Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Usaha Mickel Gagal


__ADS_3

Siang harinya, Daddy Mickel berencana ke kantor Kristina.


"Aku akan ke kantor dimana Kristin bekerja, dan akan menemui presiden direkturnya. Aku akan meminta supaya Kristin di pecat," batin Daddy Mickel.


Tanpa sepengetahuan Rachel dan Alberto, Mickel lekas pergi ke kantor Kristina dengan asisten pribadinya.


Setelah sampai, Mickel lekas ke bagian resepsionist.


"Maaf, mba. Saya ingin bertemu dengan presiden direktur perusahaan ini." Katanya seraya tersenyum.


"Maaf, Tuan. Apa sebelumnya anda telah mempunyaj jadwal bertemu dengannya?" tanya sang resepsionsit.


"Sudah, karena perusahaan saya akan menjalin kerja sama dengan perusahaan ini. Makanya saya di perintah kemari " Jawab Mickel.


Resepsionist tersebut percaya saja dengan apa yang di ucapkan oleh Mickel. Hingga langsung menunjukkan ruang kerja Kristina.


Mickel langsung melangkah menuju ruangan yang telah di tunjukkan oleh resepsionist.


"Tok tok tok." Mickel mengetuk pintu ruangan Kristina.


Dia belum tahu jika Kristina yang memiliki dua perusahaan besar tersebut. Dia pikir Kristina hanya pegawai biasa.


"Masuk saja," jawab Kristina dari dalam.


Kristina sedang sibuk dengan seabreg dokumen dan berkas di mejanya. Hingga saat Mickel masuk dia tidak tahu. Karena dia terus saja menunduk fokus dengan semua berkas dan dokumen yang ada di meja kerjanya.


"Sebentar, saya sedang tanggung." Kristina berucap masih dengan menunduk.


"Baik." Jawab Mickel singkat seraya meraih salah satu tabloid di mejanya.


Mickel membaca salah satu tabloid untuk menunggu Kristina. Wajahnya tak terlihat karena tertutup tabloid.


Lima menit berlalu, Kristina menutup semua berkasnya dan beralih duduk di hadapan Mickel.


"Maaf, Tuan. Anda jadi menunggu lama." Kristina berkata.


"Oh, tidak apa-apa.." Mickel terkejut tak meneruskan ucapannya saat menutup tabloid dan beralih menatap ke sumber suara.


"Om?"

__ADS_1


"Heh, ngapain kamu di ruangan presiden direktur perusahaan ini? mau numpang bergaya, seolah kamu pemilik perusahaan ini." Mickel menatap sinis pada Kristina.


"Memang saya pemilik perusahaan ini, om. Juga perusahaan di samping perusahaan ini." Kristina mencoba tersenyum.


"Mimpi kamu! cepat kamu keluar dari sini dan panggil presiden direktur, karena aku ingin bertemu dengannya! dasar lancang, janda berulsh sok kaya!" Mickel mendengus kesal.


"Maaf ya, om. Saya berkata apa adanya, kalau sayalah presiden direktur di kantor ini dan kantor sebelah. Jika om ingin bertemu dengan presiden direktur, yaitu adalah saya." Kembali lagi Kristina berusaha meyakinkan Mickel.


"Hello, mimpi dan anganmu terlalu tinggi! kamu cuma menjabat sebagai direktur biasa, tapi bergaya seolah kamu presiden direktur." Kembali lagi Mickel menghina Kristina.


"Terserah om mau ngomong apa, jika om sudah tidak ada yang ingin di bicarakan dengan saya, mohon maaf silahkan om meninggalkan ruangan saya. Karena saya masih banyak pekerjaan." Kristina sudah tidak bisa lagi menahan kesalnya hingga mengusir Mickel.


Selagi Kristina dan Mickel berdebat, masuklah Rere.


"Maaf, bu. Saya nggak tahu jika sedang ada tamu. Tapi ini ada satu berkas yang harus segera ibu tanda tangani sekarang juga." Rere meletakkan berkas tersebut di meja kerja Kristina.


"Tunggu sebentar, Re. Sebelum aku tanda tangani, terlebih dahulu aku cek. Duduklah dulu." Kristina bangkit dari sofa dan beralih ke kursi kerjanya.


Sejenak Kristina membaca dengan teliti berkas yang akan di tanda tangani.


"Heh, tolong panggilkan presiden direktur kantor ini karena aku ingin bertemu." Mickel mencolek lengan Rere.


