
Setelah mendengar penolakan dari Kristina, Sendy berpamitan pulang. Dalam hati dia semakin geram atas tindakan Kristina.
"Hem, sombong banget! lihat saja, dengan jalan halus aku gagal. Terpaksa aku balas dendam dengan cara kasar!" Sendy melangkahkan kaki keluar dari kantor Kristina seraya mendengus kesal.
Padahal dia sudah percaya diri, jika Kristina akan menerima tawaran dari dirinya untuk bekerja sama.
Di lain tempat, Yesi hidupnya hancur. Dia harus menerima di jadikan wanita penghibur oleh mucikari Mom Elsa.
Kehormatannya telah hilang secara paksa di jual pada seorang pria paruh baya seusia papahnya.
"Nyesel aku kenal, Rendra! aku pikir, dia akan membantuku keluar dari LA! malah menjebakku disini, kehormatanku terenggut paksa oleh tua bangka! semua karena Rendra, aku harus balas dendam pada Rendra dan Mom Elsa yang telah menghancurkan hidupku!" batin Yesi mendengus kesal.
Setelah berhari-hari Yesi dalam tahap pencarian, semua orang di rumah Mikha tidak ada yang berhasil menemukannya. Dari Marwan, Mikha, juga ketiga anak Marwan juga tak menemukan keberadaan Yesi.
"Pap, bagaimana ini? Yesi nggak juga kita ketemukan? kita sudah beralasan macam-macam pada Mas Irwan untuk menutupi tentang hilangnya Yesi." Mikha panik seraya memijit pelipisnya.
"Iya, mam. Sudah tiga hari ini kita mencati Yesi tapi tak ketemu, langkah selanjutnya kita lapor saja pada aparat polisi saja." Saran Marwan.
"Ya sudah, kita sebaiknya sekarang juga ke kantor polisi untuk melaporkan hilangnya Yesi." Ajak Mikha antusias.
Akhirnya suami istri paruh baya ini segera pergi ke kantor polisi di LA untuk melaporkan hilangnya Yesi.
Aparat polisi berjanji akan secepatnya mencari Yesi. Apalagi salah satu petugasnya masih saudara dengan Mikha.
********
Sementara situasi di rumah Irwan, Leni istrinya sedang gelisah.
"Pah, kok aku kepikiran sama Yesi? masa setiap kita telpon kita tidak bisa berkomunikasi langsung dengan anak kita. Selalu saja Marwan berkilah kalau Yesi sedang tidak ada di tempat. Apa papah nggak merasa curiga?" tanya Leni pada Irwan.
__ADS_1
"Papah percaya kok sama Marwan. Positif tinking dan jangan berburuk sangka pada orang lain, itu nggak baik." Irwan menasehati Leni.
Setelah dua hari pencarian, akhirnya Yesi di ketemukan dan di bawa pulang ke rumah Marwan. Namun Yesi bukannya bersyukur malah menaruh dendam pada Marwan dan Mikha.
"Syukurlah, untung kamu cepat di ketemukan. Kemana saja kamu, nak?" Marwan tersenyum menatap sendu pada Yesi.
"Memang polisi nggak cerita, menemukanku di mana? gara-gara kalian, aku harus kehilangan kehormatanku secara paksa dan beberapa hari bekerja dengan cara melayani hidung belang." Yesi menatap sinis pada Marwan dan Mikha.
"Polisi tidak ngomong apa-apa, kami tidak paham dengan ucapanmu barusan?" kembali lagi Marwan bertanya.
"Aku di culik orang di bawa paksa ke rumah bordir, dan sama sekali aku nggak bisa melarikan diri. Bahkan ponselku juga di ambil oleh sang mucikari." Jawab Yesi ketus.
"Kami minta maaf." Ucap singkat Marwan.
"Permintaan maaf kalian tidak bisa mengembalikan keutuhan kehormatanku yang telah terenggut paksa oleh pria seusia papah." Mata Yesi berkaca-kaca.
