Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Terpojok


__ADS_3

Alberto semakin kesal saat gagal mengejar mobil Yesi. Alberto berinisiatif untuk menelpon Yesi.


📱"Hallo, Yesi. Kamu sekarang ada di mana?"


📱"Memangnya kenapa, kangen padaku?"


📱"Aku ingin ketemu sekarang juga, penting!"


📱"Baiklah, kita ketemu di cafe X."


Setelah itu panggilan telpon di matikan dan Yesi segera meluncurkan mobilnya ke cafe X. Begitu pula dengan Alberto memerintahkan Rony melajukan mobilnya ke cafe X.


Hanya beberapa menit saja, mereka telah bertemu di cafe X, dan lekas mencari tempat duduk yang strategis.


"Jadi kamu sengaja menjebakku?" tiba-tiba Alberto bertanya.


"Tidak juga, tapi pada saat itu aku nggak mau rugi setelah apa yang kamu lakukan padaku. Aku ingin kamu mempertanggung jawabkan semuanya," Yesi tersenyum sinis.


"Itu tidak mungkin, karena aku sama sekali nggak mencintaimu!" Alberto berkata lantang, seraya bangkit berdiri.


"Ckckckck...duduklah, Albert. Apa kamu nggak malu di lihat orang banyak?" Yesi memperingatkan Alberto seraya tengok kanan dan kiri.

__ADS_1


Albertopun lekas duduk kembali, karena orang di sekitarnya menatap ke arahnya.


"Yesi, apa sebenarnya maumu dengan menjebakku?" kembali lagi Alberto bertanya.


"Pertanyaanmu tak butuh dengan jawaban, yang jelas aku ingin kamu menikah denganku. Jikalau kamu menolak, aku akan menghancurkan reputasimu dengan menyebarkan vidio yang ada padaku," Yesi tersenyum sinis.


"Dasar wanita licik!" Alberto mendengus kesal.


"Terserah kamu mau mengatakan aku wanita licik atau apapun aku nggak peduli. Satu tujuanku yakni memilikimu seutuhnya," Yesi terkekeh.


Alberto tak bisa berkata apapun, dia hanya diam saja. Karena posisi dia saat ini terpojok sehingga tak bisa berkutik sama sekali.


Alberto bangkit dari duduknya berlalu pergi begitu saja, tanpa menghiraukan Yesi.


"Sukurin kamu, Albert. Bingung kan, tapi aku pastikan kamu akan menerima tawaran dariku," batin Yesi seraya tersenyum sinis.


Sementara Albert semakin frustasi, sesekali memijat pelipisnya, sesekali mengacak-acak rambutnya.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana dengan permasalahan ini," batin Alberto.


Setelah sampai di mension, Alberto langsung menuju ke kamarnya tanpa menghiraukan orang tuanya yang sedang duduk di teras halaman.

__ADS_1


"Dad, ada apa sama anak kita? sepertinya ada masalah yang serius?" Mommy Rachel mengernyitkan alis.


"Entahlah, mom. Coba aku tanya, siapa tahu Albert bersedia cerita." Daddy Mickel melangkah masuk rumah menuju kamar Alberto.


Kebetulan pintu kamar tidak di kunci, sehingga Mickel tak perlu mengetuk pintu, dia langsung masuk saja.


"Nak, apa kamu sedang ada masalah? wajahmu terlihat sangat kusut?" Daddy Mickel mencoba menyelidik pada Albert.


"Ya, dad. Aku sedang ada masalah serius, rumit dan aku saat ini sangat terpojok karena aku di jebak," Alberto menghela napas panjang.


"Cerita saja, siapa tahu daddy bisa bantu kamu," Daddy Mickel menepuk bahu Alberto.


Alberto kemudian menceritakan semua dari awal hingga akhir pada Daddy Mickel. Setelah mendengar cerita dari Alberto, Daddy Mickel terdiam sejenak.


"Daddy juga bingung, harus bagaimana cara menyelesaikan permasalahanmu. Pantas waktu itu dia kemari mencarimu, apa sebaiknya daddy bicarakan hal ini dengan Om Irwan?" Daddy Mickel meminta persetujuan pada Alberto.


"Jangan, dad. Aku malu kalau hal seperti ini di ceritakan pada Om Irwan," Alberto melarangnya.


"Lalu harus bagaimana, kamu mau menikah dengannya? terus bagaimana dengan hubunganmu dan Kristin?" Daddy Mickel mengernyitkan alis.


*****

__ADS_1


__ADS_2