Sementara Kristina yang mendengar ucapan Mickel hanya geleng-geleng kepala seraya menghela napas panjang.


"Kamu juga sama saja, mau menipu saya. Saya yakin, kamu telah bekerja sama dengan janda itu untuk mengelabui saya. Awas ya, kalian berdua! aku pastikan setelah aku berhasil bertemu dengan presiden direktur kantor ini, kalian berdua pasti di pecat secara tidak terhormat!" Mickel mendengus kesal seraya bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Silahkan saja anda mencari sampai pusing, pemilik perusahaan ini. Saya tidak takut sama ancaman anda." Tiba-tiba Rere berkata.


Namun Mickel hanya menoleh dan melirik sinis.


Seperginya Mickel, Rere dan Kristina terkekeh.


"Ada ya, orang seperti itu? sudah di jelasin masih saja nggak percaya." Rere terkekeh.


"Dari tadi, nggak percaya kalau aku pemilik kantor ini. Mungkin wajahku pantesnya jadi bawahan kali ya," Kristina terkekeh.


"Hhee bukannya tadi calon mertua yang kemarin kamu ceritakan?" Rere penasaran.


"Yups, betul sekali." Jawab Kristina seraya menanda tangani berkas yang di berikan oleh Rere.

__ADS_1


"Nyebelin juga ya, apa kamu sanggup meluluhkan hatinya?" Rere merasa tak yakin.


"Apa salahnya mencoba, anggap saja ini suatu perjuangan cinta." Kembali Kristina terkekeh.


"Hhhaaa perjuangan dan doa ya, Kristin." Rere tertawa ngakak lepas kontrol.


"Hust, jangan keras-keras. Yuk kita makan siang bareng." Kristina merapikan berkasnya.


"Siap, bos." Rere ikut bangkit berdiri.


Keduanya lekas melangkah keluar dan tak lupa Kristina mengunci ruang kerjanya.


"Tumben kamu nggak makan siang sama Alberto?" Rere menaik turunkan alisnya.


"Dia udah kasih kabar, lagi sibuk sama sekali nggak bisa keluar kantor." Jawab Kristina.


Situasi amarah masih saja menyelimuti hati Mickel. Dia masih saja belum percaya jika Kristina pemilik dua perusahaan terbesar di kota itu.


"Aneh, masa ada seorang presiden direktur percaya saja sama karyawannya. Membiarkan janda itu seenaknya di ruang kerja presiden direktur," gerutunya geram.


"Awas saja ya kamu, Kristin! kalau aku sudah ketemu presiden direktur yang sesungguhnya, kamu pasti habis. Dan hilanglah pekerjaanmu!" gerutunya kembali seraya mendengus kesal.


Mickel telah terkena hasutan Yesi sehingga belum juga percaya jika Kristina pemilik dua perusahaan terbesar tersebut.


Yesi mempunyai akal yang licik dan pandai memutar balikkan fakta seolah Kristina hanya seorang karyawan biasa dan berniat buruk pada Alberto.


"Aku yakin, Om Mickel tak kan pernah setuju dengan hubungan Albert dan Kristin. Aku juga nggak boleh bersantai, harus menjalankan aksi yang lebih jitu. Supaya aku cepat bisa menikah dengan Alberto," batin Yesi menyeringai sinis.


"Yesi, mau sampai kapan kamu nggak mendengarkan nasehat papah!" tiba-tiba Irwan datang dan membentak Yesi.


Yesi yang sedang melamun memikirkan cara untuk lekas bisa menikah dengan Alberto menjadi terlonjak kaget.


"Pah, kalau aku punya penyakit jantung pasti sudah dead. Apa papah nggak bisa bicara secara pelan?" Yesi mendengus kesal.


"Kamu itu sudah kelewat batas! untuk apa kamu menghasut Om Mickel dengan memfitnah Kristin!" Bentak Irwan kesal.


"Loh, aku nggak ngomong apa-apa ke Om Mickel!" bantah Yesi.


"Kamu nggak usah berkilah lagi, kamu malah semakin memperkeruh suasana dengan berkata buruk tentang Kristin ke Om Mickel. Dia barusan telpon papah dan bercerita semuanya!" kembali lagi Irwan membentak Yesi.

__ADS_1


******


Mohon maaf ka readers, jika karya belum sesuai keinginan kk readers semua..karena tahap belajar๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2