
Sementara semua barang pemberian dari Willdan baik untuk Kristina dan Mila, diberikan oleh Kristina pada baby sitternya.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa hari ini adalah hari dimana Alberto kembali ke Indonesia.
"Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan Titinku sayang," Alberto tersenyum sendiri kala ingat wajah ayu Kristina.
"Pokoknya aku akan terus memojokkanmu untuk segera menikah denganku," kembali lagi Alberto tersenyum sendiri.
Alberto sengaja tak memberitahu pada Kristina akan kepulangannya ke Indonesia. Dia ingin memberikan surprise padanya.
********
Pagi hari menjelang, Willdan telah berdandan rapi karena mulai bekerja di kantor baru milik Yesi.
"Mah, aku berangkat ke kantor ya." Willdab berpamitan pada Mamah Elsa.
"Iya, nak. Bekerjalah yang rajin dan jujur supaya kelak kamu lekas punya perusahaan sendiri seperti dulu lagi," Mamah Elsa mengusap lengan Willdan seraya tersenyum.
Lekas Willdan melangkah menuju mobilnya, tapi dia telah berencana untuk tidak langsung ke kantor.
Karena sebelumnya Yesi telah memberi tahu jika hari ini Alberto kembali ke Indonesia.
Selagi Willdan asik mengemudikan mobilnya, tiba-tiba ponselnya berdering yang tak lain adalah dari Yesi.
📱" Hallo, ada apa Nona Yesi?"
📱" Kamu sedang ada dimana, kalau bisa lekas ke kantor Kristin. Dan segera lancarkan aksimu, karena menurut anak buahku saat ini Alberto telah sampai di Indonesia, dan sekarang dia sedang menuju ke kantor Kristin. Kamu harus gerak cepat, sebelum Alberto sampai, kamu harus sampai terlebih dulu."
📱" Siap, ini juga sebentar lagi akan sampai."
📱" Ya sudah, aku tutup telponnya. Rencanakan idemu sebagus mungkin dan buat Alberto cemburu kalau perlu salah paham jadi dia meninggalkan Kristin."
📱" Baiklah."
Setelah komunikasi sejenak lewat telpon, Willdan tancap gas supaya dia terlebih dulu sampai di kantor Kristina.
Hanya beberapa menit, dia telah sampai di kantor Kristina. Kebetulan Kristina juga baru sampai.
__ADS_1
"Kristin, tunggu sebentar." Willdan mencekal lengan Kristin saat Kristin akan melangkah meninggalkan mobilnya dan menuju kantor.
"Ada apa? aku mau kerja tolong jangan ganggu aku," Kristin mencoba menepis cekalan tangan Willdan, namun tak bisa karena begitu kencang cekalannya.
"Tolong lepaskan, lenganku sakit karena cekalanmu terlalu kencang." Kristin kembali lagi mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Willdan.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin ngobrol lima menit saja denganmu." Perlahan Willdan melepaskan cekalan tangannya.
Akhirnya Kristina menuruti kemauan Willdan dan menghentikan langkahnya.
"Kesempatan baik telah tiba, itu kan mobil Alberto. Saatnya aku beraksi." Willdan melirik mobil Alberto telah ada di parkiran.
"Aduh, tolong aku. Kristin, dadaku sakit sekali." Tiba-tiba Willdan menjatuhkan diri di pelukan Kristina.
"Mas, kamu kenapa? Mas, jangan seperti ini?" Kristina menepuk punggung Willdan dengan maksud menyadarkan Willdan yang pura-pura pingsan.
Pemandangan ini tak lepas dari penglihatan Alberto. Dia dari jauh melihat Kristina sedang berpelukan dengan Willdan, dan Kristina merespon pelukan Willdan dengan menepuk punggung Willdan.
"Sial, niat hatiku ingin membuat kejutan buatnya! malah aku yang telah di buat terkejut olehnya!" Alberto mengurungkan niatnya menemui Kristina, dia kembali masuk dalam mobil.
"Tuan, tidak jadi bertemu Nona Kristin?" Rony bertanya seraya melirik dari kaca spion.
