Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Penyelidikan


__ADS_3

Setelah dua hari berada di rumah sakit, akhirnya Kristina di perbolehkan untuk pulang.


"Titin, maafkan aku. Karena teledor sehingga ada yang mencelakaimu, aku sampai tak tahu. Boleh aku bertanya, apakah selama ini kamu punya musuh atau adakah orang yang kamu curigai?" Alberto menatap menyelidik pada Kristina.


"Seingatku orang yang membenciku dan selalu ingin menyingkirkanku cuma satu, yakni Om dan anaknya." Ucapnya yakin.


"Hem, selain itu apa ada yang lain?" kembali lagi Alberto bertanya.


"Sepertinya tidak ada, karena menurutku semua rekan bisnisku baik." Ucapnya kembali.


"Hem, baiklah. Mulai sekarang aku janji nggak akan teledor lagi dalam menjagamu dan anakmu," Alberto menyunggingkan senyum.


Alberto lelaki yang sangat dingin dan kaku serta tidak romantis. Namun sekali dia jatuh cinta tidak akan melepaskan cintanya. Setia pada satu wanita selamanya.


Alberto bukan tipe pria yang suka merayu, beda dengan Willdan yang suka tebar pesona pada setiap wanita.


Biar pun Alberto mencintai Kristina, namun dia tidak pernah merayunya. Dia tampil apa adanya.


"Ka Albe, terima kasih atas pertolongannya dan perhatiannya selama ini." Kristina tertunduk.


"Sama-sama, Titin. Sudahlah nggak usah sungkan, lebih baik kita cepat pulang karena Mila pasti sudah merindukanmu." Alberto merangkul Titin, karena kondisinya masih lemah.


"Aku sarankan, untuk sementara kamu jangan bekerja dulu. Kondisimu belum begitu pulih." Alberto mengusap kepala Kristina seperti pada adiknya sendiri.


"Iya, ka." Kristina tersenyum.


Keduanya melangkah berdampingan menuju ke mobil Alberto, dan Rony lekas melajukan mobilnya menuju apartement Kristina yang ada di puncak.


"Kamu nggak usah khawatir, karena aku telah menghubungi asistenmu Rere. Untuk menghandle semua urusan kantor," ucap Alberto.


Kristina hanya menyunggingkan senyum. Sementara Alberto akan mencari tahu tentang Melvin dan Sherlyn pada Rere.


Setelah sampai di apartement, Alberto langsung pamit pulang.


"Titin, jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu cape dulu, kalau ada apa-apa kabari aku. Kamu juga tak perlu kaget jika melihat banyak pria di sekeliling rumahmu. Mereka adalah anak buahku, yang kutugaskan berjaga-jaga di rumahmu. Aku pamit pulang," Alberto mengusap kepala Kristina.


Alberto lekas pulang namun dia telah berniat untuk menemui Rere di kantor Kristina tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


"Jalan, Ron. Kita ke kantor Titin." Perintahnya tegas.


"Baik, Tuan." Rony dengan cekatan melajukan mobilnya menuju perusahaan milik Kristina.


Hanya berapa menit saja, mereka telah sampai di kantor Kristina. Alberto melangkah menuju ruangan Rere, semua mata tak berkedip menatapnya.


Terutama para karyawati, bagaikan mereka terhipnotis.


"Silahkan duduk, Tuan. Bagaimana kondisi Kristina?" Rere menyudahi dalam mengecek berkasnya dan menghampiri Alberto, dia lekas duduk.


"Titin sudah baikan, namun dalam masa pemulihan. Untuk sementara, dia harus istirahst dulu karena masih lemas. Aku kemari ingin bertanya padamu, apakah kamu mengenal saudaranya Titin?" Alberto menyelidik.


"Jelas saya tahu sekali, Tuan. Namanya Sherlyn dan papahnya namanya Melvin. Dia yang telah membuat rumah tangga Kristin hancur. Dia selingkuh dengan Kristin saat Kristin sedang bersamaku di Luar Negeri untuk menjalani pengobatan," jawab Rere.


"Pengobatan? berarti Titin pernah sakit parah?" Alberto merasa heran.


"Kristin pernah mengalami kelumpuhan dan wajahnya cacat, itu pun karena dia menyelamatkan suaminya saat akan tertabrak sebuah mobil. Namun bukannya berterima kasih, malah saat Kristin berobat kaki dan operasi wajahnya. Malah suaminya main gila dengan Sherlyn." jawab Rere kembali.


