan. Saya benar-benar berkata apa adanya." Kembali lagi Willdan mengelak kebohongannya.
__ADS_1
"Cepat keluar dari ruanganku, dan lekas pergi dari kantorku. Esok tak usah lagi kemari! ini terimalah, sebagai pesangon!" Alberto melempar amplop coklat berisikan uang kehadapan Willdan.
"Saya tidak ingin uang ini, Tuan. Saya mohon jangan pecat saya," Willdan mengiba memohon menangkupkan tangan di hadapan Alberto.
"Cepat pergi! jangan sampai aku bertindak kasar padamu!" bentak Alberto mendengus kesal.
Hingga akhirnya Willdan keluar dari ruangan Alberto tak lupa meraih uang pesangonnya.
"Aneh banget, aku nggak salah apa-apa kok di pecat?" batinnya seraya terus melangkah gontay.
"Untuk apa pula bertanya mendetail tentang Kristin?" batinnya kembali.
"Pasti aku di omelin sama mamah, kerja saja di omelin apa lagi nganggur?" Willdan merasa tak bersemangat pulang.
Dirinya enggan pulang namun jika tak pulang mau tidur dimana. Itulah yang di pikirkannya saat ini.
Apa yang di khawatirkan Willdan, benar-benar terjadi. Sesampainya di kontrakan, Mamah Elsa ngomel.
"Loh, kok kamu masih pagi sudah pulang?" Mamah Elsa menatap heran pada Willdan.
"Aku di pecat, mah." Ucapnya lirih.
"Lah kok bisa, kamu buat salah apa?" Mamah Elsa mengerutkan alis.
"Nggak mungkin, kalau nggak berbuat salah terus kamu di pecat." Mamah Elsa mencibir.
"Gara-gara saat presiden direktur bertanya tentang pribadi, aku jawabnya berbohong. Dan dia nggak suka sama orang pembohong, hingga aku di pecat. Aku juga heran, darimana dia bisa tahu tentang perceraianku," Willdan menjatuhkan pantatnya di sofa seraya menyenderkan punggungnya.
"Maksudnya?" Mamah Elsa penasaran.
Willdan menceritakan semuanya pada Mamah Elsa. Setelah mendengar cerita darinya, Mamah Elsa cuma diam saja.
"Ini tidak bisa di biarkan, mentang-mentang kaya memecat orang seenaknya. Aku akan segera ke kantor dimana Willdan bekerja," batin Mamah Elsa.
"Kamu di pecat di beri pesangon tidak, jika iya mamah minta untuk belanja bulanan sekarang juga," Mamah Elsa menengadahkan tangannya.
"Ini," Willdan memberikan amplop coklat yang berisikan uang pada Mamah Elsa.
"Ya sudah, mamah pergi dulu." Mamah Elsa bangkit dari duduk berlalu pergi begitu saja.
Willdan hanya terpaku menatap kepergian mamahnya, tanpa ada pertanyaan sedikit pun. Pikirannya sedang kalut.
"Cari kerja sangat susah, eh ini malah menjadi pengangguran kembali." gerutunya seraya menghela napas panjang.
__ADS_1
Sementara saat ini Mamah Elsa sedang dalam perjalanan menuju kantor Alberto. Hanya beberapa menit saja, telah sampai.
Mamah Elsa main masuk saja, hingga membuat resepsionist menghampirinya.
"Maaf, Nyonya. Anda akan bertemu siapa, dan apakah sudah adakan janji?" tanya resepsionist tersebut.
"Saya ingin bertemu dengan presiden direktur kantor ini. Yang bersikap seenaknya, main pecat orang!" jawabnya ketus.
"Maaf, Nyonya. Jika sebelumnya tidak ada kesepakatan untuk bertemu, dengan sangat terpaksa saya menahan anda." Resepsionist tersebut menahan Mamah Elsa.
"Awas, menyingkirlah! jangan halangi langkahku!" dengan kasar Mamah Elsa mendorong tubuh resepsionist.
Setelah itu Mamah Elsa nerobos masuk ruang kerja Alberto.
"Heh, siapa anda! tak punya sopan santun main masuk saja!" bentak Alberto.
"Maaf, Tuan. Saya telah melarangnya namun dia nerobos masuk saja," resepsionist datang dengan ketakutan seraya tertunduk lesu.
"Ya sudah, lain kali gerak cepat panggil security! paham!" bentak Alberto.
"Baik, Tuan. Sekali lagi mohon maaf," kembali lagi resepsionist itu berkata.
"Kembalilah ke tempatmu," perintah Alberto pada resepsionist tersebut.
"Baik, Tuan." Resepsionist tersebut pergi dari ruang kerja Alberto.
"Ada apa anda kemari?" Alberto menatap tajam pada Mamah Elsa.
"Jangan mentang-mentang anda pemilik perusahaan ini, hingga dengan seenaknya memecat orang tanpa alasan yang jelas!" Mamah Elsa melotot pada Alberto.
"Oh, jadi anda ibu dari si pengecut Willdan? jadi dia telah mengadu yang macam-macam pada anda?" Alberto menyeringai sinis.
"Untuk apa anda kemari, meminta saya untuk menerima si pengecut kerja di sini? jangan harap." Ucap Alberto.
"Jika anda tidak menerima anak saya kembali, saya pastikan anda akan menyesal. Saya akan bilang ke semua orang kalau anda seorang pemimpin kejam dan tak berperikemanusiaan yang dengan seenaknya memecat pekerja tanpa ada kesalahan yang dilakukan oleh pekerjanya!" ancam Mamah Elsa dengan percaya dirinya.
"Silahkan saja, saya juga bisa melakukan hal yang lebih kejam pada anak anda. Dengan menyebarkan vidio perselingkuhan anak anda dengan saudara sepupu istrinya saat status masih menjadi suami orang." Alberto menunjukkan vidio perselingkuhan antara Willdan dan Sherlyn.
"Dengan vidio ini, saya pastikan anak anda tidak akan di terima kerja di mana pun " ucap Alberto.
Mamah Elsa tak bisa berkata, dia pergi begitu saja meninggalkan ruangan Alberto.
******
__ADS_1
Mohon dukungan like,vote, favorit..