"Kamu harus koreksi diri, jangan menyalahkan sepihak. Kamu juga salah dengan membohongi kami waktu itu, jika tidak pasti tidak akan terjadi hal ini. Dan jika waktu itu kamu bersedia kami temani saat keluar rumah, juga tidak akan mengalami hal setragis ini." Kembali lagi Marwan berkata dengan panjang lebar.
"Baiklah, nanti malam kamu akan kita antar pulang ke Indonesia. Jika kamu ingin mengadu pada orang tuamu, silahkan saja. Semua yang terjadi padamu bukan kesalahan kami, tapi kesalahanmu sendiri yang nggak mengikuti aturan di sini. Kamu malah memilih melarikan diri, yang pada ahkirnya berdampak pada dirimu sendiri." Kata Marwan panjang lebar.
Setelah Marwan mengucapkan hal itu, Yesi sama sekali tak bisa berkata sedikitpu. Dia berlalu pergi begitu saja.
Sementara lagi-lagi Mikha merasa panik dan gelisah, setelah mendengar ucapan dari Yesi
"Pap, bagaimana ini? kalau sampai Yesi benar-benar mengadu pada orang tuanya tentang apa yang telah di alaminya." tanyanya seraya menghela napas panjang.
"Seperti yang aku katakan tadi pada Yesi, aku nggak aka khawatir atau takut. Semua yang terjadi pada Yesi bukanlah salah kita." Kata Marwan tegas.
"Sudahlah, sekarang kemasi barang-barang kira, supaya nanti malam kita tidak gugup dan tinggal ketinggalan pesawat." Perintah Marwan pada Mikha.
__ADS_1
Mikha menuruti perintah suaminya walaupun hatinya penuh rasa ragu untuk ikut ke Indonesia.
Waktu cepat berlalu, tak terasa sudah menjelang malam. Marwan dan Mikha lekas mengajak Yesi ke pangkalan bandara pesawat terbang.
Hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai di bandara dan lekas naik dalam pesawat karena lima menit lagi akan tinggal landas.
Setelah menempuh perjalanan seharian, sampailah di halaman rumah Irwan. Pesawat sedikit telat karena ada sedikit permasalahan sebelum tinggal landas.
Irwan dan Leni terhenyak kaget saat melihat kedatangan Yesi bersama Mikha dan Marwan.
"Loh, kalian kemari kok nggak memberi kabar?" tanya Irwan menyelidik.
"Iya, harusnya memberi tahu pada kami jadi ada sedikit persiapan untuk menyambut kedatangan kalian." Sela Leni sumringah.
"Kami kemari juga karena dadakan, bukan karena di rencanakan. Yesi minta pulang saja." Kata Marwan melirik sinis pada Yesi.
Yesi membalas lirikan mata Marwan dengan penuh kebencian.Tiba-tiba Yesi bercerita banyak hal tentang apa yang menimpa dirinya saat berada di LA.
Marwan dan Mikha tak bisa mencegah atau membungkam mulut Yesi supaya diam saja dan tidak mengadu. Setelah mendengar pengaduan dari Yesi, baik Irwan maupun Leni matanya membola.
"Apakah yang barusan Yesi ceritakan itu benar adanya?" Irwan menatap tajam pada Marwan."
"Iya, Mas. Tapi itu bukan kesalahan kami, karena waktu itu Yesi membohongi kami. Ijin ingin ke mall, bahkan kami menawarkan diri untuk ikut menemaninya, dia nggak mau." Jawab Marwan tegas.
"Tapi kenapa saat kami telpon kamu tidak berkata jujur?" Irwan kembali menatap tajam Marwan.
"Karena kami nggak ingin membuat kalian khawatir, kami juga waktu itu berpikir Yesi pergi ke rumah teman yang di LA. Dia sempat mengatakan hal itu saat pergi, namun saat berapa hari nggak pulang di telpon nggak pernah aktif." Marwan terus membela diri.
"Jika Yesi waktu itu tidak kabur, semua hal buruk tidak akan menimpanya. Sebelumnya juga Yesi pernah akan kabur, ini bukan yang pertama kalinya." Kembali lagi Marwan menjelaskan.
__ADS_1
********
Mohon dukungan like, vote, favorit..