"Hem, apa kamu punya foto Sherlyn dan Melvin serta mantan suaminya?" Alberto bertanya lagi.


"Ada, Tuan. Ini foto mereka," Rere menunjukkan beberapa foto di ponselnya pada Alberto.


Segera Rere mengirim semua foto Sherlyn, Melvin, serta Willdan ke ponsel Alberto.


"Terima kasih, kalau begitu aku pamit." Alberto bangkit dari duduk pergi begitu saja meninggalkan ruangan Rere.


"Hem, dasar lelaki kurang ajar! teganya menyakiti Titinku!" batin Alberto geram.


"Hem, foto Melvin dan Sherlyn. Sepertinya aku pernah bertemu mereka, tapi dimana ya?" Sejenak Alberto terdiam seraya terus berjalan menuju mobilnya dan mengingat dimana pernah berjumpa dengan Melvin dan Sherlyn.


Saat masuk dalam mobil, barulah Alberto ingat.


"Hem, Melvin dan Sherlyn pernah ke kantorku beberapa waktu lalu. Lihat saja, jika benar kalian yang telah mencelakai Titin, aku tidak akan mengampuni kalian. Aku akan selidiki ketiga orang ini, dari mantan suaminya dan saudara sepupu serta om Titin." Alberto menyeringai sinis.


"Ron, ada tugas untukmu. Kamu cari tahu dimana keberadaan pria ini." Alberto menunjukkan foto Willdan pada Rony.


"Tuan, sepertinya saya pernah melihat orang ini. Bahkan wajahnya tak asing lagi buat saya," tiba-tiba Rony berkata.

__ADS_1


"Dimana kamu bertemu dengannya?" Alberto menyelidik.


"Nah itu, Tuan. Kebetulan saya lupa, dimana pernah melihat orang itu." Rony menepuk jidat.


"Huh, sama saja bohong! coba kamu ingat kembali dimana kamu melihat pri ini?" Alberto menghela napas panjang.


"Baik, Tuan. Jika nanti saya telah mengingatnya pasti saya memberi tahu Tuan," kata Rony.


"Kalau bisa jalan terlalu lama mengingatnya, karena aku ada tugas lain lagi untukmu," kata Alberto.


"Baik, Tuan." Jawabnya singkat.


Alberto telah sampai di kantornya, namun pikirannya tertuju pada orang yang telah mencelakai Kristina terus.


"Aku kom belum tenang, kalau belum bisa menangkap orang yang telah mencelakai Titin." Alberto mendengus kesal.


Sementara Rony sibuk mencari tahu tentang Willdan.


"Dimana ya, aku pernah bertemu pria ini." Rony mengingat-ingatnya.


"Oh iya, sekarang aku ingat. Pria ini kan bekerja di kantor Tuan Alberto sebagai cleaning servis. Beberapa kali sempat aku minta tolong dia untuk membelikan makan siang." Rony tersenyum kegirangan dan lekas memencet nomor ponsel Alberto.


📱" Hallo, Tuan. Saya telah mengingat pria itu, dia bekerja di kantor Tuan sebagai cleaning servis." Kata Rony.


📱" Apa, kerja di sini? kok aku tidak pernah bertemu dengannya? baiklah terima kasih, Ron. Sekarang kamu cari tahu tentang Melvin dan anak gadisnya." Perintah Alberto.


📱" Baik, Tuan. Siap laksanakan." Telpon pun di matikan Rony.


"Hem, orang yang telah menyakiti Titin kerja di sini. Sialan, bagaimana aku ini? bisa tidak tahu sama sekali!" batin Alberto.


Segera Alberto menelpon ruangan bagian kepala kebersihan. Untuk meminta Willdan segera datang ke ruangan Alberto.


Willdan yang di minta datang ke ruangan presiden direktur, sudah percaya diri dahulu. Dia mengira akan di naikkan pangkatnya, bukan lagi jadi cleaning servis namun jadi pegawai kantor.


"Wah, tumben aku di minta menghadap ke ruangan presiden direktur. Mungkin dia tahu kalau sebelumnya aku ini seorang direktur sebuah perusahaan, sehingga akan mengangkatku menjadi direktur di kantor ini. Atau jadi karyawan kantor ini. Memang kalau di pikir, aku nggak pantas jadi seorang cleaning servis," batin Willdan seraya melangkah ke ruangan presiden direktur.


*****

__ADS_1


Mohon dukungan like, vote, favoritnya...


__ADS_2