
Alberto tak bisa berkata apapun, dia hanya diam saja.
"Aduh, bagaimana ini? aku terlalu emosi sehingga tak sadar jika aku berucap terlalu keras," batin Alberto.
"Yesi, coba kamu jelaskan? vidio apa yang di maksud oleh Albert?" Irwan beralih bertanya pada Yesi.
Alberto menatap Yesi seolah sedang memberi sebuah kode, supaya Yesi jangan memberitahukan tentang hal yang sebenarnya pada orang tuanya.
"Bukan apa-apa kok, pah. Cuma vidio masa kecil Albert yang lagi nakal-nakalnya," jawab Yesi berbohong.
Namun tiba-tiba Leni mencolek lengan Irwan, saat tak sengaja dia membuka ponselnya ada salah satu teman sosialitanya mengirimkan suatu vidio ke ponselnya.
"Pah, apa mungkin yang Albert maksud vidio ini?" Leni menunjukkannya pada Irwan seraya berbisik.
Sejenak Irwan melihat vidio tersebut dan dirinya mengepalkan tinju, matanya menatap tajam pada Yesi dan Alberto.
"Apa yang sedang kalian perdebatkan adalah ini!" Irwan menunjukkan vidio tersebut pada Yesi dan Alberto.
Sejenak Yesi terperangah dan kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Yesi dan Alberto saling berpandangan satu sama lain.
"Cepat jawab! kenapa kalian malah hanya diam saja dan saling berpandangan!" Irwan sudah tak bisa menahan rasa kesalnya.
"Iya om! Yesi yang telah membuat vidio itu dengan cara dia menjebak saya," akhirnya Alberto berkata secara tegas.
"Menjebak bagaimana maksudnya?" Irwan semakin tak mengerti dengan ucapan Alberto.
"Bohong, pah! aku sama sekali tidak menjebaknya, kita melakukan atas dasar suka sama suka," tiba-tiba Yesi menyela pembicaraan antara Irwan dan Alberto.
"Tidak, om! jika saya suka pada Yesi, sudah dari dulu saya bersedia menikah dengannya! anak om sangat licik, dia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!" Alberto membantah ucapan dari Yesi.
"Sudah, om jadi pusing dan bingung! harus percaya dengan siapa! sekarang kamu cerita Albert dan kamu Yesi, diamlah dulu!" perintah Irwan.
Kemudian Alberto menceritakam semuanya dari awal mula dia terjebak di tengah jalan dalam kondisi mobil mogok karena ban mobil bocor. Hal itu terjadi pada malam hari saat hujan lebat, tidak bisa menggunakan ponselnya karena habis batre. Semua di ceritakan Alberto dari awal bertemunya dengan Yesi hingga terjadinya hal itu di villa.
"Seperti itulah, om. Cerita yang sebenarnya, sepertinya minuman yang Yesi berikan padaku ada sesuatunya," ucap Alberto.
"Yesi, coba ceritakan apa yang terjadi pada saat itu?" Irwan beralih menatap Yesi.
__ADS_1
"Semua yang Albert ceritakan memang benar, pah. Tapi untuk soal minuman, aku sama sekali tidak menaruh apapun dalam minuman Albert. Cuma yang aku ingat, dia memiliki alergi dingin, hingga dia tak kuat dingin."
"Pada saat itu, dia meminta hal itu padaku. Dia berjanji akan tanggung jawab dengan apa yang dia lakukan, pah. Jadi aku menuruti kemauaanya, tapi setelah itu dia mengabaikanku."
Demikian penuturan Yesi dengan sedikit berbohong pada Irwan.
"Yesi, kenapa kamu berbohong pada papahmu?" Alberto merasa geram mendengar perkataan Yesi.
"Sudah diam, tolong jangan berdebat lagi! terus siapa yang membuat vidionya!" Irwan bertanya lagi.
"Aku, pah," jawab Yesi singkat.
"Untuk apa pula kamu membuat vidio seperti ini, dan untuk apa pula kamu menyebarkannya ke seluruh media masa. Apa kamu nggak bisa berpikir secara jernih, jika yang kamu lakukan sama saja merendahkan harga dirimu juga di mata umum! apa kamu nggak malu, semua orang melihat tubuh polosmu itu!" bentak Irwan mendengus kesal.
"Siapa yang membantumu membuat vidionya, nggak mungkin jika ku bekerja sendirian!" kembali lagi Irwan membentak Yesi.
"Pah, aku sama sekali nggak menyebarkan vidio itu. Aku bekerjasama dengan adik dari mantan suami Kristin," jawab Yesi tertunduk ketakutan.
"Om, sudah jelas kan! Yesi ini bekerjasama dengan adik Willdan, secara Willdan dendam pada Kristin. Dengan cara ini dia ingin menghancurkan hubunganku dengan Kristin." Alberto berusaha membela diri.
"Jika kamu tidak menyebarkan vidio ini, berarti adik Willdan yang melakukannya," ucap Irwan.
"Sekarang kamu hubungi adik Willdan, dia yang harus mempertanggung jawabkan hal ini. Hubungi dia, dan ajak dia bertemu di suatu tempat. Nanti papah dan Albert ikut, tapi kamu jangan katakan hal ini pada adik Willdan. Maksud nggak yang papah katakan!" perintah tegas Irwan pada Yesi.
