Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Keras Kepala


__ADS_3

Tak berapa kemudian, sampailah Alberti di klinik dimana ada Kristina da Mickel. Saat ini Kristina sedang di luar ruangan dimana Mickel sedang di rawat.


"Sayang, apanya yang sakit, coba katakan?" Alberto panik seraya melihat Kristina dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Ka, aku tidak sakit kok. Yang sakit ada di dalam ruangan, tadi waktu telpon aku belum selesai ngomong sudah di matikan," Kristina geleng-geleng kepala.


"Maksudnya bagaimana, sayang? aku sama sekali nggak paham dengan apa yang kamu katakan," Alberto menghela napas panjang.


"Makanya kalau ada orang ngomong, jangan buru-buru telpon di matikan. Akhirnya begini kan, jadi aku harus replay." Kristina mendengus kesal.


"Ya, maaf. Begitu saja pakai acara ngambek segala." Alberto mengedipkan matanya.


Selagi asik ngobrol, dokter yang telah memeriksa Mickel keluar dari ruang rawat. Kristina segera menghampiri dokter tersebut.


"Dok, bagaimana kondisi pasien?" Kristina menatap serius sang dokter.


"Kondisinya sekarang baik-baik saja, tidak ada penyakit yang serius jadi anda nggak usah khawatir. Hanya diusianya yang sudah tidak muda, sebaiknya pasien jangan terlalu kecapean dan banyak pikiran," kata sang dokter tersenyum ramah.


"Pasien sudah bisa di temui karena sudah sadar, dan ini ada sedikit resep obat untuk pasien. Vitamin dan juga beberapa obat antibiotik serta kekebalan tubuh." Dokter memberikan resep tersebut pada Kristina.


"Baiklah, dok. Terimakasih." Kristina menerima resep obatnya seraya tersenyum ramah.


"Memang siapa yang sakit, sayang?" Alberto mengerutkan kening.


"Ka Albe lihat saja sendiri jadi tahu, aku juga nggak mengenalnya. Cuma rasa kemanusiaan, tadi di jalan orang ini tiba-tiba kesakitan memegangi dadanya." Kristina masuk ke ruang rawat Mickel.


Alberto merasa penasaran, dia mengikuti langkah Kristina ikut masuk ruangan tersebut.


"Bagaimana kondisi, om?" tanya Kristina tersenyum ramah.


"Saya sudah merasa baikan, terima kasih telah menolong saya." Jawab Mickel lirih.


Saat Alberto melihat siapa yang terbaring di brangkar, dia terhenyak kaget.


"Daddy, kok bisa seperti ini?" Alberto menghampiri Mickel.

__ADS_1


Mickel hanya diam saja tak merespon ucapan anaknya. Dia bahkan memalingkan wajahnya.


Kristina sekarang baru ingat jika orang yang di tolongnya ini adalah orang yang ada di foto yang di tunjukkan oleh Rere waktu itu. Dia merasa tak enak hati, hingga akan melangkah pergi dari ruangan tersebut. Namun tiba-tiba Mickel memanggilnya.


"Nak, kamu mau kemana? om belum tahu siapa namamu dan dimana rumahmu?" Mickel menahan kepergian Kristina.


Belum juga Kristina menjawab pertanyaan Mickel, Alberto telah menyela.


"Namanya, Kristin." Sela Alberto.


"Daddy nggak tanya sama kamu, tapi sama dia." Daddy Mickel mendengus kesal.


"Saya Kristina, om." Jawabnya singkat.


"Jadi kamu wanita yang selama ini aku cari? wanita yang di cintai Albert?" Tatapan Mickel sejenak berubah sinis.


"Iya, om." Jawab Kristina singkat seraya menyunggingkan senyum.


"Hem, pergilah. Sekarang aku sudah tahu siapa kamu, dan aku minta kamu menjauh dari kehidupan anakku. Karena aku nggak mau punya menantu seorang janda beranak pula," Mickel memalingkan wajahnya dari pandangan Kristina.