Jika sedang seperti ini, Rony tak berani banyak bertanya. Karena bisa meledak amarah Alberto. Walaupun sebenarnya hati Rony ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Jika aku jadi Tuan, aku nggak akan lari. Tapi aku temui Nona Kristin dan menegur kebersamaannya dengan mantan suaminya. Biar menjadi jelas dan tidak berkepanjangan, kalau menurutku bisa jadi mantan suaminya yang masih terobsesi dengan Nona Kristin. Dan ingin mendapatkan cinta dari Nona Kristin kembali." Gerutu Rony di dalam hati.
"Hhaa, berhasil juga aktingku. Semoga kali ini aku berhasil memisahkan Kristin dari Alberto," batin Willdan menyeringai puas.
"Maaf, tadi tiba- tiba dadaku sakit sekali dan kepalaku pusing sekali. Selanjutnya aku tak tahu apa yang terjadi." Willdan perlahan melonggarkan badannya dari pelukan Kristina.
"Oh, ya sudah nggak apa-apa. Lebih baik kamu pulang saja, mas. Atau periksakan dadamu ke dokter, jadi tahu apakah ada penyakit yang serius atau tidak." Kristina tersenyum kecut dan melenggang pergi.
"Yes, usahaku berhasil. Makan tuh cemburu dan salah paham Alberto!" batin Willdan berbunga-bunga karena usahanya membuat salah paham Alberto telah berhasil.
Berbeda situasi dengan Alberto yang saat ini masih saja hatinya di liputi rasa cemburu buta.
"Tin, kejam sekali kamu padaku. Mungkin selama aku berada di Luar Negeri, kamu asik bersama mantan suamimu. Pantas saja kamu selalu banyak alasan saat aku ingin kita cepat meresmikan hubungan kita dengan sebuah mahligai pernikahan," batinnya kesal seraya mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
Tak berapa lama sampailah Alberto di mensionnya. Dia sempat kaget karena melihat ada mobil milik Yesi di depan pintu gerbangnya.
"Untuk apa lagi gadis manja ini kemari?" Alberto mendengus kesal.
Ternyata Yesi tidak sendiri tetapi bersama Papah Irwan.
"Sialan, dia mengajak papahnya. Bagaimana mungkin aku akan mengusirnya kalau ada Om Irwan," keluh kesah Alberto.
Namun sudah kepalang tanggung, Irwan dan Yesi telah melihat mobil Alberto. Jika tidak, Alberto berniat menghindar dari ayah dan anak ini.
"Om, apa kabar?" Alberto turun dari mobil dan menyalami Irwan, namun tidak dengan Yesi.
Alberto hanya tersenyum kecut pada Yesi.
"Lihat saja, Albert. Kini giliranku beraksi untuk membuat Kristin cemburu, seperti yang tadi di lakukan oleh Willdan padamu." Batin Yesi penuh dengan akal licik.
"Om, baik. Mendengar kamu telah kembali ke Indonesia jadi Om kemari, ingin sedikit ngobrol denganmu. Bisa kan, Albert?" Om Irwan menatap sendu Alberto.
"Bisa, Om. Yuk kita ngobrol di dalam saja, jangan di depan pintu gerbang seperti ini." Alberto melangkah masuk mension di ikuti oleh Irwan dan Yesi.
Mereka kini duduk di teras halaman rumah. Sejenak Alberto bercakap-cakap dengan Irwan. Sementara Yesi hanya menjadi pendengar setia.
"Baiklah, Om. Albert akan menerima tawaran dari om, dengan menjalin kerjasama di kantor cabang om yang baru." Albert berusaha tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu Om permisi dulu. Karena kantor cabang om saat ini di kelola Yesi, jadi silahkan kalian ngobrol saja dulu." Irwan pamit pulang dengan meninggalkan Yesi bersama dengan Alberto.
"Sial, kenapa pula Yesi nggak di bawa pulang sekalian," gerutu Alberto dalam hati.
Namun Alberto tak berani berkata langsung pada Irwan, hingga dia menyanggupi untuk ngobrol bersama Yesi.
Sebelum Irwan pergi, kebersamaan antara mereka telah ada yang memotretnya yakni anak buah Yesi.
Seperginya Irwan, Yesi melancarkan aksinya. Dia bangkit dari kursinya dan pura-pura akan terpeleset. Hingga secepat kilat Alberto menopang tubuh Yesi supaya tidak terjatuh.
Pada saat moment seperti itu, anak buah Yesi kembali memotretnya. Bahkan saat beberapa menit Yesi dan Alberto saling bertatapan.
********
__ADS_1
Mohon dukungan like,vote, favoritnya.