"Baik, pah. Aku paham kok, dan tidak akan mengatakan pada Sendy jika aku akan datang dengan papah dan Albert," ucap Yesi tertunduk malu.
Yesi segera menelpon Sendy untuk mengajakny bertemu di suatu tempat. Setelah mendapat kesepakatan, Yesi segera berangkat menemui Sendy.
Sementara Alberto dan Irwan mengikuti laju langkah mobil Yesi. Tak berapa lama kemudian, Yesi telah sampai di sebuah cafe.
Namun saat Alberto akan menghampiri Yesi dan Sendy, Irwan melarangnya. Dia menjebakmu, sekarang gantian kamu yang menjebaknya. Untuk hal ini, kamu menurut saja dengan rencana om. Tidak semua permasalahan harus di selesaikan dengan kekerasan, ada beberapa masalah yang di selesaikan dengan pemikiran," ucap Irwan panjang lebar.
Rupanya tanpa sepengetahuan Yesi maupun Alberto, Irwan telah memerintah orang untuk merekam semua pembicaran antara Yesi dan Irwan.
"Sendy, kenapa kamu menyebarkan vidio itu ke seluruh media? bukankah aku tidak memerintahkanmu melakukan hal itu!" Yesi merasa geram seraya menatap tajam Sendy.
"Aku memang sengaja melakukannya karena aku sangat membenci Alberto!" jawab Sendy singkat.
__ADS_1
"Karena perbuatanmu itu, usahaku menjebaknya menjadi sia-sia!" bentak Yesi pada Sendy.
Dia tak menyadari dengan ucapannya barusan. Padahal saat ini ada orang bayaran Irwan yang sedang merekam pembicaraannya.
"Kamu pikir aku peduli dengan hal itu, yang terpenting aku bisa membalaskan dendam kakakku pada Alberto," jawab Sendy dengan entengnya.
"Jadi kamu hanya memperalatku? ini namanya kita bukan bekerjasama, karena aku di sini juga di rugikan olehmu." Yesi mendengus kesal.
"Hhaaa, sudah aku bilang tadi. Aku tak peduli kamu di rugikan atau di permalukan. Intinya, saat ini aku sangat puas karena vidio itu pasti reputasi Alberto sekarang menjadi jelek. Dan semua rekan bisnisnya akan kecewa, dan akhirnya dia bangkrut. Sungguh rencana yang sangat bagus, terima kasih atas bantuanmu, sayang," Sendy mengedipkan matanya pada Yesi.
"Sialan kamu, Sendy! aku minta kamu hapus sekarang juga semua unggahanmu di laman akun sosial media dan di semua surat kabar!" Yesi kesal seray melotot pada Sendy.
"Maaf, sayang. Tidak semudah itu, karena semuanya telah menyebar begitu cepatnya. Untuk apa kamu mempermasalahkan hal ini, berita ini lambat laun juga hilang sendiri. Mending kamu minta tanggung jawabmu saja pada Alberto untuk lekas menikahimu," ucap Sendy tersenyum sinis.
Setelah itu Sendy bangkit berdiri dan berlalu pergi begitu saja. Yesi merasa kesal karena rencananya tak berhasil.
"Sial, ternyata aku cuma di manfaatkan olehnya. Aku pikir dia benar-benar ingin membantuku untuk mendapatkan Albert," batin Yesi.
"Lagipula mana papah sama Albert, katanya akan ikut kemari. Tapi kok nggak kelihatan juga," batin Yesi kembali.
Yesi tidak mengetahui jika saat ini Irwan dan Alberto ada di tempat itu juga tanpa sepengetahuan Yesi.
Sementara orang bayaran Irwan segera menghampiri Irwan di tempat persembunyiannya. Dan menyerahksn rekaman vidio percakapan antara Yesi dan Sendy pada Irwan.
"Nak, sebaiknya kita pulang ke rumah om. Biarkan Yesi pulang sendiri," Irwan melangkah keluar dati cafe tersebut di ikuti oleh Alberto.
Mereka pulang ke rumah Irwan dan meninggalkan Yesi begitu saja. Sementara Yesi masih ada di cafe menunggu kedatangan Irwan dan Alberto.
Hingga beberapa menit berlalu, akhirnya Yesi memutuskan untuk pulang. Sementara di rumah, Irwan dan Alberto membuka rekaman vidio percakapan antara Yesi dan Sendy.
"Ya Tuhan, ternyata memang ucapanmu benar. Anak om yang telah menjebakmu dengan memberi obat perangsang pada minumanmu. Sungguh keterlaluan sekali dia!" Irwan mendengus kesal seraya memijit pelipisnya.
"Ya begitulah, om. Gara-gara Yesi, Kristina memutuskan hubungan begitu saja," Alberto tertunduk lemas.
"Kamu nggak usah khawatir, kita ke berbagai media masa dan elektronik. Ataupun kita adakan konperensi pers, menjelaskan semuanya. Dan menunjukkan bukti vidio ini. Dengan bukti ini pula, kita akan balik menjebak adik Willdan," saran dari Irwan.
"Om sangat malu denganmu, kata maafpun tak cukup untuk memperbaiki kesalaan Yesi padamu. Tapi setidaknya om akan bantu kamu, supaya reputasi namamu kembali baik. Sekali lagi, om minta maaf," Irwan tertunduk lesu seraya menghela napas.
__ADS_1
*********