"Semoga cepat sehat ya, om. Kristin pamit pulang," Kristina menyunggingkan senyum seraya pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Ka Albe, ini resep obat yang harus di beli untuk daddy. Kalau aku yang beli, ntar daddy nggak maj menerimanya. Aku pamit pulang, ingat pesan aku. Jangan bikin daddy marah atau banyak pikiran, mengalah saja kasihan daddy." Kristina memberikan resep obatnya ke tangan Alberto.


"Nggak usah sok polos, sok baik!" sindir Mickel ketus.


Namun Kristtina hanya diam saja dan berlalu pergi.


Seperginya Kristina, Alberto menahan rasa geram pada Daddy Mickel.


"Sudah di tolong, bukannya terima kasih malah mengusir dan mencela Titin. Kalau tadi Titin nggak menasehatiku, daddy sudah aku omelin macem-macem," batin Alberto.


Alberto dengan sangat perlahan mengangkat tubuh Mickel yang sedang berbaring di brangkar.


Dia memapahnya keluar dari ruangan tersebut dan melangkah ke mobilnya.

__ADS_1


Selama di mobil, antara bapak dan anak ini tak bertegur sapa. Keduanya saling diam sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Hem, ternyata Kristin cantik juga. Tapi apa dia benar-benar baik? Yesi bilang sebab perceraiannya dengan suaminya karena dia itu mengincar harta Alberto. Berarti dia tidak sepenuhnya cinta pada anakku. Dasar wanita bermuka dua, di depanku sok baik dan menolong. Tapi di belakangku punya niat tak baik pada anakku! lihat saja Kristin, aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal itu, aku akan selalu berulah di dalam hubunganmu dan anakku supaya semakin lama kamu jera dan dengan sendirinya meninggalkan Albert." Gerutu Mickel dalam hati.


"Hem, aku yakin daddy saat ini pasti telah merencanakan hal buruk pada Titin. Tapi aku tidak akan membiarkannya begitu saja, aku akan selalu ada buat Titin. Dan sampai kapanpun aku nggak akan melepaskan Titin kembali," batin Alberto seraya melirik sinis pada Mickel.


"Ron, berhenti sejenak di apotik. Dan kamu tebus resep obat ini." Alberto memberikan resep dokter pada Rony.


Segera Rony menghentikan mobilnya di depan apotik. Dia menebus resep obat tersebut sesuai perintah dari Alberto.


Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya kembali menuju mension Alberto.


"Loh, kalian kok bisa pulang bareng? tadi asisten daddy pulang duluan, mommy sampai gelisah karena di tanya malah jawabnya nggak tahu," Mommy Rachel menghela napas panjang.


"Katanya, dia mencoba telpon daddy tapi ponsel daddy nggak aktif. Jadi dia memutuskan pulang kemari." Mommy Rachel berkata kembali.


"Mommy sempat khawatir loh, dad." Mommy Rachel menatap sendu Daddy Mickel.


Namun Daddy Mickel hanya melirik sinis dan berlalu pergi begitu saja.


Alberto memberikan obat yang telah di tebusnya pada Mommy Rachel.


"Obat apa ini, nak?" Mommy Rachel mengamati obat yang ada di tangannya.


"Itu obat buat daddy, saat dia jogging sempat pingsan dan di tolong oleh Kristin di bawa ke klinik. Tapi bukannya terima kasih malah mengusir Kristin begitu saja." Alberto mendengus kesal seraya berlalu pergi dari hadapan Mommy Rachel.


Mommy Rachel menghela napas panjang seraya melangkah ke kamarnya.


"Dad, jadi daddy sudah bertemu dengan calon menantu kita?" Mommy Rachel menghampiri Daddy Mickel.


"Siapa bilang aku sudah setuju dan merestui hubungan janda itu dengan anak kita. Walaupun janda itu telsh menolongku, bukan berarti aku telah luluh dan berubah pikiran." Daddy Mickel mendengus kesal.


"Dad, yang akan menjalani hidup rumah tangga kan Albe bukan daddy. Dia juga sudah dewasa, bisa memilih yang menurutnya baik buatnya," Mommy Rachel mencoba memberi pengertian pada Daddy Mickel.


"Baik apanya, janda beranak satu. Pasti hanya ingin numpang hidup enak sama anak kita," Daddy Mickel mencibir.

__ADS_1


*****


Mohon dukungan like, vote, fav..


__ADS_2